Tumbuh Subur dan Punya Nilai Ekonomis, Masyarakat Blayu Budidayakan Mendong

Oct 05, 2021 20:34
Tanaman rumput mendong di Desa Blayu Kecamatan Wajak yang bersebelahan dengan lahan tanaman padi.(Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).
Tanaman rumput mendong di Desa Blayu Kecamatan Wajak yang bersebelahan dengan lahan tanaman padi.(Foto: Riski Wijaya/ MalangTIMES).

JATIMTIMES - Dinilai tumbuh subur dan memiliki nilai ekonomis, tanaman rumput mendong atau juga dikenal dengan sebutan purun tikus dibudidayakan oleh masyarakat Kecamatan Wajak, khususnya di Desa Blayu. Tanaman rumput mendong ini sendiri biasanya digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman. Seperti topi, tikar, tas dan lainnya. 

Tanaman ini ternyata juga telah ditetapkan menjadi komoditas Desa Blayu. Bahkan, dari informasi yang dihimpun, selain biasa dijual dalam bentuk kerajinan anyaman, hasil produksi tanaman mendong sebagai bahan kerajinan pun juga laku dijual. Penjualannya pun juga sampai Jawa Barat dan Bali. 

"Petani di Desa Blayu mulai membudidayakan tanaman rumput mendong ini sejak tahun 1970 silam,dengan luas hingga mencapai di kisaran 40 hektar," ujar Kepala Desa Blayu, Harianto Selasa (5/10/2021) sore. 

Dari pantauannya, hampir secara menyeluruh, warga di desa yang berpenduduk sekitar 7.000 jiwa ini membudidayakan tanaman mendong. Sebab, selain hasilnya yang dinilai cukup menjanjikan, tanaman ini juga dinilai punya beberapa kelebihan. Seperti tahan terhadap air dan tidak dapat dimakan oleh hama. 

"Tetapi belakangan, luas lahan tanaman mendong agak berkurang. Karena sebagian petani menggantinya dengan jenis tanaman palawija," imbuh Harianto.

Sementara itu, masyarakat Desa Blayu biasanya bisa memanen tanaman mendong setiap 6 bulan sekali. Sedangkan untuk harga jualnya, per ikat tanaman mendong, atau biasa warga menyebutnya per bongkok, dibanderol dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. 

"Mengenai proses penjualan, sebelum dibawa ke pasar, mendong itu dijemur. Kemudian diolah dan dikemas sedemikian rapi. Adapun untuk harga jual setiap satu bongkok mulai dari Rp 100 hingga Rp 150 ribu. Selain petani menjualnya dalam bentuk bahan baku, ada sebagian diproduksi menjadi berbagai kerajinan," pungkas Harianto. 

Untuk itu, dirinya berharap agar budidaya tanaman mendong ini bisa terus dilanjutkan. Sebab menurutnya, selain memiliki nilai ekonomis, tanaman rumput mendong ini telah menjadi turun temurun dari nenek moyang yang tetap perlu dilestarikan. 

Apalagi, jika banyak warga yang mau untuk mengolah, maka juga diperkirakan bakal menumbuhkan geliat ekonomi bagi masyarakat. Hingga muncul melalui usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Topik
kerajinan mendongpetani mendongvaksinasi pegawai pemkot batu
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru