Jupel Candi Berharap Wisata Purbakala Bisa Segera Dibuka

Oct 02, 2021 18:02
Salah satu pengunjung Candi Kidal.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Salah satu pengunjung Candi Kidal.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Juru Pelihara (Jupel) atau biasa disebut juru kunci yang biasa bertugas merawat benda cagar budaya berharap tempat wisata purbakala seperti situs candi dapat kembali dibuka. Agar kembali didatangi pengunjung atau wisatawan. Salah satunya seperti Candi Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. 

Jupel Candi Kidal Siti Romelah (54) mengaku, Candi Kidal selama ini menjadi salah satu jujugan wisatawan yang menggemari wisata purbakala. Dari catatannya, di hari biasa atau weekday sebelum pandemi, dalam satu bulan setidaknya ada sebanyak 1.500 pengunjung yang datang. 

Sedangkan saat hari libur atau weekend, jumlah wisatawan yang datang bisa mencapai 2.000 pengunjung. Asalnya pun juga tidak dari Malang saja, melainkan dari wilayah Jawa Timur.

"Karena Pandemi, BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur memerintahkan untuk tutup, dan kami berharap segera di buka untuk umum lagi," jelas Romelah.

Menurutnya, yang menarik wisatawan untuk datang ke Candi yang terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang ini adalah lambang berupa relief Garudeya, yang ternyata menginspirasi lambang Garuda Indonesia. 

"Ralief itu yang menarik wisatawan. Sebelum adanya pandemi Covid-19 di hari biasa ada sebanyak kurang lebih 1.500 orang dalam sebulannya yang datang ke sini (Candi Kidal)," terang Romelah, wanita yang telah menjadi Jupel sejak tahun 1984 ini.

Romelah menjelaskan singkat tentang relief Garudeya yang ada di Candi Kidal. Relief itu berbentuk manusia berkepala burung. Membawa kisah inspiratif, yakni menceritakan pengabdian seorang anak kepada sang ibu. 

Garudeya sendiri memiliki ibu bernama Dewi Kadru yang diperbudak Dewi Winata. Dan untuk melepas sang ibu dari perbudakan, Garudeya berjuang keras hingga harus bertarung melawan Dewa Wisnu. Garudheya pun berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).

"Kisah perjuangan Garudeya melawan perbudakan itulah yang kemudian menjadi gambaran Indonesia merdeka dari para penjajah," pungkas Romelah.

Topik
relief garudeyaCandi Kidalkeindahan bunga
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru