Potret Musik Kota Malang (5)

Grup Band Festival dan Gemuruh Musik Bawah Tanah, Era Baru Arek Malang Tahun 90-an

Jul 04, 2021 15:36
Salah satu aksi panggung dari Dye Marker di GOR Pulosari. (Foto: Agus Klewer/Buku Empat Dekade Sejarah Musik di Kota Malang)
Salah satu aksi panggung dari Dye Marker di GOR Pulosari. (Foto: Agus Klewer/Buku Empat Dekade Sejarah Musik di Kota Malang)

MALANGTIMES - Memasuki era 1990-an perkembangan musik di Kota Malang semakin meluas. Hal itu ditandai dengan banyaknya grup band festival serta bermunculan grup band dari skena musik bawah tanah atau underground. Selain itu juga terdapat beberapa wadah organisasi atau komunitas berkaitan dengan musik yang bermunculan di Kota Malang. 

Pada era 1990-an ini pun nampaknya mulai terjadi peralihan genre. Di mana jika pada era-era sebelumnya kental dengan nuansa rock, maka pada era 1990-an ini mulai masuk genre heavy metal, trash metal, dan speed metal dengan kiblat dalam bermusik seperti Metallica, Testamen, Megadeth, Kreator, Slayer, Sepultura, Anthrax, Iron Maiden, Overkill hingga Halloween.

times-story-1d1c6e4d6022dfaab.jpg

Literasi yang mulai berkembang melalui peredaran kaset pita, majalah hingga radio-radio lokal seperti Senaputra FM yang kerap kali memutarkan musik-musik metal maupun musik bawah tanah, membuat arek-arek Malang memperkaya dirinya dengan berbagai literasi musik.

Pasalnya, selain heavy metal, speed metal dan trash metal yang meraung-meraung di telinga arek-arek Malang, genre lain pun turut mendarat di telinga arek-arek Malang dan menjadi konsumsi yang masif. Di antaranya seperti grunge, punk, ska maupun hardcore. 

Tak heran, pada era 1990-an memang merupakan pintu masuk menuju era baru, setelah cukup lama diperdengarkan dengan musik rock yang sempat menjadikan Kota Malang sebagai barometer musik rock Indonesia. 

times-story-2bff452e758e0fdbb.jpg

Deretan grup band yang tercatat dan hidup di era 1990-an yakni ada Dye Maker, Gusar, Mayhem, Plankton, Balance, Epitaph, Abstain, Megatrue, Nevermind, Primitive Symphony, Ritual Orchestra, Rotten Corpse, Sekarat, Perish, Grindpeace, Genital Giblets, Extreme Decay, Bangkai, Rendexter, Immortal dan lain-lain. 

Selain itu juga terdapat The Babies, No Man's Land, Begundal Lowokwaru, Antiphaty, Alergi Kentes, Snickers and The Chicken Fighters, Skatoopid, MBDPH, Spiky In Venus, Screaming Factor, No Lips Child, Skahectic dan lain-lain. 

Arief Wibisono penulis buku "Empat Dekade Sejarah Musik di Kota Malang" mengatakan bahwa pada era 1990-an terjadi beberapa fenomena. Yakni fenomena band festival yang kerap kali menghiasi berbagai panggung festival dan aktivitas band bawah tanah yang terus meraung-raung menolak untuk didikte. 

times-story-3878160e8a6815beb.jpg

"Akhirnya pergeseran 80 ke 90 rock tambah kuat karena adanya festival rock yang dimotori oleh Log Zhelebour. Jaya-jayanya musik Rock itu di tahun 1980-1990. Munculnya Log Zhelebour mempelopori festival rock se-Indonesia, itu EO dari Surabaya, mereka sering ngadain," ujarnya kepada MalangTIMES.com.

Selain Log Zhelebour, juga terdapat deretan festival rock yang kerap kali digelar, di antaranya Djarum Rock Festival, Gudang Garam Rock Festival, Gebyar Musik Rock Crystal dan Filtra 55. Kebanyakan yang menggelar panggung festival rock perusahaan-perusahaan rokok yang terus terbawa hingga era 2000-an. 

Lalu tercatat beberapa organisasi musik yang mewadahi para musisi arek-arek Malang untuk tampil dan berkreasi yakni Generasi Musisi Muda Malang (Gemma) dan Himpunan Musisi Muda Malang (HM3).

"Gemma membuat festival kecil, menampung band yang tidak lolos di Log Zhelebour. Sering main di Gedung Cendrawasih. Dipakai lagi menjadi festival rock di tingkat lokal. Kalau festival dari Log Zhelebour itu nasional," tuturnya. 

Di era 1990-an kelompok musik bawah tanah arek-arek Malang tidak mau terdikte oleh konsep panggung festival yang sudah mainstream. Akhirnya lahirlah konsep DIY (Do It Yourself). Di mana semua produksi dalam bermusik dilakukan sendiri. 

times-story-456487e5ec30e9673.jpg

Pada era ini beberapa acara fenomenal yang kerap kali mengisi hari-hari arek-arek Malang yakni Total Suffer Community (TSC), Panggung Musik Underground (PMU), Fisheries, dan panggung-panggung parade atau gigs yang lain.

Dari situ pula, distribusi produk merchandise dari masing-masing grup band mulai dari kaos, kaset pita, CD mulai diperjualbelikan door to door kepada kalangan arek-arek komunitas musik bawah tanah. 

Ditambah lagi peredaran majalah lokal atau fanzine yang dibuat sederhana dengan fotokopian secara kolektif oleh kalangan musisi bawah tanah membuat wawasan bermusik arek-arek Malang semakin berkembang. 

Di antaranya Mindblast, Imbecible, Escort, Brain To Think Mouth To Speak, Kemerdekaan Zine, Ndeso Zine, Way Of Life Zine dan beberapa lainnya. 

Semakin berkembangnya skill bermusik dengan tetap pada jalur genre-nya masing-masing, hal itu tidak terlepas dengan produktifnya arek-arek Malang yang seringkali menggelar panggung parade musik Underground. 

Deretan tempat yang kerap kali menjadi jujukan arek-arek Malang yakni GOR Pulosari, Gedung Kesenian Gajayana, Gedung Dewan Kesenian Malang, Gedung Sasana Asih YPAC, Balai Merdeka Unmer, Aula ITN, Aula SMPN 20 (dulunya aula SMKN 4 Malang), Aula Universitas Gajayana Malang, Lapangan Ex Terminal Pattimura dan beberapa tempat lainnya. 

Tempat tongkrongan pun pada era 1990-an mulai bermunculan di beberapa lokasi. Seperti parkiran belakang Sarinah, pelataran depan Tugu Chairil Anwar Kayutangan, Talun atau persimpangan Jalan AR. Hakim Malang dan pelataran Mitra 2 (sekarang Hotel Savana) yang dulu dikenal dengan perkumpulannya bernama Street Crew Mitra 2 Malang. Serta beberapa studio musik yang menjadi jujugan arek-arek Malang latihan, salah satunya Antz Studio di Jalan Kalpataru.

Pantengin terus ulasan potret musik di Kota Malang dari tiap dekade yang pastinya sangat menarik dan memberikan pengetahuan tambahan terkait sejarah perkembangan musik di Kota Malang hanya di MalangTIMES.com.

Topik
perkembangan musiklksa al hidayahMusik RockKota Malangdunia musik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru