Menyibak Misteri Buah Mojo, Tumbuhan yang Banyak Ditemui dalam Catatan Kuno

May 16, 2021 09:36
Tampak dekat Buah Mojo. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES).
Tampak dekat Buah Mojo. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Masyarakat Jawa Timur pasti tidak asing dengan adanya keberadaan Buah Mojo. Pasalnya, mayoritas masyarakat Jawa Timur kerap kali menghubungkan Buah Mojo dengan Kerajaan Majapahit. Lantas, apakah benar buah mojo itu sendiri memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit?

Sejarawan Universites Negeri Malang Dwi Cahyono mengatakan, terdapat tiga jejak yang dapat digunakan untuk melacak fakta pohon mojo. Diantaranya, keberadaannya, toponimi atau kata yang digunakan sebagai nama daerah dan sejarahnya. 

Dwi mengatakan, persebaran Buah Mojo sangat banyak sekali, khususnya di wilayah Jawa Timur. Terlebih lagi habitatya berada di Pulau Jawa.

"Pohon ini habitatnya di Jawa, dia mudah hidup asalkan tidak terlalu kering. Seperti di daerah gunung kapur dan lereng. Dia banyak hidup ditempat tempat cukup air seperti DAS atau daerah cekungan yang airnya melimpah," jelasnya. 

Saat ini, anak-anak maupun remaja mulai dikenalkan bentuk Buah Mojo yang membuat selalu terngiang-ngiang. Lanjut Dwi, bahwa dalam hal memorial Pohon Mojo selalu dikaitkan dengan asal mula penamaan Kerajaan Majapahit.

"Dulu Buah Mojo banyak dimanfaatkan untuk wadah air. Namun saat ini pemanfaatan Pohon Mojo permintaannya sangat minim. Buah Mojo dapat digunakan sebagai bahan pengobatan. Namun pohonnya hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar karena tidak bagus untuk papan atau bahan bangunan," terangnya. 

Dijelaskan oleh Dwi, bahwa kulit dari Buah Mojo tersebut dapat mengering yang nantinya dapat digunakam sebagai tempurung. "Kulitnya akan mengering dan menebal yang akhirnya bisa dipakai seperti tempurung. Dulu Pohon Mojo dimanfaatkan untuk wadah air. Kalau sudah kering memang seperti batok," jelasnya. 

Tampak Pohon Mojo.

Berdasarkan jejak sejarah, Dwi mengatakan untuk Pohon Mojo banyak ditemui didalam prasasti dala susastra. Keberadaan Pohon Mojo sendiri juga digunakan sebagai kerajaan yakni Kerajanan Majapahit. 

Dalam sejarah lisan maupun tertulis Dwi mengatakan bahwa setelah tumbangnya Kerajaan Singasari oleh Jayakatwang dari Kerajaam Kediri, Raden Wijaya meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja yang merupakan arsitektur politik pada masanya di Songhenep yang sekarang bernama Sumenep, Madura. 

Kemudian Arya Wiraraja memberikan petuah kepada Raden Wijaya agar segera beraudiensi dengan Kerajaan Kediri untuk menyatakan tunduk dan mengakui kekalahannya. Namun itu semua dilakukan sebagai strategi atau taktik dalam merebut kembali kekuasaannya. 

"Jadi Raden Wijaya beraudiensi ke Jayakatwang sebagai taktik dengan menyatakan takluk atau menyerahkan diri. Tapi dengan meminta area lahan untuk membuat suatu pemukiman kecil," terangmya. 

Lalu Jayakatwang pun menerima permintaan dari Raden Wijaya terkait pemberian lahan di hutan trik atau hutan tarik yang berada di Sidoarjo. Kemudian Raden Wijaya membuka pemukiman dihutan itu dengan dibantu pengikutnya. 

"Ketika proses pembangunan pemukiman, pengikut Rade Wijaya mengalami kehausan dan menemukan Pohon Mojo yamg berbuah lebat dan tampak segar. Mereka mengira Buah Mojo seperti jeruk bali atau semangka," terangnya.

Saat dibuka para pengikut Raden Wijaya mulanya mengira didalam Buah Mojo tersebut seperti melon atau jeruk bali. Setelah dibuka dan dinikmati produk tersebut, rasanya pahit. 

"Hal itulah yang kemudian memunculkan unsur toponimi buah maja yang rasanya pahit dan kemudian melatar belakangi nama Kerajaan Majapahit," tandasnya.

Topik
tragedi pembacokanKerajaan MajapahitDwi Cahyono

Berita Lainnya

Berita

Terbaru