Air Tawar Banjiri Laut yang Dibelah Nabi Musa

Jun 30, 2021 10:29
Laut Merah yang dibelah Nabi Musa AS (Foto: YouTube Alman Mulyana
Laut Merah yang dibelah Nabi Musa AS (Foto: YouTube Alman Mulyana

INDONESIATIMES - Kisah para Nabi memang menjadi salah 1 hal menarik untuk diketahui dalam sejarah perjalanan Islam. Salah 1 nabi yang memiliki kisah menarik yakni Nabi Musa AS

Diketahui, ia mendapat mukjizat yang sangat mengagumkan dari Allah SWT. Salah 1 mukjizat yang dimiliki Nabi Musa ialah dapat membelah laut dengan tongkatnya. 

Kala itu, ia tengah mengindari kejaran dari pasukan Firaun. Nabi Musa AS dikaruniai keteguhan hati dan ketabahan yang luar biasa yang menjadikannya menjadi Nabi dengan gelar Ulul Azmi.

Ingin mengetahui bagaimana kondisi Laut Merah yang dahulunya dibelah oleh Nabi Musa AS? Berikut ulasannya dipantau melalui channel Youtube Alman Mulyana. 

Dalam video itu, Alman tengah berkunjung di Laut Merah yang berlokasi di Timur Tengah. Laut Merah berbatasan dengan Arab Saudi, Yaman, Mesir, Sudan, Eritrea, dan Djibouti. 

laut merah

Tampak dari jauh pemandangan Laut Merah yang begitu indah. Menariknya, jalanan menuju Laut Merah itu bukanlah aspal, melainkan karpet tebal. 

Di Laut Merah itu juga difasilitasi sarana olahraga. "Jadi Laut Merah, di sinilah tempat yang menjadi saksi mukjizat NAbi Musa," jelas Alman. 

Tampak sekitaran pantai yang sangat bersih karena selalu dirawat. Selain itu, terdapat pula wilayah air yang pengunjung diperbolehkan untuk berenang.

Ada pula pasir putih yang semakin membuat pemandangan di Laut Merah itu begitu indah. Terlihat air yang begitu bening dan sangat segar. 

Mengejutkannya lagi di sana juga terdapat tempat untuk memancing. Banyak orang yang mendatangi wilayah itu tunuk mencari ikan. 

Alman juga menceritakan bahwa di Laut Merah itu juga terdapat sumber air tawar yang jarang diketahui orang. Sumber air tawar itu mengalir ke Laut Merah. 

Alman pun menunjukkan dimana lokasi air tawar tersebut. "Ini air tawar, keluar dari bawah mengalir ke tengah, bisa kalian perhatikan jadi warnanya beda. Air tawar dan laut tidak menyatu," ujar Alman. 

laut merah1

Alman juga menjelaskan bahwa hal tersebut ada dalil yang menyebutkan bahwa air tawar dan air laut tidak menyatu berbunyi: 

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi," Al-Furqan Ayat 53.

Ada pula dalil yang berbunyi : “Dia membiarkan dua lautan mengalir yg keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yg tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yg kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahman:19-21)

ait tawar

Alman bersama rekannya lantas menuju tempat yang ada tulisan Jaddah. Jeddah sendiri berarti nenek.

Lantas mengapa diberi nama Jeddan? Nama Jeddah dibuat karena lokasi tersebut menjadi tempat diturunkannya Siti Hawa. 

Ini menunjukkan bahwa Siti Hawa merupakan nenek moyang yang pertama kali diturunkan di Jeddah dan dimakamkan di kota Jeddah juga. Sementara Nabi Adam AS diturnkan di India. 

Kisah Adam dan Hawa

Mengapa saat Hawa memakan buah pohon itu pakaiannya tidak terlepas saat itu juga, sementara Adam memakannya, seketika itu juga pakaiannya terlepas?

Seandainya pakaian Hawa terlepas ketika itu juga, tentu Adam akan kembali dan tidak akan memakan buah pohon itu. Di samping itu, denda itu diberikan kepada orang yang bersangkutan karena perintah tersebut pertama kali diberikan kepada Adam.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Adam memakan sesuatu dari pohon itu ketika dia lupa. Allah berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka dia lupa (akan perintah itu)… (QS Thaha : 115).

Setelah Adam as memakan dari pohon tersebut, Allah memerintahkan kepada Jibril untuk menggenggam ubun-ubun Adam dan Hawa dan mengeluarkan mereka berdua dari surga. kemudian Jibril mengeluarkan mereka berdua dari surga dan keduanya dinyatakan telah bermaksiat.

Diriwayatkan, setelah Adam dan Hawa memakan dari pohon itu, keduanya telanjang. Lalu mereka berkeliling mendekati pepohonan yang ada di surga untuk membuat penutup aurat dengan daun-daunnya. 

Ternyata pepohonan yang ada di surga menghindar dari mereka. Hanya pohon Tin yang kasihan kepadanya. 

Pohon itu lantas menutupi aurat Adam dengan daun-daunnya. Menurut sebuah riwayat, yang menutupi aurat Adam adalah kayu ‘ud (kayu gaharu berbau wangi). 

Oleh sebab itu, Allah SWT memuliakan kayu tersebut dengan bau yang wangi dan memuliakan pohon Tin dengan buah manis yang tidak berbiji.

Menurut riwayat lain, dengan kayu Hana’ (sejenis pohon pacar). Oleh karena itu, bekas yang ditinggalkan oleh pohon itu kelihatan baik dan membuat bahagia sehingga pohon tersebut disebut Hana’.

Ka’ab al-Ahbar mengatakan, “Setelah Adam telanjang, Allah mewahyukan kepadanya, ‘Datanglah kepada-Ku, Aku ingin melihatmu.’ Adam menjawab, ‘Wahai Tuhanku, aku tidak sanggup melakukannya. Sebab, aku malu kepada-Mu dan merasa hina.’

Dia mengatakan, kemudian Jibril memegang tangan Adam, sementara Adam dalam keadaan telanjang dan tidak memakai tutup kepala. Jibril turun membawa Adam ke bumi di hari Jumat menjelang matahari terbenam. Adam diturunkan di sebuah gunung yang ada di negeri India yang bernama Rahun.

Sementara Hawa, keindahan dan kecantikannya hilang. Dia dicoba dengan haid dan darinya diputuskan sebutan nasab. 

Akibatnya, keturunan yang lahir kemudian disebut dengan anak-anak Adam, bukan anak-anak Hawa. Sebabnya adalah karena dia bersama Iblis telah memperdaya Adam; dia lebih dahulu memulai memakan sesuatu dari pohon gandum itu.

Hawa diturunkan di dekat pantai laut asin di Jeddah. Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian; sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS Al-A’raaf : 24).

Topik
nabi isa membunuh dajjalAllah SWTfiraun
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru