Nongkrong di Kafe Tengah Kali, Sensasi Liburan dan Keprihatinan Lingkungan

Oct 10, 2021 15:07
Suasana Kafe Kali TSG Desa Pandansari Lor Kecamatan Jabung saat ramai pengunjung. (Foto:Riski Wijaya/MalangTIMES).
Suasana Kafe Kali TSG Desa Pandansari Lor Kecamatan Jabung saat ramai pengunjung. (Foto:Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Mencari sensasi berbeda saat liburan memang menjadi satu hal yang dipertimbangkan saat akan menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman dekat. Seperti yang ditawarkan  Kafe Kali Telaga Sari Garden (TSG).

Kafe yang berada di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini menawari pengunjung untuk benar-benar menikmati dan merasakan suasana alam. Pemilik Kafe Kali TSG Hadi Suyitno menyediakan venue bagi pengunjung tepat di tengah aliran sungai. Pengunjung pun terlihat asyik dan menikmati suasana nongkrong di tengah sungai.

 Namun, tentu saja bagi sebagian kalangan, itu pemandangan yang sedikit kurang elok dipandang. Pasalnya, jika biasanya pemandangan sungai bisa dinikmati karena suara arus dan jernihnya air, kafe ini menjadikan beberapa titik aliran sungai terlihat riuh pengunjung.

Tentunya, sampah menjadi hal yang harus diperhatikan. Sebab, mengingat posisi kafe ini yang cenderung berada di atas sungai sehingga dinilai akan sangat berdampak pada aliran sungai yang ada di bawahnya jika perkara sampah tidak ditanggulnangi. 

Menyikapi hal tersebut, Founder Lembaga Konservasi Sahabat Alam Indonesia (SALAM) Andik Syaifudin mengatakan bahwa saat ini memang banyak sekali ditemui jasa wisata maupun sarana wisata berbasis alam yang muncul. Menurut dia, dalam hal ini yang dinilai memiliki peranan penting adalah pemerintah daerah selaku pengendali regulasi.

"Tetap pemegang kebijakan adalah yang punya regulasi. Mana yang diperbolehkan adanya sarana wisata alam atau jasa wisata alam di aliran utama sungai atau mata air. Tentunya dengan melakukan kajian-kajian tentang faktor keamanan, perubahan bentang alam, keseimbangan ekosistem, hingga dampak-dampak yang ditimbulkan. Itu yang harus diperhatikan. Kalau sudut pandang aktivis hanya bisa sebagai fungsi kontrol dan pengawasan bagaimana kebijakan itu diambil," ujar Andik, Minggu (10/10/2021) siang.

Suasana Kafe Kali TSG.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

Menurut Andik, pemerintah daerah dalam hal ini memiiki fungsi kontrol untuk dapat meminimalisasi dampak. Baik dampak dari segi sosial maupun dari segi lingkungan. Dan tentunya, harus ada kajiannya terlebih dahulu. 

"Pemerintah dalam hal ini sebagai pemegang regulator harus memberikan aturan-aturan hak dan kewajiban jika memang izin sebuah jasa dan sarana wisata alam diberikan. Tentunya dengan sebuah kajian, bukan opini atau perjanjian di bawah tangan. Kajian tentang perubahan bentang alam, keterkaitan hulu-hilir, faktor-faktor keselamatan, dampak sosial dan lain-lain," pungkas Andik.

Sementara, pemiliki Kafe Kali TSG Hadi Suyitno mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan beberapa antisipasi untuk meminimalisasi dampak yang mungkin terjadi. Misalnya upaya mengendalikan sampah, pemberdayaan masyarakat, dan faktor keamanan. 

"Kalau untuk sampah, di beberapa titik, memang ada beberapa sampah yang terjaring. Dan setiap pagi, sampah yang terjaring itu pun diambil oleh beberapa karyawan," ujar Hadi. 

Hadi tidak bisa menjamin bahwa semua pengunjung tidak akan membuang sampah sembarangan. Baik sampah organik seperti sisa makanan atau sampah anorganik seperti kemasan makanan dari plastik. 

"Kami sementara hanya bisa antisipasi. Kalau dari sisa makanan yang mungkin terjatuh, beberapa waktu lalu kami lepaskan ratusan ikan. Harapannya, jika ada sisa makanan yang terjatuh bisa dimakan ikan itu," ungkap Hadi. 

Walau begitu,  hingga saat ini, Hadi masih akan terus mengembangkan bisnisnya tersebut. Tentunya dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan masukan serta saran dari berbagai pihak. 

Topik
Faktor lingkungan kafe di atas sungaiLomba business plan
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru