Potret Musik Kota Malang (6)

Medio 2000, Kuping Musisi Kota Malang Digempur Warna-warni Genre Musik

Jul 04, 2021 17:58
Salah satu aksi panggung Band Skarasa di acara Anniversary Veskaria ke-2 di Taman Rekreasi Senaputra Malang. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Salah satu aksi panggung Band Skarasa di acara Anniversary Veskaria ke-2 di Taman Rekreasi Senaputra Malang. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Memasuki era millenium kedua atau pada medio tahun 2000-an, perkembangan musik di Kota Malang mulai menunjukkan perkembangan yang cepat dan pesat. 

Pasalnya, arek-arek Malang mulai dimudahkan untuk mendapatkan informasi mengenai referensi bermusik dari band luar maupun dalam negeri. 

Baca Juga : Berbagi Saat Pandemi, Komunitas HRC Malang Raya Beri Bantuan ke Pesantren LKSA AL Hidayah Kota Batu

 

Kemudahan itu didapat melalui peredaran rilisan fisik seperti majalah musik, Vinyl atau piringan hitam, kaset pita dan CD (compact disc). Meskipun harus membeli di kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta dengan menitip kepada teman, haus pengetahuan bermusik merupakan ciri arek-arek Malang. 

Pada era 2000-an ini selera bermusik arek-arek Malang mulai bervariasi dengan genre induknya. Mulai dari rock, metal, punk, ska, hardcore, grunge dan lain-lain yang diramu sedemikian rupa hingga memunculkan genre-genre baru yang diminati oleh arek-arek Malang. 

Deretan band-band yang masih aktif dan bermunculan di era 2000-an ini seperti No Man's Land, Begundal Lowokwaru, Skatoopid, Diskoteror, Brigade 07, Snickers and The Chicken Fighters, Youngster City Rockers, Pitskankin, Green Bacterie, Mad Brothers, Spiky In Venus, Gang Holiday, Disable Boy, Grasshoopers, Javanese Bugs, Lolyta and The Disgusting Trouble, Kids Next Door, Breath of Despair, Fallen To Pieces, The Morning After, My Beautiful Life dan Sun n Fun.

Selain itu juga ada Last Car Bitch, Sharkbite, Berry Prima, Good Boy Jimmy, The Qiblath, PKOi!, Take This Life, Toxic Toast, Anniverscary, As Merry As Cricket, Tribun Timur, Give Me A Chance, Better Chance, Richcrackers, Mutant Troopers, Idiot Bob, Skarikatur, Veskaria, Skarasa, One Struggle, Rude D'Ska, The Closet Monster, Skakster, Wacky, RGB Ska, Bread Essence, SAS Skapunk dan Cable Car Romance. 

Deretan band-band tersebut sebetulnya hanya sekelumit saja, masih banyak band-band di Kota Malang yang terus menunjukkan produktivitasnya dalam berkarya. 

Entah itu mengeluarkan rilisan fisik berupa Vinyl atau piringan hitam, kaset pita, CD (Compact Disc), ataupun hasil rekaman studio berbentuk mp3 yang disebarkan dari satu orang ke orang lainnya, hingga produk pakaian yang digandrungi arek-arek Malang. 

Salah satu tokoh musik Underground di Kota Malang yang juga dulunya dikenal sebagai "perantara" arek-arek Malang yang ingin menikmati musik dari luar negeri yakni Indra Binatang atau yang akrab disapa Indro. 

Indro dalam beberapa kesempatan yang lalu menuturkan bahwa perkembangan musik di era 2000-an bermula dari masuknya berbagai genre musik di era 1990-an.

"Setelah tren berubah dengan cepat di era 1990-an, grunge di era 1993, alternatif di era 1994, punk di era 1994-1995, lalu Ska di era 1996, kemudian semakin meluas hingga era 2000-an," ungkapnya kepada MalangTIMES.com. 

Dengan perkembangan musik yang cepat itu pula, di medio tahun 2000-an panggung parade atau gigs musik mulai mengalami pasang surut di lintas skena. Hal itu disebabkan banyak tawaran genre baru di Kota Malang. Namun, meskipun begitu para musisi bawah tanah terus menunjukkan eksistensinya dengan menggelar panggung gigs kecil meskipun sepi peminat. 

Beberapa tempat pertunjukan yang masih menjadi tempat di gelarnya panggung gigs musik di era 2000-an ada Gedung KNPI, Balai Merdeka Universitas Merdeka Malang, Jagrak Tengah cafe yang terletak di perempatan Pasar Klojen. 

Lalu ada Gedung Pramuka, Warung Jip, Coffee Time cafe, Taman Rekreasi Senaputra (sekarang Brawijaya Edu Park), Gedung Denpal, Aula Kampus ITN, Dome UMM, Graha Cakrawala UM, Gedung Dewan Kesenian Malang, Gedung Kesenian Gajayana dan berbagai tempat bersejarah lainnya yang tidak disebutkan satu persatu. 

Tempat tongkrongan pada era 2000-an pun mulai melebar dan meluas. Banyak kelompok-kelompok kecil yang membuat perkumpulan sendiri. Dan kerap kali menjadikan pelataran Taman Trunojoyo, Antz Studio, Halaman Stadion Gajayana, Jagrak Tengah cafe, Warung Jagung Bakar TT di Jalan Cokroaminoto atau yang biasa disebut Moskow, dan beberapa tempat lainnya. 

Baca Juga : Grup Band Festival dan Gemuruh Musik Bawah Tanah, Era Baru Arek Malang Tahun 90-an

 

Animo penonton pada era 2000-an pun masih cenderung minim untuk pelaku musik lokal. Kebanyakan masih mengacu pada musisi yang memilih major label dan yang sudah mainstream. Namun, tak patah semangat para pelaku musik di era 2000-an terus produktif.

Alhasil memasuki tahun 2010, perkembangan musik lokal dan musik bawah tanah di Kota Malang kembali digandrungi oleh arek-arek Malang. Terlihat begitu ramainya penonton yang berdesak-desakan untuk melihat band lokal idolanya tampil. 

Seperti contohnya panggung gigs yang digelar oleh Veska Squad pada tahun 2012 dalam rangka memperingati Anniversary Veskaria yang ke-2 tahun di Taman Rekreasi Senaputra, tercatat tiket yang ludes hingga lebih dari 1.800 tiket.

"Tiket yang ludes lebih dari 1800-an itu belum terhitung dengan penonton yang masuk lewat pintu jebolan. Alhasil diperkirakan penonton yang masuk ke Senaputra lebih dari 2000 an penonton," ujar Bagus selaku peniup trombone dari Veskaria. 

Lalu pada era tahun 2012 juga terdapat panggung gigs lokal yang fenomenal, yakni Reuni Akbar Punk seri 4 yang dugelar di Dome UMM oleh Rocker Sayap Kiri. Dalam gelaran panggung gigs lokal tersebut, penyelenggara dapat menghadirkan band punk rock nasional yakni Superman Is Dead. 

Lautan penonton yang bercampur baur dengan para Outsider dan Ladyrose sebutan dari fans Superman Is Dead turut menyemarakkan panggung gigs Reuni Akbar Punk seri 4. Hal itu merupakan salah satu panggung gigs yang berhasil menyita perhatian berbagai pihak. 

Hingga memasuki tahun 2016, arek-arek Malang yang dulunya pencinta gigs dan mengagumi para punggawa-punggawa band lokal mulai mengalami penyusutan. Belum diketahui jelas penyebabnya. 

Akan tetapi kebanyakan selera musik arek-arek Malang memasuki tahun 2016 hingga sekarang sudah mulai berubah dan mengarah pada beberapa genre musik, salah satunya folk yang lebih menyuguhkan ketenangan dan kejujuran dalam melihat kondisi lingkungan sekitar. 

Itulah ulasan mengenai potret musik di Kota Malang pada era 2000-an yang pastinya mengalami perkembangan luar biasa dengan berbagai genre merasuk ke telinga arek-arek Malang. 

Pantau terus MalangTIMES.com untuk mengetahui ulasan terakhir di Potret Musik di Kota Malang terkait gedung-gedung pertunjukan musik yang bersejarah di Kota Malang.

Topik
baromoter musikppkm darurat kedirimusisi Kota Malangtatar hermawan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru