Jangan Sembarangan Gerus Obat Sebelum Dikonsumsi, Ini Kata Apoteker RSI Unisma

Feb 18, 2022 20:16
Apoteker Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang, Rona Rihadah (Ist)
Apoteker Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang, Rona Rihadah (Ist)

JATIMTIMES - Beberapa kalangan masyarakat, masih seringkali dijumpai mengalami masalah dalam penggunaan obat. Hal tersebut lantaran kurangnya pemahaman tentang penggunaan dan manfaat obat yang tepat dan rasional. Bahkan terkadang, penggunaan obat bebas secara berlebihan juga masih ditemui karena kurangnya pemahaman tentang obat. 

Bicara mengenai cara mengkonsumsi obat, terkadang ada juga masyarakat yang selalu menggerus obat sebelum meminumnya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan seseorang meminum obat tersebut. Akan tetapi, tahukah anda?, jika tidak semua obat mempunyai manfaat yang optimal jika digerus. 

Ya, hal ini adalah fakta. Apoteker Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang, Rona Rihadah, membenarkan hal tersebut. Dijelaskannya, jika tidak semua jenis obat bisa digerus. Terdapat beberapa jenis obat yang dalam penggunaannya memang tidak boleh digerus.

Hal ini disebabkan karena formulasi setiap obat berbeda. Misalnya obat yang ditunjukkan untuk diserap di usus, tidak boleh digerus. Obat tersebut akan dilapisi suatu lapisan khusus yang membuatnya tidak akan pecah di lambung, sehingga bisa pecah di usus.

"Kita tidak boleh sembarangan untuk menggerus obat," ungkapnya.

1

Kemudian, banyak juga yang menganggap, jika antibiotik merupakan obat segala macam penyakit. Hal tersebut dibantah Apoteker RSI Unisma. Dijelaskannya, jika antibiotik digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sedangkan tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri. 

Pengunaan antibiotik yang sembarangan justru akan menyebabkan resistensi antibiotik atau kuman di dalam tubuh malah menjadi kebal terhadap obat-obatan tersebut. "Pengunaan antibiotik perlu dikonsultasikan dengan dokter," jelasnya.

Bukan hanya itu saja, masih banyak dijumpai masyarakat yang bingung apakah bisa langsung menghentikan konsumsi obat ketika sudah tak merasa sakit. Menurut Apoteker RSI Unisma, hal tersebut hanya berlaku untuk  obat Simptomatik, atau obat untuk meredakan gejala penyakit.

Contoh obat ini adalah, obat untuk meredakan gejala nyeri, demam, serta flu dan batuk. Obat ini dapat dihentikan penggunaannya, jika gejala sudah tidak ada lagi. Namun, untuk antibiotik tidak boleh langsung dihentikan penggunaannya. Hal ini dikarenakan bisa menimbulkan resistensi antibiotik, sehingga dalam penggunaan harus dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu sesuai anjuran dokter.

"Sedangkan untuk obat-obatan seperti penyakit kronis, diabetes melitus, hipertensi, maupun stroke, juga tak bisa dihentikan mendadak pengobatannya, ditakutkan hal ini bisa memperburuk penyakit," jelasnya.

Selain itu, terkadang ada juga masyarakat yang menganggap menggunakan lebih banyak jenis obat akan mempercepat kesembuhan. Hal ini merupakan mitos. Dijelaskan jika penggunaan obat harus disesuaikan dengan kondisi penyakit pasien dan sesuai saran dari dokter.

Pengunaan obat yang berlebih tidaklah baik, apalagi tidak sesuai indikasi dan terjadi duplikasi obat. Hal ini beresiko terjadi interaksi antara obat dan bisa menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki.

Dalam mengkonsumsi obat, ada yang beranggapan boleh meminum dengan jenis minuman apapun. Dijelaskan Rona Rihadah, jika tidak semua obat tablet dapat diminum selain minuman dengan air putih. Hal ini disebabkan, karena beberapa obat dapat berinteraksi dengan minuman seperti halnya susu, jus buah, minuman bersoda, teh maupun kopi yang dapat menurunkan efektivitas obat.

"Minuman yang paling direkomendasikan untuk minum obat adalah air putih," jelasnya.

Sementara itu, Rona juga membahas seorang wanita hamil, haruslah benar-benar menjaga kondisi kesehatannya. Hal ini tentunya untuk turut menjaga kondisi bayi yang ada dalam kandungan. Pemenuhan gizi yang tepat, serta menghindari penggunaan obat yang tak sembarangan menjadi hal penting yang harus diperhatikan.

Dampak yang ditimbulkan pun bisa sangat mengkhawatirkan jika mengkonsumsi obat sembarangan, mulai dari kecacatan dari bayi, sampai pada keguguran. Karenanya, dalam penggunaan atau konsumsi obat untuk ibu hamil, perlu dilakukan konsultasi pengunaan obat selama kehamilan oleh tim dokter ataupun apoteker.

"Ini disebabkan, karena beberapa obat dapat menembus ke plasenta janin dari ibu hamil dan bisa menimbulkan efek samping untuk si jabang bayi ibu tersebut," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
cara tepat konsumsi obatcara konsumsi obatkonsumsi obat yang benarRSI UnismaApoteker RSI UnismaUnismaBerita MalangBerita Jatim

Berita Lainnya

Berita

Terbaru