Sungguh Malang, Jasad Nenek ini Terlantar 10 Jam Karena Diduga Terpapar Covid-19

Jul 06, 2021 12:26
Evakuasi jenazah Pasien Diduga Covid-19 di Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu. (Foto:Istimewa/TulungagungTIMES)
Evakuasi jenazah Pasien Diduga Covid-19 di Desa Wajak Kidul Kecamatan Boyolangu. (Foto:Istimewa/TulungagungTIMES)

TULUNGAGUNGTIMES - Sungguh malang nasib nenek yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya ini. Bagaimana tidak, jasad nenek bernama Suminah (85 tahun) itu diduga terlantar selama kurang lebih 10 jam lamanya. Tak ada satupun yang berani menyentuh jasad sang nenek.

Belakangan diketahui, tetangga korban tak berani mendekat lantaran ada ketakutan jika sang nenek meninggal karena covid-19. Pasalnya, nenek Suminah sebelumnya tinggal bersama anak dan cucunya yang kini tengah menjalani karantina di Ngunut lantaran positif covid-19. Akibatnya, saat menghembuskan nafas terakhirnya, jasad warga Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung itu tak ada yang berani mendekat, menyentuh dan memandikannya.

Nenek Suminah sendiri dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (5/7/2021) malam.

"Warga sekitar bingung, jenazah itu sudah meninggal sejak kurang dari jam 21.00 WIB. Saya berusaha mencari ambulans untuk dimandikan saja ke rumah sakit," kata Kepala Desa Wajak Kidul Estu Palupi, Selasa (06/07/2021).

Hingga tengah malam, tidak ada ambulans yang didapatkan untuk mengevakuasi jenazah Suminah ke rumah sakit untuk dimandikan. Namun, Estu Palupi mengaku kesulitan mendapatkan kepastian karena pihak rumah sakit Dr Iskak meminta agar ia menghubungi pihak Puskesmas atau pemerintah kelurahan Jepun agar jenazah Suminah diurus.

"Saya hubungi pihak Puskesmas Boyolangu dapat informasi di sana hanya ada Ambulans pasien bukan mobil jenazah dan kemudian disarankan ke pihak kelurahan Jepun, tapi di sana ternyata juga tidak sanggup mengambil dan mengurus jenazah warganya yang meninggal dunia di desa kami. Jadi seperti dilempar-lempar ke sana kemari. Dari sana disuruh menghubungi ini dan dari sini diminta menghubungi ke sana lagi," ujarnya.

Karena saling lempar, Estu Palupi kembali menghubungi pihak rumah sakit dan meminta agar dikirim bantuan ambulans untuk membawa jenazah Suminah dan dimandikan.

"Baru pagi tadi, ambulans datang dan mengevakuasi jenazah dan membawa ke sana untuk dimandikan dan dimakamkan," ungkapnya.

Jika dihitung waktu, jenazah Suminah menurut kepala desa Estu Palupi, terlantar hingga 10 jam lebih di rumah anaknya yang kini beberapa di antaranya dinyatakan positif Covid-19 itu.

Menanggapi hal itu, Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Iskak Tulungagung, Muhammad Rifai menjelaskan jika dalam beberapa hari ini armada ambulans khususnya mobil jenazah di Tulungagung aktivitasnya sangat padat. Mengingat, jumlah kematian yang naik cukup tinggi, terjadi sedikit kelambatan mengurus jenazah yang dikatakan terlantar di desa Wajak Kidul itu.

"Panggilan TEMS itu khusus untuk darurat medis dan non medis. Tapi jika ada orang meninggal, rumah sakit itu sebenarnya opsi terakhir. Karena hari ini kan antrian jenazah kan banyak dan harus mengantar kemana-mana," kata Rifai.

Jika ada keluhan dari kepala desa terkait TEMS (Tulungagung Emergency Medical Service) lambat dan terkesan melempar-lempar, Rifai menjelaskan bahwa sebenarnya yang dilakukan memberi opsi-opsi dan solusi agar bisa di atasi mobil jenazah yang lebih siap.

"Kan sebenarnya yang dibutuhkan adalah bukan pertolongan tapi alat transportasi," ujarnya.

Karena jenazah di curigai Covid-19, transportasi dan petugas yang mengambil harus menggunakan alat pelindung diri (APD).

"Itu hanya masalah siapa yang menjemput (jenazah) bukan Tems melempar-lempar itu tidak. Memang kondisi saat ini mobil jenazah kita overload," pungkasnya. 

Topik
Cempaka KiraniPasien Covid 19Meninggal DuniaKabupaten Tulungagung

Berita Lainnya

Berita

Terbaru