Indahnya Toleransi Warga Tengger, Berbeda Agama, Disatukan oleh Adat dan Budaya

Nov 27, 2021 09:02
Suhermawan (kanan) dan Teguh Wibowo yang merupakan warga asli Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan saat ditemui pewarta di Desa Wisata Edelweiss, Rabu (24/11/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)
Suhermawan (kanan) dan Teguh Wibowo yang merupakan warga asli Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan saat ditemui pewarta di Desa Wisata Edelweiss, Rabu (24/11/2021). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Berbagai cerita dari kegiatan adat hingga kehidupan sehari-hari, membuat indahnya rasa toleransi di lingkungan masyarakat Suku Tengger Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Hal itu diungkapkan Suhermawan (29), salah satu warga Jalan Pusung Cemara Jangkar, RT 06/RW 02, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Suhermawan menceritakan, dengan kondisi lingkungan Suku Tengger yang mayoritas beragama Hindu, namun rasa persaudaraan dan toleransi antar umat beragama sangat dijunjung tinggi.

"Di Desa Wonokitri ini hampir 99 persen beragama Hindu mas, tetapi masyarakatnya saling menghormati dan menghargai," ungkap Suhermawan kepada JatimTIMES.com.

Meskipun masyarakat Hindu di Desa Wonokitri mayoritas, Suhermawan menuturkan bahwa rasa toleransi tetap dijunjung tinggi. Contohnya, ketika umat muslim mengadakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Balai Desa Wonokitri, masyarakat Hindu tidak mempermasalahkan terkait hal tersebut.

"Begitu juga saat umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi, lampu mati dan itu semua dimatikan, toleransinya seperti itu," ujar Suhermawan.

Selain itu, Suhermawan yang merupakan Sekretaris Kelompok Tani Hulun Hyang Desa Wisata Edelweiss Wonokitri ini menyampaikan, terdapat kegiatan-kegiatan dan ritual adat yang secara turun temurun digelar, di mana hal itu dapat menyatukan masyarakat Suku Tengger dari lintas agama.

Rasa toleransi yang tertanam kuat san abadi ini pun sama seperti filosofi Bunga Edelweiss yang tertanam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di mana tanaman Bunga Edelweiss juga merupakan perantara persatuan antar umat beragama di Suku Tengger.

Saat digelar upacara ritual adat di kawasan Desa Wonokitri khususnya, tokoh-tokoh dari masing-masing agama yakni Hindu, Islam hingga Kristen bersama membacakan doa untuk kelancaran acara ritual adat tersebut.

Suhermawan menuturkan, bahwa beberapa adat dapat mempersatukan masyarakat Suku Tengger. Misalnya Adat Karo dan Adat Yadnya Kasada, di mana dalam kegiatan upacara ritual adat tersebut, masyarakat Suku Tengger dari lintas agama melebur menjadi satu.

"Harus dibedakan antara agama dan adat, agama itu masing-masing (pribadi), tetapi adat harus dilakukan bersama-sama. Hindu, Islam maupun kristen semua jadi satu," tutur Suhermawan.

Kemudian, masyarakat Hindu Suku Tengger pun memiliki perayaan yang hampir sama dengan umat muslim terkait berkunjung ke kediaman warga sekitar. Jika di Agama Islam memiliki perayaan Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Hindu Suku Tengger juga memiliki Hari Raya Karo atau Yadnya Karo. Di mana hari raya ini merupakan hari raya kedua setelah Yadnya Kasada dari 12 bulan menurut perhitungan kalender Suku Tengger.

Setelah peringatan Hari Raya Karo, umat Hindu di Suku Tengger memiliki budaya anjangsana. Di mana seluruh umat Hindu saling berkunjung tanpa melihat latar belakang agamanya. Semuanya saling melebur, berkunjung dan selalu memberikan hidangan kepada masyarakat yang berkunjung.

Sementara itu, warga lainnya bernama Teguh Wibowo yang merupakan seorang beragama Islam dari Suku Tengger di Desa Wonokitri ini mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 ketika perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Suku Tengger kerap kali menggelar festival ogoh-ogoh.

Di mana ketika gelaran Festival Ogoh-ogoh, antusiasme warga Suku Tengger dari lintas agama maupun dari luar daerah sangat tinggi. Hal ini pun menyebabkan kemacetan dan umat muslim yang tidak ikut dalam proses upacara Hari Raya Nyepi berkontribusi dalam mensterilkan jalanan.

"Sebelum pandemi dulu ada upacara agama Hindu yang memakai Ogoh-ogoh, masyarakat muslim tidak ikut sembahyang tetapi ikut mensterilkan jalan dan mengatur lalu lintas," terang Teguh.

Teguh yang juga merupakan Ketua Kelompok Tani Hulun Hyang Desa Wisata Edelweiss Wonokitri ini menuturkan, warga Suku Tengger wajib mengikuti upacara adat Yadnya Kasada, Yadnya Karo maupun upacara adat lainnya.

"Saya muslim dan saya asli Tengger, dalam upacara adat itu, kami semua mengirimkan sesajen yang salah satunya Bunga Edelweiss dan memberikan seserahan berupa hasil bumi," pungkas Teguh.

Topik
banjir gresik selatanSuku Tenggerdoa bersyukurGunung Bromo

Berita Lainnya

Berita

Terbaru