Pelukis Tunadaksa Sadikin Pard, Hasilkan 75 Karya Selama Pandemi

May 17, 2021 06:49
Tampak Sadikin Pard sedang melukis kawanan gajah dengan menggunakan kakinya. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Tampak Sadikin Pard sedang melukis kawanan gajah dengan menggunakan kakinya. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pandemi covid-19 tidak menyurutkan semangat seniman lukis kawakan asal Malang Sadikin Pard. Pelukis 54 tahun, yang memiliki kekurangan fisik  dengan tidak memiliki dua tangan alias tunadaksa, itu terus menghasilkan karya seni berkualitas. Ada kurang lebih 75 lukisan yang dia hasilkan selama pandemi covid-19.

Tetap semangat berkarya itu tak lepas dari prinsulip hidup Sadikin  yang terus dipegang teguh. Yakni 'ada cara untuk lebih mudah'. Prinsip itulah yang membuat Sadikin terus bersemangat, semakin tangguh, dan mencari celah agar dapat menghasilkan karya seni luar biasa. 

"Semua profesi itu kalau digeluti dengan sungguh-sungguh bisa bermanfaat dan bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Saya pernah melukis lukisan rohani, lukisan keluarga Kudus berukuran 90 x 120 sentimeter. Itu terjual mencapai Rp 435 juta,  laku di Balikpapan," ungkap dia di rumahnya, Jalan Selat Sunda Raya, Kota Malang.

Perjalanan berkesenian Sadikin dirintis sejak dirinya mengenyam bangku TK (taman kanak-kanak). Ketertarikannya kepada dunia seni muncul saat mata pelajaran di sekolahnya lebih dominan  pelajaran menari, menyanyi, dan melukis. 

Beranjak SMP, Sadikin menjadikan melukis sebagai hobi. Orang tuanya pun mendukung dengan mendatangkan  guru privat melukis.

Selanjutnya di SMA, kemampuan melukisnya sangat menonjol. Sampai-sampai teman-temannya sering meminta bantuan kepada Sadikin ketika ada tugas pelajaran melukis. 

"Tapi sebenernya cita-cita saya bukan sebagai seorang pelukis. Dulu saya bercita-cita sebagai seorang arsitek sehingga saya menyukai pelajaran seperti matematika dan fisika," terangnya. 

Namun, ketika dirinya tidak masuk jurusan IPA di SMA, Sadikin merasa cita-citanya kandas untuk menjadi seorang arsitek. Hingga akhirnya dia melanjutkan pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). "Di psikologi sebenarnya hanya pelarian karena saya mau masuk apa pun seperti ekonomi, hukum, itu nggak bisa. Apalagi arsitek," ujarnya. 

Seiring berjalannya waktu semasa kuliah, tepatnya pada semester tiga, Sadikin kembali melihat peluang untuk menekuni hobinya, yakni melukis. Lalu dia mencoba mendaftar ke Assosiation of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) yang bergelut dalam dunia lukis khusus difabel. 

"Saya bersyukur diterima mulai September 1989. Sampai detik ini saya menjadi salah satu anggota dari Indonesia. Itu pusatnya di Swiss yang anggotanya dari seluruh dunia. Anggotanya sekitar 800 sampai 1.000-an," ungkapnya.

Kesibukan Sadikin dalam kegiatan AMFPA membuat dirinya tidak dapat mengatur waktu kuliah. Akhirnya Sadikin harus menghentikan kuliahnya di semester delapan. 

"Waktu itu saya berpikiran kuliah untuk cari pekerjaan. Tapi setelah sudah bekerja, saya pikir-pikir waktu itu ngapain saya kuliah. Akhirnya dengan berat hati saya lepas. Saya memfokuskan diri sebagai pelukis profesional," katanya. 

Akhirnya Sadikin menekuni hobi masa kecilnga, yakni melukis. Sadikin pun terus berusaha  menghilangkan stigma seorang seniman yang tidak punya aturan dan seenaknya sendiri. Dia membiasakan diri untuk melukis setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB. "Selama pandemi saya sudah menghasilkan karya lebih dari 75 lukisan," ujarnya. 

Dalam melukis, Sadikin menggunakan kaki dan mulut. Terkadang juga menggunakan badannya dengan bergulung-gulung. 

Menurut Sadikin, apa pun pekerjaannya, ada cara untuk lebih mudah. Dia mencontohkan kalau melukis dalam kanvas yang besar dan  tidak bisa menjangkaunya, maka dia akan memutar kanvasnya. 

Sadikin selalu menuangkan emosinya dalam kanvas dan cat menjadi sebuah karya lukis. Selain itu, bagi Sadikin, melukis bukan suatu beban dan tanggung jawab, tetapi untuk menenangkan pikiran hingga membuatnya segar dan senang. 

"Dulu aliran lukis saya realis dan naturalis. Setelah itu, saya ke impresionis, aliran yang mengandalkan antara gelap dan terang, main shadow. Saya di situ merasa nyaman dalam melampiaskan emosional saya," pungkasnya.

Topik
Pelukis difabelSadikin PardPelukis kawakanSepatu canggih

Berita Lainnya

Berita

Terbaru