Fenomena Pesugihan Gunung Kawi, PCNU Kabupaten Malang Angkat Bicara

Jan 07, 2022 20:04
Salah satu spot ziarah di Gunung Kawi (foto: istimewa)
Salah satu spot ziarah di Gunung Kawi (foto: istimewa)

JATIMTIMES - Fenomena pesugihan yang ada di Gunung Kawi, Kabupaten Malang nampaknya membuat PCNU Kabupaten Malang angkat bicara. Melalui Ketua PCNU Kabupaten Malang KH Muhammad Hamim Kholili atau yang akrab disapa Gus Hamim menjelaskan, memang secara agama pesugihan sangat jelas dilarang. Namun pihaknya juga tidak bisa langsung menyalahkan sebagian orang yang masih mempercayai hal tersebut.

“Kalau secara agama kan memang tidak boleh, tapi sebagian masyarakat masih mempercayai. Di satu sisi kita kan juga tidak memaksakan,” kata Gus Hamim, Jum'at (7/1/2022).

Disinggung bagaimana pandangan PCNU Kabupaten Malang terkait makam yang ada di Gunung Kawi, Gus Hamim mengaku bahwa bagi masyarakat NU makam bukanlah hal asing. Sebab, mereka kerap berziarah dan tawasul kepada leluhur.

“Kalau pesarean itu masyarakat NU kan sudah biasa bertawasul dengan orang soleh, itu biasa kita lakukan. Jika ada penyimpangan, misalnya menuhankan benda, itu yang tidak benar. Bagaimana pun Allah Tuhan kita,” ungkap Gus Hamim.

Dari situ, Gus Hamim mengaku saat ini pihaknya telah sedikit demi sedikit memasuki kawasan Gunung Kawi dengan dakwah. Hal itu agar kepercayaan masyarakat tentang pesugihan luntur dengan perlahan.

“Saat ini di sana sudah kami masuki dengan lembaga Dakwah NU, dan sudah ada kegiatan pengajian hingga istigasah. Kalau tidak salah dua tahun lalu atau setahun yang lalu. Masyarakat di sana juga welcome dengan kegiatan keagamaan yang seperti itu,” terang Gus Hamim.

Namun dalam hal ini Gus Hamim mengaku tetap moderat saat menjalankan dakwahnya. Sebab, pihaknya tidak ingin ada orang tersakiti dengan adanya dakwah.

“Kalau NU kan dalam berdakwah sifatnya kan moderat. Jadi kami tidak melakukan pendekatan secara kasar atau mengkafirkan orang. Malah dakwah kita nanti tidak bisa diterima oleh orang. Kami berusaha dengan kegiatan yang masuk ke sana, agar ada perubahan yang signifikan sesuai ajaran syariah Islam,” imbuh Gus Hamim.

Pengasuh Pondok Pesantren Radlatul Ulum II, Putukrejo, Gondanglegi itu meminta kepada wisatawan lokal Malang maupun luar kota agar tidak mempercayai adanya praktik pesugihan di Gunung Kawi. Ia meminta kepada masyarakat agar lebih mengutamakan bekerja ketimbang mempercayai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Marilah kita dalam mencari kekayaan bagaimana pun dengan berusaha. Artinya usaha dan doa, doanya yang meminta kepada Allah SWT. Tawasul dengan para wali dan para guru, itu kan sebagai alat, tapi doa kita kepada Allah dan untuk memperlancar rejeki ya berusaha,” pesan Gus Hamim.

Seperti diketahui, di Gunung Kawi terdapat satu pemakaman Kanjeng Kyai Zakaria II yang menjadi penasihat spiritual Pangeran Diponegoro mengganti namanya menjadi Eyang Soedjoego atau Eyang Djoego.

Sedikit mengulik sejarahnya, Eyang Djoego mengungsi ke timur melewati berbagai tempat seperti Pati, Bagelen, Tuban, Kepanjen, hingga akhirnya tiba di Desa Jugo, Kesamben, Blitar sekitar tahun 1840. Ia mendiami suatu dusun yang selanjutnya dikenal sebagai Dusun Jugo (Djoego).

Sekitar satu dekade pertama, Eyang Djoego membuka padepokan dan menerima murid yang salah satu diantaranya menjadi putera angkatnya, yaitu Raden Mas Jonet atau Raden Mas Iman Soedjono (Eyang Soedjo) yang merupakan salah satu senapati Pangeran Diponegoro. Pada dekade kedua, Ki Moeridun dari Warungasem, Pekalongan datang menjadi murid R.M. Iman Soedjono.

Eyang Djoego kemudian memerintahkan R.M. Iman Soedjono dan Ki Moeridun untuk membuka hutan di sebelah selatan gunung Kawi berpesan bahwa ia ingin dimakamkan di sana. Ia juga meramalkan bahwa desa yang akan dibuka tersebut akan ramai serta menjadi tempat pengungsian. Murid-murid Eyang Djoego yang berangkat berjumlah sekitar 40 orang yang diantaranya beretnis  tionghoa.

Topik
ahmad ramadhanPCNU Kabupaten Malangopini Lukman Ahmad Irfan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru