Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama di Indonesia, Ini Kontribusinya untuk Para Wanita

Nov 09, 2021 16:08
Rohana Kudus (Foto: Semangat Islam)
Rohana Kudus (Foto: Semangat Islam)

JATIMTIMES - Rabu (10/11/2021) besok akan diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Sudah selayaknya kita sebagai masyarakat Indonesia patut untuk mengenang jasa para pahlawan nasional. 

Salah 1 pahlawan yang patut dikenang dan dihargai jasanya ialah Rohana Kudus. Sosok Rohana memang belum diketahui banyak orang karena tidak terlalu populer. Bahkan namanya tidak setenar Kartini. 

Namun kontribusinya bagi perempuan Indonesia tidak kalah besar. Diketahui, perempuan asal Sumatera Barat ini adalah wartawan perempuan pertama di Indonesia. 

Ia lahir di Kotagadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Rohana memiliki nama asli yakni Siti Ruana. 

Rohana merupakan putri dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Darah jurnalis Rohana ternyata datang dari sang ayah yang merupakan seorang wartawan.

Rohana  juga diketahui kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama dan juga bibi dari penyair Chairil Anwar.

Rohana juga merupakan sepupu dari KH Agus Salim. Meski tidak mengecap pendidikan formal, perempuan berdarah Minangkabau itu tetap bisa belajar membaca dan menulis dari sang ayah yang selalu membawakannya buku usai bekerja.

Di usianya yang masih belia, Rohana bahkan sudah menguasai bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab Melayu. Terlebih saat ayahnya dipindahtugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetangga dengan istri pejabat Belanda yang suka rela mengajarinya menjahit, merajut, dan menyulam.

Ia juga bebas membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup, dan pendidikan di Eropa. Saat berusia 17 tahun, Rohana harus tinggal dengan sanak familinya di Koto Gadang karena ayahnya mulai dinas di Kota Medan, Sumatra Utara.

Sebagai anak perempuan pertama dari 6 bersaudara, Rohana menjadi sosok yang mandiri. Rohana remaja masih membiasakan diri untuk menarik perhatian dengan menawarkan cerita-cerita kepada anak-anak perempuan yang lebih tua dari dirinya.

Di masa pertumbuhan sejak kecil sampai remaja, Rohana sudah mulai kritis terhadap kondisi perempuan di Koto Gadang. Di usia 24 tahun, ia lalu kembali ke kampung halaman dan menikah dengan seorang notaris bernama Abdul Kudus.

Karier Jurnalistik Rohana Kudus

Karir jurnalistik Rohana dimulai saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi. Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda kala itu. 

Lalu kiprah Rohana di dunia jurnalistik dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia. Koran Poetri Hindia dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia.

Rohana dinilai sebagai perempuan Indonesia pertama yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis. Bahkan ia bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa.

Sebelum mendirikan surat kabar Soenting Melajoe ia berkiprah di surat kabar Oetoesan Melajoe yang terbit sejak 1911. Pengalamannya mendapat apresiasi dari Datoek Soetan Maharadja alias DSM, pemilik Oetoesan Melajoe yang kemudian mendukung Rohana untuk menerbitkan Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912.

Mendirikan Sekolah Ketrampilan

Rohana juga mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia. Di sekolah ini para perempuan diajarkan berbagai keterampilan mulai dari mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda.

Banyak sekali rintangan yang dihadapi Rohana dalam mewujudkan cita-citanya. Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang.

Ia bahkan dihujani dengan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan. Namun gejolak sosial yang dihadapinya itu justru membuat Rohana tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain berkiprah di sekolahnya, Rohana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda. Hal itu dilakukan karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya.

Disamping itu Rohana juga menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor. Ini menjadikan sekolah Rohana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.

Kesuksesan Rohana itu lantas membuat banyak petinggi Belanda kagum atas kemampuan dan kiprahnya. Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Rohana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda.

Tutur katanya pun setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas. Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatra Barat.

Sebagai perempuan yang hidup sezaman dengan RA Kartini, Rohana juga berhasil menjadi jurnalis perempuan pertama yang dimiliki Indonesia.

Pada 10 Juli 1912, ia mendirikan surat kabar perempuan bernama Sunting Melayu. Susunan redaksi mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis semuanya adalah perempuan.

Selain Sunting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia.

Ia lantas mendapatkan jaringan internasional karena bisnis kain tenun, hal itulah yang menjadi dorongan baginya untuk mendirikan Sunting Melayu.

Rohana semakin banyak mendapatkan lebih banyak lagi informasi tentang kemajuan kaum perempuan di Eropa. Setelah berdiskusi dengan suaminya Abdul Kuddus yang juga aktivis pergerakan, Rohana terpikir untuk mendirikan surat kabar.

Tujuannya untuk menginpisrasi kaum perempuan di Sumbar dan Indonesia agar tidak kalah dengan kaum laki-laki untuk menjadi insan terpelajar. Keinginan Rohana untuk mendirikan surat kabar mendapat dukungan dari pimpinan Warta Berita Mahyuddin Datuk Sutan Maharajo.

Surat kabar yang didirikan Rohana bersama Dt. St Maharajo bernama Soenting Melajoe. Koran ini pertama kali terbit pada 10 Juli 1912.

Sutan Maharajo menjadi pemimpin umum, Rohana menjadi pemimpin redaksi dan Zahara Ratna Djuita yang merupakan putri Dt Sutan Maharajo menjadi editor.

Pada 25 Agustus 1974, Rohana Kudus memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik.

Saat pindah ke Bukittinggi, Rohana kembali mendirikan sekolah bernama Rohana School. Namanya yang telah melambung di berbagai surat kabar membuat sekolahnya sangat diminati. 
Muridnya pun berasal dari berbagai daerah. Tak hanya mengajar formal, Rohana juga mengajar wirausaha dengan agen mesin jahit singer. 

Konsumennya yakni murid-muridnya sendiri. Awalnya, Rohana belajar membordir menggunakan mesin jahit singer dari orang Tionghoa.

Ia juga menjadi perempuan pertama yang menjadi agen jahit. Sebelumnya, usaha itu hanya dilakukan oleh orang Tionghoa saja.

Rohana kemudian mengedukasi masyarakat Koto Gadang akan pentingnya pendidikan. Ia bahkan membuat gerakan dana pendidikan untuk membiayai ribuan anak Koto Gadang agar bisa sekolah ke luar kota hingga mendapatkan gelar sarjana.

Oleh sebab itu, pada masa itu banyak masyarakat Koto Gadang yang memiliki gelar sarjana. Rohana juga dipercaya menjadi guru di Sekolah Darma. 

Muridnya pun kini tidak cuma perempuan saja, melainkan juga laki-laki. Dari semua guru di sekolah itu, hanya Rohana yang tidak pernah menempuh pendidikan formal.

Gelar Pahlawan Nasional

Kementerian Sosial Republik Indonesia menetapkan Rohana Kudus atau Ruhana Kuddus, jurnalis perempuan pertama asal Sumatera Barat, sebagai Pahlawan Nasional tahun 2019 lalu. 

Hal ini ditetapkan berdasarkan pertemuan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada 6 November 2019. 

Gelar pahlawan nasional terhadap Rohana tertera pula pada Surat Menteri Sosial Rl nomor :23/MS/A/09/2019 tanggal 9 September 2019 perihal usulan calon Pahlawan Nasional tahun 2019.

Penobatan gelar itu dilakukan dalam acara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara pada tanggal 8 November 2019. Kemensos kala itu turut mengundang Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, dan juga sejumlah ahli waris dari Ruhana Kuddus.

Topik
muscab PPP yang damai dan sejukpengiriman relawan bencana ke kota batuHari Pahlawan Nasional

Berita Lainnya

Berita

Terbaru