PPKM Darurat, Penjual Nasi Goreng di Gondanglegi Pindah Jam Operasi

Jul 15, 2021 13:00
Pedagang nasi goreng di Kabupaten Malang yang memilih berjualan saat siang hari selama PPKM Darurat (Foto: Istimewa)
Pedagang nasi goreng di Kabupaten Malang yang memilih berjualan saat siang hari selama PPKM Darurat (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berdampak pada para pelaku usaha. Terutama penjual makanan. Baik yang berkeliling menggunakan gerobak, kedai kecil atau bahkan yang sudah berjualan di bangunan permanen atau bangunan resto. 

Para pedagang ini harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan selama masa PPKM Darurat. Pasalnya, selama PPKM Darurat ini diberlakukan, para pedagang diberi batasan waktu untuk berjualan. Yakni hanya sampai pukul 20.00. Itupun, pelayanan harus 'take away' atau dibawa pulang.  

Menyiasati batasan tersebut, salah satu penjual nasi goreng asal Kalipare Kabupaten Malang, Asmar (55) memilih untuk berjualan di siang hari. Tepatnya, dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Hal itu pun ia lakukan agar usahanya tetap bisa berjalan.

"Jam jualan saya ubah, biasanya malam hari, tapi saat ini saya berjualan siang hari. Dari jam 9 sampai jam 16.00, ya keliling," ujar Asmar yang biasanya berjualan di Gondanglegi dan sekitarnya ini. 

Namun, langkah yang ia ambil untuk mengubah jam operasinya ternyata membuahkan hasil. Dirinya mengaku bahwa selama PPKM Darurat ini, setidaknya 40 bungkus nasi goreng laku ia jual dalam sehari. Ia sendiri biasanya berjualan di skitar Pabrik Gula (PG) Krebet, Bululawang hingga Gondanglegi. 

Sehingga, dirinya pun merasa bersyukur. Meskipun banyak pedagang yang mengeluh selama PPKM Darurat ini, dagangannya masih jadi salah satu jujugan, termasuk oleh langganannya. 

"Iya beruntung lah. Bisa tidak terdampak ya banyak beli banyak yang langganan juga. Jam 16.00 saya udah pulang," jelasnya.

Selain itu, dirinya juga bersyukur karena tidak pernah menjadi sasaran operasi yustisi yang saat ini semakin ketat dilakukan. Dirinya hanya berharap agar pandemi ini segera berakhir, sehingga aktivitas ekonomi bisa kembali normal. Sebagai informasi, satu porsi nasi goreng yang ia jual relatif murah. Yakni seharga Rp 8 ribu per bungkusnya. 

"Ya enggak pernah. Teman-teman saya biasanya yang malam itu kena. Saya ya jual mie. Nasi mawut ini Rp 8 ribu," pungkasnya.

Sementara itu, dari pantauan di lapangan selama PPKM Darurat diterapkan, sejumlah kedai makanan maupun restoran di beberapa titik Kabupaten Malang memang terlihat sudah tutup sejak pukul 20.00 WIB. Namun, juga ada beberapa yang masih berjualan hingga larut malam, meskipun tidak melayani 'dine in'.

Topik
sebutan jokowipaparan covid 19airlanggga hartartoinvestasi nasional

Berita Lainnya

Berita

Terbaru