Tali Jiwo

Nov 25, 2021 17:17

Judul buku: TALI JIWO

Penulis: SUJIWO TEJO

 Penerbit : BINTANG PUSAKA

Tahun terbit : 2019

Jumlah halaman: 184 Hal

Peresensi: Inasya Khofifah khoirunnisa/ Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang

Novel merupakan salah satu cerita fiksi atau nonfiksi yang berbentuk tulisan atau kata-kata, dan di dalamnya mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik. Salah satu novel yang menarik untuk dikaji yaitu novel TALI JIWO. Tali jiwo merupakan novel ke dua karya mbah sujiwo tejo yang diterbitkan oleh bintang pusaka, tahun 2019. Karya itu pemenang sayembara roman terbaik. Novel tersebut bercerita tentang kehidupan arti cinta dan keterpurukan dalam fana, keseharian manusia yang dibicarakan atau ''dirasani'' oleh sepasang kekasih, pasangan suami-istri, para pemudi pemuda yang jatuh cinta, atau antara anggora keluarga. Sekilas sampul buku talijiwo milih sujiwo tejo ini terlihat sederhana. Namun jika dilihat lebih dekat kata-kata indang yang terdapat pada sampul pada bagian kiri atas itu sama sekali tidak sederhana. Penuh penalaran, dan perasaan yang coba dilukiskan dengan gambar yang ada dalam sampul itu. Bahwa dibalik kesederhanaanya, cinta adalah perasaan yang kompleks, baik di setiap kenangan, kasih sayang, hingga pengorbanan.

Kumpulan kalimat dibagian belakang buku tidak kalah menarik. Seolah menggambarkan keseluruhan buku ini pada bagian sampul, bagian belakang dihiasi dengan untaian kata ajakan untuk melupakan penat. Melepas beban dan kesibukan yang seolah tiada habisnya.

Tujuan Buku ini berisi mengenai kisah-kisah Sastro dan Jendro yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sujiwo Tejo hendak mengajak kita ngobrol soal cara menyikapi takdir hidup kita. Disajikan dengan bahasa yang jenaka, memunculkan kesan intim dari komunikasi yang hendak dijalin Sujiwo Tejo. Buku ini terdiri dari lima judul besar dengan tema yang berbeda tiap judulnya. Ada Negeri yang Kekurangan Senja, Cinta Bukan tentang Kata, (Bukan) Penjara Kasih Sayang, tak Sesuci Mereka yang Kena OTT, dan Bertahan dengan Harapan. Tema-tema ini kemudian disebar kembali dalam sub-sub cerita. Tiap tema dapat berisi enam sampai delapan sub cerita di dalamnya. Negeri yang Kekurangan Senja, seolah menjadi sindiran bagi Indonesia yang memang masih memiliki banyak kekurangan, bukan hanya senja. Dimulai dari kisah sang penghibur jalanan, Sarimin yang kabarnya suka pergi ke pasar hingga kisah pasangan yang gagal lamaran karena abu vulkanik di Gunung Agung. Semua detail cerita menggambarkan permasalahan baik sosial, ekonomi maupun budaya yang terus menggerus Indonesia.

Sebenarnya tak hanya pada Negeri yang Kekurangan Senja tempat kekurangan Indonesia dibahas, melainkan di tema-tema berikutnya. Bedanya, permasalahan itu dilihat dan digambarkan dari sudut pandang yang berbeda. Kemudian diceritakan oleh dua lakon utama Sastro dan Jendro. Meski setiap cerita memiliki isi dan substansi yang berbeda, Sastro dan Jendro selalu menjadi lakon tetap yang senantiasa berbagi pendapat tentang kebobrokan negeri ini. Bagi saya mbah tejo itu udah kaya guru budaya , karena buku - buku nya itu lho yang diomongin gak jauh dari kehidupan kita dan sering sekali mbah dalam bukunya menceritakan tentang pewayangan yang dibungkus dalam cerita modern.  

 

Back to review, kali ini saya akan review keunggulan dari buku ini pertama yang bikin saya jatuh hati sama mbah tejo yaitu Talijiwo. Dulu setaun yang lalu, buku ini direkomendasikan oleh teman saya karena dia sering tebar quotes quotes mbah terlebih lagi tentang cinta. Seperti tersambar awan petir pas pertama baca itu senyum sendiri. Buku ini menceritakan tentang Sastro Sutali dan Jendrowati Sujiwo alias Sastro - Jendro atau Talijiwo.

Lebih mirip cerpen, karena cuman berisi 5 bab yang tiap bab nya ada 6-8 sub bab. Banyak quotes - quotes indah yang kayanya bakal bikin kamu senyum sendiri. Selain membahas cinta, dibuku ini juga si mbah membahas tentang kehidupan seperti kebhinekaan.

Buku yang pas buat mengisi waktu luang kamu yang kata - kata nya mudah dipahami, Penjabaran setiap topik yang rapi dari mulai pengertian mengenali diri, hingga tentang percintaan dan kebhinekaan. Sampul buku yang simpel namun menarik sehingga pembaca tidak bosan.

Menurut saya buku ini sangat recommended untuk dibaca terlebih lagi jika kamu mengalami masa - masa percintaan.

Rating saya untuk buku ini 9/10. Pembawaan cerita yang mudah dipahami oleh pembaca dan gak terlalu panjang setiap sub bab nya jadi lebih menarik dan mudah dipahami, ditambah banyak quotes quotes bagus. Buku ini berisi kumpulan essai tentang keseharian manusia yang dibicarakan atau ''dirasani'' oleh sepasang kekasih, pasangan suami-istri, para pemudi pemuda yang jatuh cinta, atau antara anggora keluarga. Obrolan dan kritik tentang hidup ini sesekali dihiasi oleh puisi pendek talijiwo itu tadi.

Salah satu kekurangan dari buku ini yaitu tidak banyak semua pembaca mengerti arti yang terkandung dalam isi buku tersebut,buku TALI JIWO tersebut banyak memiliki arti tersirat,hiperbola maka sangat di sayangkan kalau masi banyak pembaca belum mengerti atau susah untuk di mengerti pada saat membaca buku tersebut. Sebuah sarkas pada mahasiswa yang tertidur untuk menghargai perbedaan dan menggunakan hati nurani dalam bertingkah laku.  

Menurutku, talijiwo di sini dimaksudkan pada keadaan yang sudah kebal. Seperti bilangan ganjil yang memang dinamakan ganjil lantas tidak bisa menjadi genap. Buku setebal 176 halaman ini terdiri dari 36 judul cerpen dikemas dalam 5 bab berbeda. Dalam keseluruhan cerpen tersebut memiliki makna tersirat yang khas dari Sujiwo Tejo. Bagi kalian yang memiliki ketertarikan dalam dunia sastra, buku ini bisa jadi bacaan yang direkomendasikan.

 

Topik
muhammad hamam nasiruddinBedah Bukuruang mahasiswa

Berita Lainnya

Berita

Terbaru