Kisah Ahli Ibadah yang Rela Membakar Tangannya untuk Hindari Zina

Oct 14, 2021 12:10
Ilustrasi sosok Fulan yang telapak tangannya terbakar. (Ist)
Ilustrasi sosok Fulan yang telapak tangannya terbakar. (Ist)

JATIMTIMES - Dulu ada seorang pria yang sebut saja bernama Fulan. Dia seseorang yang disayangi kepala desa karena rajin ibadah. 

Setiap pagi dan sore, kepala desa selalu mendatangi rumah Fulan. Hal itu kemudian membuat masyarakat desa iri. Karena itu, masyarakat pun kemudian berencana  memfitnah si Fulan. 

Masyarakat lalu menyiapkan seorang perempuan cantik untuk tujuan menggoda dan memfitnah si Fulan. Sampai kemudian, perempuan tersebut bertemu si Fulan ketika dalam perjalanan.

"Wahai hamba. Allah, tolong aku. Perjalanan yang aku tempuh masih jauh. Aku tak berani melanjutkan perjalanan, takut bila nanti ada penjahat," kata perempuan tersebut. 

Mendengar perkataan wanita tersebut, Fulan yang merasa kasihan membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan si perempuan masuk. 

Namun, begitu  masuk rumah, Fulan terkejut melihat perempuan itu tiba-tiba menanggalkan seluruh pakaiannya. Terlihatlah tubuh perempuan tersebut yang putih dan mulus.

“Astaghfirullah, apa-apaan ini? Apakah kamu tidak malu telanjang di depan orang lain?”  kata Fulan dengan nada kesal. 

Perempuan tersebut kemudian berkata kepada Fulan, “Ah jangan banyak bicara. Silakan nikmati saja keindahan tubuhku ini.”

Fulan mengingatkan perempuan tersebut tentang dashyatnya siksa api neraka. "Tidakkah kamu takut terhadap siska api neraka yang tak pernah padam?" ucapnya.

Meski begitu, perempuan tersebut tetap berani menggoda Fulan. Fulan  lalu mengambil langkah agar perempuan tersebut segera bertobat. Ia kemudian mengambil lampu yang terdapat sumbu-sumbu dan berbahan minyak tanah.

Dengan ikhlas, Fulan membakar ibu jarinya. Bukan hanya itu. Telunjuk Fulan juga terbakar hingga api kemudian menyambar telapak tangannya. "Jika api dunia saja membakar seperti ini, lantas bagaimana api akhirat kelak?" ujar Fulan. 

Entah karena apa, tiba-tiba perempuan tersebut berteriak dan meninggal dunia. Fulan yang bingung kemudian memperlakukan jenazah perempuan tersebut sebagaimana mestinya.

Tetapi, kejadian tersebut dimanfaatkan iblis untuk memengaruhi penduduk desa. Iblis mengabarkan bahwa Fulan telah berzina dengan perempuan tersebut dan kemudian membunuhnya. 

Karena fitnah itu, Fulan  dihukum dan dibawa ke tempat penyiksaan dengan kondisi tangan terikat. Sementara, jenazah perempuan tersebut  ditempatkan di sebuah papan. 

Fulan diletakkan di sebuah papan belenggu untuk dipenggal kepalanya. Namun, sebelum pemenggalan, Fulan  berdoa kepada Allah, “Wahai Zat yang Mengetahui Segala Rahasia.”

Tiba-tiba terdapat suara yang menjawabnya. “Hentikan doamu. Penduduk langit menangis melihatmu. Jika kami terus berdoa, niscaya langit akan berguncang.”

Mendengar doa tersebut, Allah kemudian mengembalikan roh perempuan tersebut. Tiba-tiba perempuan itu bangun dan mengatakan, "Fulan itu terdzalimi. Dia tak berzina denganku. Sungguh aku masih perawan."

Perempuan itu menceritakan apa yang dia alami dan  dia lihat. Orang-orang yang menyiksa Fulan kemudian mengecek kondisi tangan si Fulan dan benar saja dalam keadaan terbakar. Mereka kemudian langsung menyatakan penyesalan atas perbuatannya menyiksa Fulan.

 Tak lama setelah itu, Fulan  menjerit dan meninggal dunia. Begitu  pula perempuan tersebut. Ia kembali meninggal dunia untuk kali kedua. Jenazah keduanya kemudian dikubur bersamaan.

 Kisah ini sendiri diolah dari channel Tafakkur Fiddin dan terdapat dalam kitab An Nawadir karya Ahmad Syihabuddin Al Qalyubi.

Topik
kisah inspiratifkisah islamiAntispasi lonjakan covid 19pelajaran hidup
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru