Menilik Patung Dewa Bumi Tertua yang Ada di Klenteng Eng An Kiong Malang

Feb 01, 2022 11:06
Wujud Patung Dewa Bumi tertua yang berada di Klenteng Eng An Kiong Malang. (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Wujud Patung Dewa Bumi tertua yang berada di Klenteng Eng An Kiong Malang. (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Klenteng Eng An Kiong yang berlokasi di Jalan RE Martadinata Nomor 1 Kota Malang menyimpan banyak cerita sejarah di dalamnya. Nama Eng An Kiong sendiri memiliki makna istana keselamatan dalam keabadian Tuhan atas persembahan kepada Dewa Bumi. 

Dari banyaknya patung di Klenteng Eng An Kiong, terdapat salah satu patung yang menarik perhatian dan berada di altar utama yakni patung Dewa Bumi atau Fu Tek Cen Sen. Patung Dewa Bumi tersebut merupakan payung tertua yang ada di Klenteng Eng An Kiong.

Wakil Ketua Yayasan Klenteng Eng An Kiong Herman Subianto mengatakan, menurut catatan sejarah patung Dewa Bumi tersebut diperkirakan sudah ada sebelum bangunan Klenteng Eng An Kiong diresmikan pada 1825 Masehi. 

"Menurut cerita, patung Dewa Bumi ini dibawa oleh seseorang pedagang yang tidak diketahui namanya dari Hokkian, Cina," ungkap Herman kepada JatimTIMES.com. 

Patung lebih dekat.

Di mana, dalam proses dibawanya patung Dewa Bumi yang berukuran terbilang kecil dan terbuat dari kayu oleh pedagang dari Hokkian Cina tersebut harus berlayar mengarungi lautan samudera selama berbulan-bulan. 

Berbagai rintangan dan terjangan ombak besar berhasil dilalui dengan penuh perjuangan. Hingga akhirnya, pedagang tersebut bersama patung Dewa Bumi yang dibawanya sampai di daratan Kota Malang dalam kondisi selamat. 

"Setelah sampai di Kota Malang, patung Dewa Bumi yang disebut sebagai penyelamatnya itu diletakkan dan disembahyangi sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang diberikan," ujar Herman.

Kemudian, pedagang tersebut meletakkan patung Dewa Bumi di sebuah lokasi perumahan yang dulunya bisa dibilang elit. Melihat seorang pedagang dari Hokkian Cina yang melakukan sembahyang di lokasi Dewa Bumi tersebut diletakkan, masyarakat di sekitar perumahan pun ikut dalam proses sembahyang. 

"Dewa Bumi ini termasuk sastrawan yang bisa memberikan ketenangan hati, usaha lancar, terhindar malapetaka. Dewa Bumi tahu tentang pengobatan, dapat terhindar dari segala macam penyakit dan bencana alam," jelas Herman.

Lokasi tersebut menjadi tempat peribadatan kecil bagi umat beragama Khong Hu Cu, Tao dan Buddha. Setelah berlangsung beberapa tahun, tempat peribadatan tersebut terus diperluas untuk menampung banyaknya umat dari tiga agama yang akan sembahyang. Umat dari tiga agama tersebut biasa disebut sebagai Tridharma. 

Mengganti pakaian patung.

Setelah jumlah umat Tridharma semakin banyak yang melakukan sembahyang di tempat peribadatan tersebut, akhirnya bangunan tersebut diberi nama Klenteng Eng An Kiong dan diresmikan pada 1825 Masehi. 

Sementara itu, menjelang perayaan Imlek patung-patung yang berada di Klenteng Eng An Kiong semuanya dibersihkan dengan dibasuh air bunga tujuh rupa dan menggunakan sebuah kuas khusus. Termasuk patung Dewa Bumi yang merupakan patung tertua di Klenteng Eng An Kiong. 

Proses pembersihan patung-patung merupakan salah satu rangkaian ritual yang dinamakan Sung Sien atau menghantarkan para dewa kembali ke Tuhan Yang Maha Esa untuk melaporkan aktivitas insani atau manusia.

Sebagai informasi, momentum perayaan Imlek 2573 atau di tahun 2022 ini memiliki simbol shio Macan Air. Herman mengatakan, dengan simbol shio Macan Air ini pihaknya berharap agar di 2022 ini semua umat terhindar dari bencana, malapetaka dan dilancarkan rejekinya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
klenteng Eng An Kiongpatung dewa bumisejarah patung dewa bumi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru