Potret Musik di Kota Malang (3)

Angkernya GOR Pulosari dan Gema Rock Kota Malang

Jul 01, 2021 15:39
Deretan personel Ogle Eyes. (Foto: Wiwid Ogle Eyes/Buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang)
Deretan personel Ogle Eyes. (Foto: Wiwid Ogle Eyes/Buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang)

MALANGTIMES - Potret musik di Kota Malang terus mengalami perkembangan zaman, seiring  fasilitas dalam menikmati musik terus terlengkapi. Pada era 1970-an sederet band yang mulai bermunculan mulai ke genre rock dan merambah ke panggung-panggung hiburan dengan berkolaborasi bersama band-band dari luar Kota Malang. Mulai dari Surabaya, Bandung hingga Jakarta. 

Aksi dan bakat bermusik arek-arek Malang pun cukup diperhitungkan pasa masa itu. Sederet grup band maupun musisi Kota Malang yang tercatat dan diperhitungkan diantaranya ada Greates (1972), Darkness (1972), Ogle Eyes (1974), Bad Session (1975), Destopz (1975), Arfack (1976), Lady Rocker Sylvia Saartje (1975) dan Q-Red (1979).

Penampilan-Bad-Session-di-GOR-Pulosari-Malang8f7016c2907ab857.jpg

Arief Wibisiono selaku penulis buku "Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang" pun menuturkan bahwa pada era 1970-an terjadi revolusi musik yang membuat arah bermusik berubah.

Di mana yang pada era sebelumnya para grup band lebih memilih menjadi band pengiring dan  memainkan musik bergenre pop. Pada era 1970-an ini grup band maupun musisi yang bermunculan lambat laun menjadi band panggung dan lebih memainkan musik bergenre rock.

Menurut pria yang akrab disapa Bison ini bahwa hal tersebut disebabkan oleh band-band Malang yang lebih sering meniru band dari luar negeri seperti dari Amerika hingga Inggris. Mulai dari Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple hingga Pink Floyd sangat memengaruhi selera bermusik arek-arek Malang. 

Penampilan-Darkness-Band-di-Tribun-Stadion-Gajayana-Malang4ebb198e86a628c9.jpg

"Mereka meplagiat band era 1970-an itu. Pada waktu itu Led Zeppelin, Pink Floyd, Deep Purple itu dicontoh sama teman-teman. Sampai nama band-band di Malang itu pakai Bahasa Inggris semua," ujarnya kepada MalangTIMES.com. 

Sebelumnya pada era 1960-an para musisi lebih memilih nama untuk band nya dengan nama-nama pribumi atau nama-nama lokal dan juga di sponsori oleh perusahaan rokok seperti Bentoel, Eka Dasa Taruna, Jaguar hingga Avia Nada. 

Tidak hanya Bentoel grup band yang disponsori oleh perusahaan rokok di era 1960-an, Ogle Eyes pun juga menjadi salah satu grup band di era 1970-an yang disponsori oleh perusahaan rokok, yakni PT Ongkowijoyo dengan rokok upetnya.

Penampilan-Lady-Rocker-Sylvia-Saartje-di-GOR-Pulosari5440ed507b4803c0.jpg

Selain menggunakan Bahasa Inggris atau kebarat-baratan untuk penamaan grup band, pada era 1970-an juga terdapat grup band yang  menggunakan singkatan nama personel, seperti Q-Red. 

"Q-red itu sebetulnya singkatan nama personelnya. Itu Luki sama Rudi. Rudi itu panggilannya red. Adik kakak ini yang main piano dan main drum. Terus menjadi band namanya Q-Red," tuturnya. 

Beralihnya menjadi band panggung pun tidak terlepas dari pengaruh lagu-lagu yang diputar di stasiun radio, peredaran majalah musik, hingga peredaran kaset pita yang mulai menyasar para penikmat musik di Kota Malang. 

Diantaranya Stasiun Radio PK-17, Radio TT-77, Radio Senaputra, Radio GL dan Radio KDS 8. Lalu peredaran majalah musik di era 1970 yang mendominasi yakni Majalah Aktuil terbitan Bandung yang di distribusikan secara nasional, termasuk hinggap di Kota Malang.  

Suasana-pembelian-tiket-di-Radio-Senaputra-Malang8b438c677949a056.jpg

Para musisi dan grup band pada era 1970-an untuk mengasah skill bermain musiknya, berlatih di kediamannya masing-masing. Karena pada saat itu, pentolan-pentolan musisi di era 1970-an termasuk kalangan orang kaya yang sudah mampu membeli alat musik sendiri.

Di era 1970-an ini pun tempat tongkrongan dan tempat pertunjukan mulai mengalami pergeseran. Di mana pada era 1960-an lebih dominan tempat pertunjukan di gelar di Gedung Flora, Lapangan Basket Tenun dan Gedung Tjendrawasih atau Gedung Kesenian Gajayana.

Pada era 1970-an atau pada masa kepemimpinan Wali Kota Malang Soegiyono atau yang akrab disapa Ebes Soegiyono dibangunlah sebuah tempat pertunjukan yang juga sekaligus menjadi tempat tongkrongan bagi arek-arek Malang. Yakni Gedung Olah Raga (GOR) Pulosari. 

"Kalau nggak salah GOR Pulosari didirikan tahun 1974-1975 juga dibuat tempat nongkrong. Sebelum GOR Pulosari, itu ada Taman Indrokilo. Di belakang Museum Brawijaya yang sekarang jadi perumahan. Namanya Lembaga Kesenian Indrokilo. Bentuknya masih rawa-rawa. Seniman dulu nongkrong di situ," jelasnya. 

Pada era 1970-an, penonton atau penikmat musik pada saat itu terbilang kritis, ekspresif dan inovatif. Dan kekiritisan itu selalu menjadi momok bagi band-band dari luar maupun dalam Kota Malang yang tidak menyajikan penampilan sesuai dengan kaset pita yang kerap kali didengarkan oleh arek-arek Malang. 

"Sangat kritis. Misalnya saya punya kaset Deep Purple, tapi yang nyanyi fals ya saya lempar dengan sesuatu. Sampai ada istilah seperti itu. Kekritisan muncul tahun 1970-an hingga 1990-an masih sangat kental," tuturnya. 

Karena pada saat itu memang arek-arek Malang sangat haus tontonan dan tidak dapat menyaksikan langsung aksi dari band-band pujaannya di Kota Malang. Akhirnya band-band yang tampil di Kota Malang pun dituntut dapat memberikan penampilan yang mirip dengan band pujaan arek-arek Malang.

Pada era 1970-an tersebut, yang kerap kali menjadi tempat pertunjukan yakni GOR Pulosari. Ketua MMI Hengki Herwanto mengatakan bahwa di momen-momen awal, GOR Pulosari menjadi tempat pertunjukan berbagai jenis musik. 

"Beberapa musisi yang pernah main di sana dan cukup banyak penontonnya. Antara lain Rollies, AKA atau SAS dari Surabaya. Kemudian GodBless juga pernah main di sana dan yang juga ramai Rhoma Irama," ujarnya. 

Dari band-band kenamaan Indonesia yang pernah menjajal panggung bulat dengan dikelilingi tribun tempat duduk untuk penonton membuat GOR Pulosari selalu dikenang oleh arek-arek Malang bahkan para musisi yang pernah menjajal "keangkeran" GOR Pulosari.

"Karena dulu arek Malang ketika ingin menikmati sebuah pertunjukan musik dengan usaha yang keras. Juga sempat dulu ada cerita sampai menjual celana bekas untuk menyaksikan band idolanya," imbuhnya. 

Hal itu pula yang menjadi alasan penikmat musik di Kota Malang menginginkan penampilan grup band yang maksimal hingga hampir mirip dengan band-band idola arek-arek Malang. 

Penasaran dengan lanjutan ulasan mengenai potret musik di Kota Malang di setiap dekade, MalangTIMES akan menyajikan perkembangan musik di Kota Malang di serial berikutnya.

Topik
baromoter musikmusik di kota malangteuku iqbal

Berita Lainnya

Berita

Terbaru