Mengenal Taman Edelweiss, Tempat Budidaya Tiga Jenis Bunga 'Abadi' Edelweiss

Nov 27, 2021 19:03
Pintu masuk Taman Edelweiss Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Pintu masuk Taman Edelweiss Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Taman Edelweiss yang terletak di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, merupakan satu-satunya tempat budidaya tiga jenis bunga edelweiss di wilayah penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). 

Tiga jenis Bunga Edelweiss tersebut yakni Anaphalis Javanica atau Edelweiss Jawa yang memiliki ciri-ciri daun yang kecil dan tanaman yang sedikit tinggi. Kemudian Anaphalis Longifolia yang memiliki ciri-ciri daun yang lebar dan tanaman yang agak pendek. 

Lalu jenis Anaphalis Viscida yang memiliki ciri-ciri daun lebih hijau rimbun dan jika dipegang terdapat getah pada daun tersebut. 

Proses budidaya ketiga jenis bunga edelweiss tersebut berdiri di atas lahan seluas 1.196 meter persegi yang merupakan tanah kas desa. 

Papan nama Bunga Edelweiss.

Ketua Kelompok Tani Hulun Hyang, Teguh Wibowo, mengatakan bahwa kawasan Taman Wisata Edelweiss dan Kelompok Tani Hulun Hyang dirintis sejak tahun 2017 dan secara resmi mendapatkan izin hukum resmi budidaya bunga edelweiss dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) pada tahun 2018. 

Teguh menyampaikan, adanya tempat budidaya ini untuk menjaga bunga edelweiss. Pasalnya, sebelum ada Taman Edelweiss ini, masyarakat Suku Tengger secara bebas memetik bunga edelweiss untuk digunakan upacara adat seperti Yadnya Kasada dan Yadnya Karo  tanpa ada pelestarian lanjutan. 

"Bunga edelweiss ini dikembangkan agar masyarakat tidak mengambil di gunung, karena bunga edelweiss tidak hanya untuk dilindungi. Tetapi bunga edelweiss ini sarana upacara bagi warga Suku Tengger," ungkap Teguh kepada JatimTIMES.com. 

Bunga Edelweiss Jawa.

Dalam proses upacara-upacara adat Suku Tengger, minimal satu keluarga membutuhkan satu tangkai edelweiss. Maka dari itu, keberadaan tempat budidaya ini sangat diperlukan untuk pelestarian edelweiss agar tidak dipetik secara bebas. 

"Untuk warga Suku Tengger,  kami persilakan untuk meminta edelweiss di tempat pembibitan secara gratis. Warga juga mulai sadar akan pelestarian edelweiss dengan menanam benih edelweiss di rumahnya masing-masing," terang Teguh.

Lebih lanjut, pekerja di Taman Edelweiss mulanya hanya dikelola oleh tujuh orang. Namun dalam perkembangannya, jumlahnya terus bertambah dan saat ini dikelola oleh 30 orang. Ke-30 orang pekerja tersebu  terdiri dari 18 pekerja laki-laki dan 12 pekerja perempuan. 

"Tugasnya melakukan pembibitan, merawat tanaman, memanen edelweiss, mengelola Kafe Taman Edelweiss hingga membuat kerajinan suvenir dari edelweiss," ujar Teguh. 

Dari awal terbentuk hingga saat ini, Taman Edelweiss memang dikhususkan untuk proses budidaya edelweiss. Namun, seiring berjalannya waktu, Taman Edelweiss mulai dibuka untuk wisata edukasi. Para wisatawan dikenalkan mulai dari proses pembibitan, perawatan hingga pelestarian. 

"Jadi kita disini menerapkan konsep wisata edukasi, agar wisatawan kesini tidak hanya berfoto-foto maupun menikmati sajian makanan dan minuman di kafe, namun juga dapat memahami proses pelestarian edelweiss," tutur Teguh.   

Benih Bunga Edelweiss.

Wisatawan yang datang cukup mengeluarkan uang Rp 10 ribu untuk mendapatkan voucher menikmati keindahan Taman Edelweiss. Voucher tersebut dapat ditukarkan dengan secangkir kopi ataupun teh. 

Kemudian, dari tangan-tangan kreatif para pekerja di Taman Edelweiss, terdapat beberapa suvenir yang terbuat dari Bunga Edelweiss dan dijual untuk oleh-oleh wisatawan. Suvenir tersebur seperti gantungan kunci yang dipatok harga Rp 20 ribu dan suvenir boneka beruang yang dipatok dengan harga Rp 50 ribu. 

Teguh menyampaikan, baru membuka Taman Edelweiss di tengah pandemi covid-19 ini mulai  April 2021. Kemudian jumlah kunjungan tertinggi terjadi pada  Oktober 2021 hingga 3.392 wisatawan. 

"Dibuka April kemarin jumlah kunjungan tertinggi Oktober sebanyak 3.392 wisatawan dengan omzet per bulan Rp 50 juta. Beli souvenir termasuk ikut serta dalam konservasi dan melestarikan budaya," tutur Teguh. 

Bunga Edelweiss jenis Viscida.

Sementara itu, demi menjaga kelestarian Bunga Edelweiss, pihak Kelompol Tani Hulun Hyang juga melakukan penanaman edelweiss di Bukit Cinta yang berada di kawasan TNBTS. Tiap tahunnya, Kelompok Tani Hulun Hyang juga menyebar bibit-bibit edelweiss agar tumbuh subur di habitat asal. 

"Tahun 2020 sebanyak 650 bibit kita sebar. Tahun  2021 ini hanya 220 bibit. Tahun depan dengan perkembangan saat ini sebanyak 2 ribu bibit akan kita sebar di Bukit Cinta," kata Teguh. 

Dalam proses budidayanya, Kelompok Tani Hulun Hyang juga memiliki layanan unik bernama adopsi. Semua orang yang konsen akan kelestarian Bunga Edelweiss dapat memiliki edelweiss dengan mengeluarkan uang Rp 250 ribu. 

Souvenir dari Bunga Edelweiss.

Nantinya bibit edelweiss akan dirawat, dipupuk hingga berbunga di Taman Edelweiss. Setelah sudah mulai berbunga, pemilik akan dihubungi oleh Kelompok Tani Hulun Hyang untuk diambil langsung atau dikirim ke pihak yang akan mengadopsi Bunga Edelweiss. 

Dalam program ini, sudah ada beberapa pejabat publik dan artis yang berminat untuk mengadopsi edelweiss. "Antara lain Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak. Mereka adopsi satu pohon. Setelah panen nanti akan dikabari mau melihat kebsini atau dikirim," pungkas Teguh. 

Topik
Budi daya edelweissTaman Nasional Bromo Tengger Semerujurnalis tivi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru