JATIMTIMES - Warga Thailand kini memilih mengonsumsi daging buaya. Hal itu terjadi karena harga daging babi yang mahal.
Harga 1 kilogram daging buaya dibanderol sekitar US$2 (Rp28 ribu). Sebagai perbandingan, harga daging buaya itu lebih murah daripada harga babi di pasaran yakni US$6 (Rp86 ribu) per kilo.
Selain itu, daging buaya juga dinilai bisa memenuhi kebutuhan protein masyarakat karena kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan daging babi.
Dilansir melalui South China Morning Post, Wichai Rungtaweechai seorang pedagang daging di Thailand mengaku mendapatkan banyak pesanan daging buaya di saat harga daging babi naik seperti saat ini.
"Awalnya saya tidak tahu bagaimana menangani permintaan. Restoran dan pedagang daging meminta daging buaya dalam jumlah besar dikirim ke mereka," kata Rungtaweechai.
"Sementara pelanggan lain yang ingin mencoba daging buaya memesan untuk dibawa pulang," tutur Rungtaweechai.
Untuk diketahui, kenaikan harga daging babi ini dipicu karena penyebaran flu babi di Thailand. Bahkan, raturan ribu babi di negara itu harus dimusnahkan karena virus tersebut.
Akibat flu babi, stok babi di Eropa dan Asia pun berkurang. Sementara, Kamboja dan Taiwan melarang impor babi dari Bangkok.
Selain flu babi, Thailand berpotensi mengalami lonjakan harga daging babi saat menyambut Hari Raya Imlek yang jatuh pada 1 Februari 2022 mendatang.
Direktur Jenderal Kementerian Perdagangan Dalam Negeri Thailand (DIT), Wattanasak Sur-iam mengatakan pemerintah mematok kisaran harga daging babi agar tidak melambung. Menurutnya, pemerintah meminta pedagang untuk menjaga harga daging babi tetap stabil di angka 100 baht (Rp 43 ribu) hingga 110 baht (Rp 47 ribu) per kilogram.
DIT juga membatasi harga babi eceran berkisar dari 205-210 baht (Rp 88-90 ribu) per kilogram.
Lebih lanjut, Wattanasak menuturkan penjual yang tidak memasang label harga produk atau yang menaikkan harga 'terlalu tinggi' akan didenda.
Untuk memastikan imbauan tersebut, Wattanasak meminta warga yang menemukan harga babi tidak wajar untuk segera lapor ke badan tersebut lewat hotline 1569.
Menanggapi pilihan warga untuk mengonsumsi daging buaya, pemerintah Thailand mendukung pilihan masyarakat. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Thailand, Suwannachai Wattanayingcharoenchai mengatakan daging buaya juga mengandung banyak protein.
Namun, ia mengingatkan daging buaya harus dimasak dengan benar agar terhindar dari kontaminasi bakteri. Ia juga menuturkan warga harus mencuci tangan dan peralatan secara rutin sebelum memasak daging buaya.
Masyarakat juga tak dianjurkan memakan daging buaya setengah matang. Salah satu penyebabnya yakni buaya berpotensi memiliki bakteri salmonella yang bisa menyebabkan penyakit pada sistem pencernaan.
Dua hal itu perlu diperhatikan untuk mendapatkan daging buaya berkualitas, yakni memiliki warna natural dan tak mempunyai bau menyengat.
Kemudian, daging buaya juga harus dicuci bersih sebelum dimasukkan ke mesin pembeku. Makanan itu juga harus dibalut dengan kertas perkamen yang dilapisi minyak sayur agar tidak cepat basi.
Sebagai informasi, daging buaya bisa bertahan hingga 10-12 bulan di suhu -24 derajat hingga -18 derajat celcius. Di suhu -12 derajat hingga -8 derajat celcius, daging ini bisa digunakan untuk 2 hingga 4 bulan.
