JATIMTIMES - Rara Istiati Wulandari atau yang akrab disapa Mbak Rara menjadi sorotan pada MotoGP Mandalika karena dianggap sukses untuk mencegah hujan. Tapi aksinya tersebut juga mendapatkan sorotan dari 'orang sakti' Bali, Jro Paksi Penyumbu Ring Perepan Sari.
MotoGP Mandalika sempat tertunda kurang lebih 75 menit karena hujan lebat dan petir. Namun balapan tetap berjalan lancar dengan Miguel Oliveira keluar sebagai juara, disusul podium kedua yang ditempati Fabio Quartararo dan podium ketiga diraih Johann Zarco.
Pawang hujan asal Bali berdarah Jawa kelahiran Papua ini menjadi bahan pembicaraan banyak orang setelah aksinya memindahkan hujan di atas langit Sirkuit Mandalika. Dari situ, sebagian pihak memuji aksi Mbak Rara, sebagai bentuk totalitasnya dalam mengupayakan agar hujan tidak terus mengguyur arena sirkuit. Namun, banyak pula yang mencibir.
Salah satunya Jro Paksi Penyumbu Ring Perepan Sari yang mempertanyakan aksi Mbak Rara menunjukkan ‘kelebihannya’ memindahkan hujan di depan banyak orang.
Dikutip JPNN, Jro Paksi memberikan 3 peringatan untuk Mbak Rara. Peringatan tersebut diantaranya adalah
1. Kode Etik Pawang Hujan
Menurut Jro Paksi, kode etik yang wajib dipegang pawang hujan sejatinya lebih utama untuk membantu kegiatan keagamaan atau manusia yadnya.
“Semua yang berpacu di Mandalika adalah kuda besi, logikanya tak perlu ada pawang hujan, mereka sudah tahu ban motor apa yang harus dipakai saat hujan atau panas,” tutur Jro Paksi.
2. Tidak Boleh Terima Bayaran
Pawang hujan juga tidak boleh menerima suatu pekerjaan karena mengejar bayaran semata. Ada tugas mulia lainnya yang harus dijunjung tinggi oleh seorang pawang hujan.
3. Bukan Ajang Pamer Kesaktian
Menurut Jro Paksi, keahlian mengendalikan hujan dan panas bukan untuk dipamerkan ke orang lain.
“Maaf saya tidak tahu saya sakti atau tidak, tetapi teknologi kekinian jauh jadi faktor utama dalam sebuah kegiatan atau tujuan,” papar Jro Paksi.
Aksi pamer ini juga untuk menghindari jika gagal dalam menjalankan tugasnya, semisal hujan masih turun. “Apapun ritualnya, itu usaha seorang pawang mengendalikan hujan, tetapi harga diri jadi turun kalau hujan tetap turun,” bebernya.
Jro Paksi lalu memberikan saran agar ajang berkelas semacam MotoGP tidak perlu menggunakan jasa pawang hujan. “Sebuah ajang dunia yang ditonton jutaan mata penggemar, MotoGP tetap melaju walau saat hujan atau panas,” jelas Jro Paksi Penyumbu.
