Eksotisme Candi Sumberawan, Miliki Mata Air yang Diyakini Mampu Sembuhkan Penyakit

May 07, 2022 19:18
Candi Sumberawan yang ada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)
Candi Sumberawan yang ada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Komplek Candi Sumberawan di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang menjadi tempat ibadah sejumlah agama dan kepercayaan.

Candi tersebut terletak kurang lebih lima kilometer dari pintu masuk Kabupaten Malang dari Kota Malang. Di kawasan tersebut terdapat dua mata air sungai dan sebuah candi di tengahnya serta ada serpihan bebatuan candi.

Juru Pelihara Candi Sumberawan, Dika Maulana menjelaskan, jika pada hari Waisak, umat Budha melakukan upacara keagamaan di sekitar taman di candi.

“Biasanya bertapa di sana. Umat Budha biasanya ada yang dari Kota Malang, Ngadas itu yang Budha Kejawen juga ada. Kalau Waisak digunakan untuk upacara bertapa dan berdoa begitu,” tutur Dika saat ditemui di lokasi.

Sementara untuk umat agama Hindu biasanya melakukan ibadah dengan memanfaatkan dua sumber mata air di sana. Dua sumber mata air itu bernama Sendang Kederajatan dan juga Amerta.

Untuk Sendang Kederajatan biasanya digunakan untuk mandi dan dipercaya mampu mengangkat derajat manusia. Sementara sumber mata air Amerta atau air keabadian dipercaya mampu memberi kesehatan bagi mereka yang cuci muka dan berkumur di sumber tersebut.

“Biasanya juga ada pejabat yang datang ke sini ke Sendang Kederajatan, bahkan kemarin ibu Kapolda ke sini jam 11.00-an tadi,” kata Dika.

Sendang Kederajatan yang ada di Candi Sumberawan (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

Sumber mata air tersebut kata Dika, berasal dari  bawah bangunan Candi Sumberawan dan dialirkan ke dua mata air itu. Konon katanya air sumber tersebut keluar karena kuatnya para petapa yang bertapa di dalam candi.

“Namanya Sumberawan itu berasal dari Sumber ini dan Rawan itu artinya rawa-rawa,” ucap Dika.

Sementara itu, umat Katolik, kata Dika, juga memanfaatkan sumber mata air Amerta untuk pembabtisan umatnya.

“Di sana kadang memang ada umat Katolik melakukan pembaptisan. Tapi hanya di mata air itu,” tutur Dika.

Sementara umat Islam ataupun Islam Kejawen kadang juga melakukan upacara spiritual saat malam 1 Suro. Dijelaskannya biasanya umat Islam melakukan ibadah tersebut di taman yang mengelilingi candi.

"Dan biasanya yang banyak itu (umat Islam datang) juga malam Jumat legi kadang berdoa di sini. Ada yang istighosah, kalau Islam Kejawen ada yang berdoa menurut keyakinannya,” ujar Dika.

Perlu diketahui, jika ingin ibadah sendiri di kompleks candi Sumberawan musti melakukan pemberitahuan ke juru pelihara. “Kan biasanya malam hari ibadahnya atau doa itu. Jadi kalau sampai malam sehari sebelumnya harus pemberitahuan terlebih dahulu,” tutur Dika.

Menurut kepercayaan beberapa petapa, kompleks Candi Sumberawan tersebut pun dirasa cocok untuk berdoa. Sebab, udara di sekitar candi cukup sejuk. Candi ini berada di kaki Gunung Arjuno dengan ketinggian 650 mdpl.

Di sekitar kompleks pun terdapat banyak pepohonan pinus dan aliran air sungai dari sumber mata air.

Salah satu pengunjung yang mencoba cuci muka di Amerta (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

Sejarah Candi Sumberawan

Candi Sumberawan ini merupakan satu-satunya candi Budha di Jawa Timur. Candi tersebut dibangun pada abad ke-14 pada masa kerajaan tersebut dipimpin Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk membangun Candi Sumberawan yang digunakannya untuk tempat peristirahatan sekaligus tempat berdoa kepada para dewa.

“Di sini Candi Sumberawan itu dibangun untuk tempat singgah Hayam Wuruk. Dan juga untuk beribadah ke para dewa,” kata Dika.

Sebelum menjadi candi di masa Kerajaan Majapahit, kompleks Candi Sumberawan digunakan sebagai tempat berkumpulnya putri dan permaisuri raja.

Dua sumber mata air itu pun sudah ada sebelum candi itu dibangun. Biasanya selain digunakan mandi para putri dan permaisuri, raja serta pejabat di era Kerajaan Singosari juga mandi di sumber mata air itu.

“Jadi ini dulu tempat widodari sebelumnya. Artinya buat mandi atau berkumpulnya para bidadari ya putri-putri atau permaisuri kerajaan,” tutur Dika.

Setelah masa-masa itu, candi tersebut pun tidak diketahui bahwa bangunan tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit, hingga tahun 1937. Kata Dika pada era penjajahan Belanda itu dilakukan pemugaran di sekitar candi. Waktu itu bangunan candi sudah diselimuti tanaman liar dan berdebu.

“Hingga oleh pemerintahan Belanda itu dipugar dibersihkan dan belum terbentuk seperti sekarang. Ada beberapa yang tercecer serpihan batu candinya,” ujar Dika.

Candi yang terlihat saat ini pun bukanlah bentuk asli seperti abad ke-14 tahun lalu. Pemugaran sempat dilakukan di beberapa bagian candi seperti kaki candi. “Dan tidak ada cakranya. Sebenarnya di atas itu ada cakranya. Tapi memang saat ditemukan, cakranya sudah nggak ada,” ungkap Dika.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Candi SumberawanKabupaten Malangbandara internasional juanda

Berita Lainnya

Berita

Terbaru