DAM Kadalpang Penuh Sedimentasi, 1.491 Hektare Lahan di Kabupaten Malang Kekurangan Pasokan Air

Sep 12, 2021 14:49
Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).
Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto.(Foto: Riski Wijaya/MalangTIMES).

JATIMTIMES - Dua kecamatan di Kabupaten Malang dikabarkan tengah mengalami kekeringan. Keduanya yakni Kecamatan Pakisaji dan Kecamatan Kepanjen. Hal tersebut diduga karena gorong-gorong yang berhulu di DAM Kadalpang, Kecamatan Klojen, Kota Malang mengalami sedimentasi. 

Wakil Bupati (Wabup) Malang, Didik Gatot Subroto menyampaikan, akibat hal tersebut ada sekitar 1.491 hektare lahan tebu di dua kecamatan tersebut yang kekurangan air. Rinciannya, 931 hektare di Kecamatan Pakisaji, dam 560 hektare di Kecamatan Kepanjen. Selain lahan tebu, hal itu diduga juga berdampak di lahan persawahan. 

"Selain lahan tebu, lahan sawah di dua kecamatan itu juga mengalami gangguan terkait kebutuhan air petani, padahal sekarang belum musim kemarau, lahan padi juga ada ribuan hektar," ujar Didik, Minggu (12/9/2021).

Didik pun menyebut, bahwa saat ini sudah ada beberapa petani di dua kecamatan tersebut yang mengeluh atas gangguan pasokan air. Kondisi itu ternyata berdampak pada kebutuhan air bagi kebun tebu dan persawahannya. 

"DAM Kadalpang ini ada di bethek (JL. Mayjend Panjaitan) Kota Malang, karena aliran sungai dari DAM penampung ada di Kota sampai menuju ke wilayah Pakisaji dan Kepanjen," terang politisi PDI Perjuangan ini. 

Mengatasi hal itu, dirinya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPUSDA) Provinsi Jawa Timur. Harapannya, untuk bisa mencarikan solusi agar segera mengatasi minimnya pasokan air bagi petani di dua kecamatan itu. 

Sebagai informasi, terowongan gorong-gorong itu merupakan peninggalan zaman belanda, dan yang menjadi kendala gorong-gorong tersebut tidak bisa dimasuki manusia. Sehingga harus menggunakan alat berat untuk mengurangi sedimentasinya. 

"Sebab di lapangan ditemukan adanya terowongan 200 meter di Bethek Kota Malang yang tertutup dengan sedimen, sehingga perlu peralatan sedot, agar air bisa mengalir. Nah itu terowongannya sisa peninggalan Belanda, akan tetapi butuh alat untuk kita keruk. Masalah lain muncul, kita tak memiliki alat keruknya," terangnya.

Rencananya, akan dilakukan pengerukan oleh Provinsi Jawa Timur pada gorong gorong yang buntu akibat mengalami sedimentasi tersebut. Sehingga, harus ada sejumlah solusi alternatif yang harus dilakukan agar pasokan air tetap bisa mengalir ke wilayah Pakisaji dan Kepanjen. 

"Di antaranya yakni perlu disiapkan sempalan DAM baru yang bisa diambilkan dari sungai Brantas menuju ke Sengguruh, Kepanjen, " imbuhnya.

Kemudian alternatif kedua yakni dari DPUSDA Kabupaten Malang yang akan mencarikan alternatif saluran air dari Kecamatan Dau agar bisa masuk melalui sungai di Dinoyo hingga Mergan untuk dialirkan ke Pakisaji dan Kepanjen. Upaya itu dilakukan jika DAM Kadalpang dinilai sudah tidak memungkinkan.

"Kendati demikian kami berharap Dinas PU Provinsi Jawa Timur mengambil alih penanganan sedimentasi itu, karena ini melibatkan wilayah Kota Malang. Kami konsen pada petani, jangan sampai masyarakat petani ini tidak tercukupi kebutuhan airnya, karena ini soal pangan," pungkasnya.

Topik
Pasokan Airair irigasiKabupaten Malangkebutuhan air bersihair irigasi
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru