Sejuk dan Mistisnya Makam Pangeran Sambernyawa, Pendiri Puro Mangkunegaran yang 250 Kali Bertempur Tanpa Kalah Melawan Belanda

Apr 01, 2022 05:37
Pewarta JATIMTIMES saat berada di gapura pintu masuk Makam Pangeran Sambernyawa di Astana Mangadeg. (Foto: Dokumentasi JatimTIMES).
Pewarta JATIMTIMES saat berada di gapura pintu masuk Makam Pangeran Sambernyawa di Astana Mangadeg. (Foto: Dokumentasi JatimTIMES).

JATIMTIMES - Solo Raya sebagai bagian dari bekas kekuasaan Mataram Islam menyimpan banyak makam-makam keramat. Salah satunya adalah makam Adipati Mangkunegara I atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Sambernyawa.

Selain dikenal sebagai pendiri Puro Mangkunegaran, Pangeran Sambernyawa juga adalah tokoh dari Dinasti Mataram Islam yang gigih melawan penjajah Belanda.  Setelah wafat Pangeran Sambernyawa dimakamkan di Astana Mangadeg yang terletak di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar,  Provinsi Jawa Tengah.

Saat berada di Kabupaten Karanganyar belum lama ini, pewarta JATIMTIMES meluangkan waktu berziarah ke makam Pangeran Sambernyawa di Astana Mangadeg yang berada tepat di lereng Gunung Lawu. Berada di ketinggian sekitar 750 meter, tempat ini memiliki udara yang sejuk. Tempat ini dikelilingi pepohonan rimbun yang asri dan alami.

Selain Mangkunegara I, di Astana Mengadeg juga bersemayam jasad Mangkunegara II dan Mangkunegara III. Terdapat juga makam kerabat-kerabat Puro Mangkunegaran yang membantu perjuangan Pangeran Sambernyawa melawan VOC dan kemudian mendirikan Kadipaten Mangkunegaran.

Selama hidupnya Pangeran Sambernyawa dikenal sakti luar biasa dan sulit dikalahkan. Belanda bahkan kewalahan menghadapi Adipati pertama Kadipaten Mangkunegaran yang bernama asli Raden Mas Said ini.

‘’Eyang Pangeran Sambernyawa ini adalah putra dari Pangeran Arya Mangkunegara dari Karaton Kasunanan Kartasura. Eyang Sambernyawa gigih berperang melawan penjajah Belanda. Bukit Mangadeg ini dulu adalah tempat pertapaannya. Beliau berperang melawan Belanda selama 16 tahun,’’ kata Pak Loso selaku Abdi Dalem Juru Pelihara Astana Mangadeg kepada JATIMTIMES.

Kebersihan Astana Mangadeg cukup terjaga. Jalurnya yang berkelok-kelol tertata rapi yang membuat peziarah tidak terlalu kesulitan menuju area makam. Hanya saja dibutuhkan tenaga ekstra untuk mencapai pemakaman Adipati pertama Mangkunegaran ini. Tidak sedikit peziarah yang ngos-ngosan karena jalur yang dilalui cukup menanjak.

Di beberapa titik pemakaman terdapat arca serta gapura. Termasuk adanya sebuah tugu perjalanan dan petilasan tepat pertapaan Pangeran Sambernyawa. Di kompleks utama pemakaman terdapat tiga makam utama yakni Mangkunegara I, Mangkunegara II dan Mangkunegara III.

‘’Yang dimakamkan disini Eyang Mangkunegara I, II dan III. Sedang Eyang Mangkuenagara IV, V, VII, VIII dan IX di Astana Girilayu.  Eyang Mangkunegara VI dimakamkan di Astana Oetara di Kota Solo,’’ terang Pak Loso.

Pak Loso menjelaskan, ada tata tertib yang harus dipatuhi oleh peziarah. Untuk kaum perempuan diwajibkan mengenakan kain jarik saat memasuki kompleks makam. Sementara peziarah laki-laki dapat memasuki areal pemakaman asal mengenakan pakaian sopan.

‘’Selain busana untuk peziarah juga diwajibkan untuk salam sesuai dengan adat Jawa saat memasuki area makam,’’ terangnya.

Lebih dalam Pak Loso menyampaikan, Astana Mangadeg sudah dibangun sejak wafatnya Pangeran Sambernyawa pada 1795. Sampai saat ini, bangunan makam tetap utuh. Hanya bagian atap saja yang pernah direnovasi sebanyak 3 kali.

‘’Yang membangun bangunan tambahan ini dulu adalah Presiden Soeharto. Perhatian ini karena istri Pak Harto yakni Bu Tien masih trah Mangkunegaran,’’paparnya.

Selain Astana Girilayu, dibawah Astana Mangadeg juga terdapat Astana Giribangun yang merupakan tempat dimakamkannya Presiden RI kedua HM Soeharto. Letak ketiga kompleks makam ini jaraknya tidak terlalu jauh.

Pangeran Sambernyawa berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752.

Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, sebagai hasil rekayasa Belanda berhasil membelah bumi Mataram menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Sambernyawa menentang keras perjanjian ini karena dirinya melihat perjanjian ini bakal memecah belah rakyat Mataram.

Semangat perjuangan Pangeran Sambernyawa tidak kendor. Dia kemudian seorang diri memimpin perang  melawan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi (Hamengkuwono I) adalah mertua sekaligus paman dari Pangeran Sambernyawa. Dalam perang ini Pangeran Sambernyawa memandang Pangeran Mangkubumi berkhianat dan dirajakan oleh VOC. Selama kurun waktu 16 tahun, Laskar Pangeran Sambernyawa melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.

Pangeran Sambernyawa dan laskar yang dipimpinnya tak terkalahkan dalam perang. Melihat kenyataan tersebut, Gubernur Jenderal VOC di Semarang Nicholas Hartingh, Raja Kasunanan Suakarta Sunan Paku Buwono III untuk membawa Pangeran Sembernyawa ke meja perdamaian.

Sunan Pakubuwono III kemudian mengirimkan utusan untuk menemui Pangeran Sambernyawa yang masih sepupunya. Gayung bersambut, Pangeran Sambernyawa  menyatakan bersedia berunding dengan Sunan Pakubowo III dengan syarat tidak melibatkan VOC. Pangeran Sambernyawa kemudian menemui Sunan Pakubowono III di Karaton Kasunanan Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Dalam pertemuan tersebut Pakubuwono III memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk pasukan Pangeran Sambernyawa.

Perdamaian yang diharapkan oleh VOC kemudian terwujud.Perdamaian tersebut diformalkan Sunan Pakubuwono III dengan Pangeran Sambernyawa dalam perjanjian Salatiga Pada 17 Maret 1757. Pertemuan berlangsung di Desa Jemblung, Kabupaten Wonogiri.Perjanjian tersebut hanya melibatkan Sunan Paku Buwono III dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I dan VOC.

Perjanjian Salatiga menyepakati Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri. Walaupun hanya sebagai adipati, kedudukan hukum mengenai Mangkunegara I (nama kebesarannya), tidaklah sama dengan Sunan yang disebut sebagai Leenman sebagai penggaduh, peminjam kekuasaan dari Kumpeni. Melainkan secara sadar sejak dini ia menyadari sebagai "raja kecil", bahkan tingkah lakunyapun menyiratkan bahwa "dia adalah raja di Jawa Tengah yang ke-3". Belanda kemudian memperlakukan Mangkunegara I dan penerusnya sebagai raja ke III di Jawa selain Raja I Sunan dari Kasunanan Surakarta dan Raja II Sultan dari Kasultanan Yogyakarta.

Wilayah kekuasaan Mangkunegara I meliputi wilayah Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Mangkunegara I kemudian mendirikan istana pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunegaran. Lokasi istana ini berada di utara Jalan Slamet Riadi Kota Solo dan menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kota Bengawan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
makam keramatastana mangadegwajah bersisikWisata sejarah

Berita Lainnya

Berita

Terbaru