Kisah Eli Cohen, Mata-Mata Terbaik Israel yang Tewas di Tiang Gantung

Sep 04, 2021 11:02
Eli Cohen (Foto: Wikiwand)
Eli Cohen (Foto: Wikiwand)

JATIMTIMES - Nama Eli Cohen tentu tak asing bagi warga Israel. Namanya sempat kembali jadi sorotan setelah serial 6 episode Netflix berjudul The Spy rilis tahun 2019 lalu.

Diketahui, Eli Cohen menjadi salah satu agen Israel yang berhasil menyusup dengan sukses ke lingkaran dalam Suriah dan mengeruk banyak informasi penting. Ia menjadi mata-mata terbaik yang dimiliki oleh Israel. 

Keterlibatan pria bernama lengkap Eliahu ben Shaoul Cohen di dalam misi ke Suriah, yakni saat dia bergabung dengan gerakan Zionis di Mesir saat berusia 7 tahun. Sejak kecil, Eli Cohen menang dikenal sangat pandai. 

Melansir melalui britannica, ia melakukan perjalanan ke Israel untuk kursus pelatihan spionase singkat pada 1955 dan kembali ke Mesir pada tahun berikutnya. Namun, pria kelahiran Mesir dari keturunan Yahudi Suriah ini harus meninggalkan Mesir saat terjadi Krisis Suez dan menetap di Israel pada 1957. Dengan kemampuan berbahasa Arab, Prancis, dan Ibrani, yang fasih, ia dipekerjakan sebagai penerjemah untuk intelijen militer. 

Sayangnya, kala itu ia menolak tawaran untuk dipindahkan ke Unit 188 Aman atau singkatan Ibrani untuk intelijen militer. Saat ketegangan perbatasan dengan Suriah meletus pada Mei 1960, tim spionase di Unit 188 sangat membutuhkan mata-mata di Damaskus. 

Hingga akhirnya, Cohen adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu, meski pada awalnya ia menolak permintaan yang berulang tetapi akhirnya tawaran itu pun diterima. Untuk menjadi mata-mata, ia menyamar sebagai saudagar tekstil asal Suriah yang bermigrasi ke Argentina.

Baru pada Februari 1961, Cohen tiba di Argentina, membawa paspor negara Eropa dengan nama Kamal Amin Thaabet yang merupakan pengusaha Suriah lahir di Lebanon. Dengan pembekalan selama setengah tahun sebelum keberangkatan, Cohen diajarkan tentang Islam dan berubah menjadi Muslim untuk bisa berbaur dengan sasarannya.

Selama beberapa bulan Cohen berbaur dengan banyak pengusaha Arab di Amerika Selatan (AS) dan menjalin hubungan dengan anggota masyarakat Suriah yang kaya dan berpengaruh di sana. 

Satu tahun kemudian, ia pindah ke Beirut dan menjadi orang baru yang menarik di kota karena direkomendasikan oleh semua orang di Buenos Aires. Salah satu yang tertarik dengan sosok Cohen atau Thaabet adalah atase militer Suriah, Amin al-Hafez, yang kemudian menjabat sebagai presiden Suriah. 

Cohen pun dapat dengan mudah mengakses lingkaran kekuasaan tertinggi di Suriah. Ia segera mulai mengirimkan informasi tentang rencana militer Suriah ke Israel. Pekerjaan spionase Cohen menjadi semakin penting saat seorang junta Baʿthist yang mencakup beberapa rekannya dari Argentina merebut kekuasaan di Suriah pada 1963. Pemimpin kudeta, Amin al-Hafez, sangat dekat dengan Cohen.

Menurut laporan Jerusalem Post, al-Hafetz mempertimbangkan Cohen untuk mengangkatnya sebagai wakil menteri pertahanan. Ia menerima pengarahan militer rahasia dan dibawa dalam tur ke benteng Suriah di Dataran Tinggi Golan.

Cohen pun berhasil menghafal lokasi semua bunker dan artileri Suriah. Dia mampu menggambarkan penempatan pasukan di sepanjang perbatasan secara rinci dan dapat melengkapi daftar beberapa pilot Suriah dan sketsa akurat dari senjata yang dipasang di pesawat tempur mereka.

Atas hasil pemantauan itu, Cohen mengirim data ke Tel Aviv dengan mengetuk titik kode Morse dan tanda hubung pada kunci telegrafnya. Intelijen Israel pun bisa mendapatkan gambaran bagus tentang negara musuh yang tampaknya tidak bisa ditembus. 

Untuk diketahui, Argentina kala itu menjadi target Cohen karena disana banyak diaspora asal Suriah berkumpul. Berkat kepiawaiannya, Cohen berhasil kenal dekat dengan pejabat Suriha. 

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Itulah pribahasa yang cocok dengan nasib Cohen.

Ia sering mengirim transmisi ke Israel setelah cuti dari kegiatan mata-mata. Dalam waktu 5 minggu, ia telah mengirim 31 transmisi radio, petugas kasusnya di Tel Aviv seharusnya menahannya.

Tetapi tidak ada yang melakukannya. Materi yang dia kirim dinilai terlalu bagus untuk dihentikan.

Hingga pada Januari 1965, kontra intelijen Suriah mengidentifikasi sinyal radionya dan menangkapnya saat sedang mengirim transmisi. Setelah penangkapannya, Israel segera bertindak dengan harapan bisa mengeluarkan Cohen dari Suriah atau membuatnya tetap hidup.

Mossad diam-diam menyewa seorang pengacara Prancis terkemuka yang mengatur permohonan resmi kepada pemerintah Eropa dan Paus. Namun Suriah menutup telinga.

Pengadilan di Damaskus akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Cohen dan dia digantung di lapangan umum pada 18 Mei 1965. Suriah mengizinkan mata-mata itu untuk mengirim pesan tertulis terakhir kepada keluarganya.

"Saya menulis kepada Anda kata-kata terakhir ini, beberapa menit sebelum akhir saya. Aku mohon, Nadia sayang, maafkan aku dan jaga dirimu dan anak-anak kita. Jangan menghalangi mereka atau diri Anda sendiri dari apa pun. Kamu bisa menikah lagi, agar tidak mencabut hak anak dari seorang ayah," tulis Cohen. Diketahui hingga kini Nadia, istri Cohen tidak pernah menikah lagi.

Atas informasi darinya, Israel pun menang talak dalam perang 6 hari melawan Surih pada 1967. Eli pun dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Israel.

Topik
agen israelmata mata israelsinopsis ikatan cinta 4 september
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru