Najiahu, Kampung Keturunan Rasulullah yang Ada di China

Oct 18, 2021 14:26
Kampung Najiahu (Foto: Kompas.com)
Kampung Najiahu (Foto: Kompas.com)

JATIMTIMES - Jejak Islam di negara tirai bambu China, juga tak luput dari perhatian umat muslim dan bisa dibilang cukup kental. Hal tersebut ditandai dengan keberadaan Najiahu, sebuah kampung yang ditinggali oleh keturunan Rasulullah SAW.

Najiahu merupakan kampung yang berlokasi di selatan Yinchuan, ibu kota Ningxia, China. Keberadaan kampung itu menjadi saksi adanya hubungan antara bangsa Arab dan bangsa China.

Di tempat tersebut, jejak para keturunan Nabi Muhammad SAW berada. Bahkan, salah satu cucu nabi pernah menjabat sebagai gubernur pertama di Provinsi Yunan, China.

Kampung di China

Awal mula keturunan Rasulullah masuk ke China

Area perkampungan Najiahu adalah destinasi wisata religi yang sudah ada selama hampir 1000 tahun. Di tempat itu, bahkan terdapat Masjid Raya Najiahu yang berusia 500 tahun. 

Tempat itu menjadi pusat kegiatan umat Islam di wilayah setempat. Melansir melalui laman historia.id, sejarah keberadaan Islam di China berawal ketika pasukan Jenghis Khan menginvasi Kekaisaran Khwaezmia, sebuah dinasti Islam Sunni yang menguasai daerah Asia tengah pada tahun 1077-1231.

Kemudian, seorang pemimpin bangsa Persia Syamsuddin Umar (Zhansiding Wumaer) memutuskan untuk menyerahkan diri bersama ribuan pasukannya. Lalu, Jenghis Khan mengajak Syamsuddin Umar untuk bergabung bersama bala tentaranya.

Setelah memutuskan bergabung, kehidupan dan karir Syamsuddin terus meningkat. Diketahui, Syamsuddin Umar merupakan keturunan ke-30 Nabi Muhammad SAW. 

Garis silsilahnya berasal dari Husein, putra kedua dari pernikahan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib.

Kampung di China

Cucu Rasulullah jadi Gubernur pertama di China

Berdasarkan informasi, Syamsuddin disebut sebagai gubernur pertama di Provinsi Yunan. Ia ditunjuk oleh Kubilai Khan cucu Jenghis Khan untuk memimpin wilayah tersebut saat Kubilai mendirikan dinasti Yuan.

Syamsuddin resmi dinobatkan sebagai Gubernur Provinsi Yunnan pada tahun 1274. Di bawah kepemimpinannya, perekonomian dan pendidikan warga setempat berkembang pesat.

Meski berstatus sebagai Sayid (keturunan Rasulullah), Syamsuddin tidak pernah berkoar-koar mengenai superioritas agamanya saat menjadi gubernur. Toleransi yang harmonis pun tercipta atas kemampuannya memimpin rakyat.

Saat Syamsuddin wafat pada usia 69 tahun, putra sulungnya yakni Nashruddin ditunjuk untuk menggantikan posisi sang ayah. Menariknya, di era pemerintahan Nashruddin juga sama tak kalah hebat. 

Karena keberhasilannya, tahun 1291 raja pun mengutusnya menjadi gubernur di provinsi Shaanxi. Namun, setahun kemudian pada 1292, Nashruddin wafat.  

Setelah kematian Nashruddin, keturunannya di Chaanxi memilih untuk bermigrasi ke Ningxia. Mereka membangun komunitas muslim bermarga 'Na'. 

Di Ningxia, para keturunan Nabi menjadi besar. Daerah itu kini dikenal sebagai daerah otonom suku Hui yang mayoritas warganya beragama Islam.

Di kabupaten Yongning kecamatan Yanghe inilah keturunan Rasulullah SAW menamai tempat itu dengan sebutan Najiahu, yang secara harafiah berarti Keluarga Nashruddin. Di Naijahu, bahkan ada sebuah Masjid Raya Najiahu yang dibangun hampir 500 tahun silam. 

Bangunannya masjid itu adalah kombinasi seni arsitektur Dinasti Tang dan kebudayaan Arab. Tempat itu digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas keagamaan masyarakat setempat.

Penduduk di Najiahu disebut sebagai penganut Islam yang taat. Namun, mereka terbiasa hidup dalam toleransi. 

Keunikan Najiahu itulah yang membuat pemerintah China menjadikan kampung tersebut sebagai tempat wisata religi bagi kaum Muslim.

Topik
PTSL di JemberKeturunan Rasulullah SAW

Berita Lainnya

Berita

Terbaru