Dikenal Angker, Lokasi Kecelakaan Maut Poncokusumo Ada Kuburan Mayat Anggota PKI

Jun 02, 2021 19:54
Mbah Supa'at (111), warga Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (foto: Hendra Saputra/MalangTIMES)
Mbah Supa'at (111), warga Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (foto: Hendra Saputra/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Area sekitar di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang tempat terjadinya kecelakaan maut tunggal mobil bak terbuka L300 yang menewaskan 8 orang memang dikenal angker. Mulanya dikabarkan di lokasi kecelakaan terdapat pemakaman korban perang melawan Belanda. 

Namun, belakangan diketahui bahwa di jalur Bromo tersebut adalah tempat pembuangan mayat orang-orang yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Informasi itu didapat wartawan MalangTIMES dari keterangan sesepuh di Desa Wringinganom, Mbah Pa'at.

Insiden kecelakaan tersebut terjadi karena sang sopir dianggap lalai ketika berkendara sehingga membuat mobil yang dikemudikan menabrak satu pohon yang berada di pinggir jalan raya.

Uniknya, pohon tersebut tidak roboh atau mengalami kerusakan parah. Pohon itu hanya terkelupas kulit luarnya saja. Namun pikap yang menabrak justru ringsek di bagian depan hingga menyebabkan sopir mengalami patah di sebagian tulangnya akibat gencatan yang cukup keras.

Melihat fenomena tersebut, wartawan MalangTIMES tertarik untuk mengungkap sisi lain dari peristiwa maut yang membuat sang sopir menjadi tersangka dalam kecelakaan itu. 

Sebelumnya, Kepala Desa (Kades) Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Achmad Muslimin mengatakan bahwa di area dekat dengan TKP terdapat pemakaman korban perang melawan Belanda.

Informasi itulah yang membuat media ini tertarik untuk menguliknya. Menempuh perjalanan sekitar 36 kilometer dari Kepanjen, media ini mencoba mencari narasumber yang mengetahui kebenaran adanya pemakaman tersebut.

Kades Wringinanom, Achmad Muslimin sendiri mencoba memberikan informasi bahwa di Dusun Simpar, Desa Wringinanom terdapat satu orang yang usianya lebih dari 1 abad. Ialah mbah Supa'at yang tepat berusia 111 tahun pada tahun 2021.

Namun untuk menuju kediaman mbah Pa'at tidaklah mudah, karena dari TKP kecelakaan masih harus menempuh kurang lebih 2 kilometer. Bahkan, media ini sempat beberapa kali bertanya kepada warga Dusun Simpar untuk mengetahui rumah pria yang telah lahir 100 tahun lebih itu.

Rumah Mbah Pa'at sendiri berada di perkampungan padat penduduk. Bahkan, media ini harus menaruh kendaraan di depan rumah warga untuk bisa tiba di rumahnya. Karena jarak antar rumah di lokasi tersebut kurang lebih hanya 1,2 meter, sehingga sulit untuk dijangkau dengan kendaraan, terlebih rumahnya berada di ujung perkampungan.

Ketika tiba di lokasi, media ini sudah disambut oleh seorang wanita yang cukup tua. Awalnya media ini mengira bahwa wanita tersebut adalah istri dari mbah Pa'at, namun setelah mempersilakan masuk, ternyata wanita tersebut adalah anak dari Mbah Pa'at. “Monggo, silahkan masuk,” kata wanita yang kemudian masuk melalui pintu belakang.

Didalam rumah, ada seorang laki-laki yang tangannya sudah sangat keriput dengan mengenakan kopyah hitam. Namun wajahnya terlihat masih cukup segar dengan ukuran pria tua.

Wanita tua yang mempersilakan masuk MalangTIMES, keluar dari dalam rumah dan memberi tahu bahwa pria tua tersebut adalah mbah Pa'at. Betapa kagetnya, padahal MalangTIMES awalnya mengira pria tua itu masih berusia 80an tahun.

Perbincangan pun dimulai, Mbah Pa'at secara visual memang terlihat masih segar, namun pandangan matanya terlihat seperti kabur dan harus memperhatikan penuh setiap ucapan yang keluar dari lawan bicaranya.

Ketika disinggung masalah kecelakaan yang terjadi beberapa hari lalu di Jalan Raya Dusun Simpar, mbah Pa'at langsung menyahut bahwa peristiwa itu memang cukup membuat warga setempat sedih. Bahkan, ia yang juga sudah jarang keluar rumah cukup miris mendengar peristiwa itu.

“Kasihan sebenarnya, tapi memang zaman sekarang harus hati-hati ketika melakukan sesuatu hal, pokoknya semua harus hati-hati, tidak boleh sembrono,” kata mbah Pa'at.

Enggan lama-lama untuk mengulik sedikit sejarah kawasan tersebut, media inipun langsung bertanya terkait makam korban perang melawan Belanda zaman dulu. Mbah Pa'at pun awalnya terdiam beberapa detik, namun ia kemudian bercerita sedikit demi sedikit.

Dengan menatap tajam pewarta media ini, mbah Pa'at menjelaskan bahwa memang didekat TKP kecelakaan itu terdapat satu liang yang dulunya digunakan untuk menguburkan para PKI.

“Disitu dulu zaman PKI ada banyak orang dikuburkan dalam satu liang. Kalau 100 orang ya lebih, lubangnya cuma satu saja,” kata mbah Pa'at.

“Waktu itu saya sudah punya anak 1. Cuma tahunnya berapa saya sudah lupa. Yang pasti mayat-mayat tersebut bukan orang Desa Wringinanom. Tapi orang-orang luar yang dibunuh lalu dikuburkan di sini,” imbuhnya.

Menurut mbah Pa'at, ketika itu para PKI dibawa dengan truk dan dikuburkan pada tengah malam, atau sekitar pukul 01.00 WIB. “Warga sini tidak boleh melihat ketika proses pemakaman itu. Kami pun juga tidak berani melihat, takut waktu itu,” cerita mbah Pa'at sembari mengingat kejadian masa lampau itu.

Lanjut mbah Pa'at, pada peristiwa penguburan para PKI itu, ia bersama keluarganya bersembunyi di bawah kursi. “Jangankan keluar rumah, mengintip dari dalam rumah saja tidak berani. Saya sama keluarga ya sembunyi masing-masing, ada yang di bawah kursi, ada yang  di balik tikar,” cerita mbah Pa'at.

Ketika peristiwa kelam itu terjadi, kawasan tersebut dikenal angker oleh warga setempat. Sebab, saat itu wilayah Wringinanom adalah hutan lebat dan belum banyak rumah yang berdiri seperti saat ini. Jika ada rumah, itupun terbuat dari anyaman bambu dan kayu, bahkan penerangan pun juga masih mengandalkan cahaya dari api.

“Kala itu memang belum ada lampu. Jangankan di jalan, rumah warga pun masih menggunakan lampu templok. Jadi pantas jika di sana terkenal angker. Kalau sekarang sudah tidak,” tuturnya.

Ditanya apakah kawasan tersebut kerap terjadi kecelakaan, Mbah Pa'at dengan menghela nafas membenarkan. Bahwa sejak dulu, kawasan itu memang menjadi langganan kecelakaan lalu lintas.

“Tapi paling banyak korbannya ya kemarin (beberapa hari, red) lalu, yang (korbannya, red) sebanyak 8 orang itu kalau tidak salah,” kata dia.

Disinggung lebih dalam tentang lokasi liang tersebut, Mbah Pa'at mengaku bahwa saat ini lokasi itu sudah ditumbuhi tanaman milik warga. Dan memang, ketika MalangTIMES mencari di lokasi tersebut, tidak ada tanda-tanda sebuah liang seperti yang diceritakan oleh mbah Pa'at.

“Oalah Mas, sekarang ya sudah tidak kelihatan. Di situ kan sudah ditanami sama warga, karena itu tanahnya juga milik warga dan sudah zaman dulu,” terang dia.

Diberitakan sebelumnya, kendaraan pikap yang mengangkut ibu-ibu arisan dari Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang menuju Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu.

Akibatnya, sebanyak 8 dari 14 orang tewas pada peristiwa itu. Penyebabnya karena sopir mengantuk dan sempat terlelap saat menyetir. Sehingga kendaraan tidak mengarah sesuai jalur dan menabrak pohon di pinggir jalan.

Kini sopir kendaraan pikap itu, Muhammad Asim (44), warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang akibat lalai dalam berkendara.

Topik
Kecelakaan mautachmad musliminmbah pa'atmbah pa'at

Berita Lainnya

Berita

Terbaru