Candiono Halim Berhasil Manfaatkan Limbah Elektronik Menjadi Miniatur yang Berharga

May 12, 2021 10:48
Candiono Halim bersama miniatur hasil kreasinya yang memanfaatkan limbah kabel. (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES) 
Candiono Halim bersama miniatur hasil kreasinya yang memanfaatkan limbah kabel. (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Candiono Halim, seorang warga Jalan Kebalen Wetan VI, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang memiliki kreativitas dalam mengolah limbah elektronik menjadi miniatur yang bernilai ekonomis. 

Berbagai macam limbah elektronik seperti kulit kabel, kawat tembaga, kapasitor dan transitor menjadi sangat bermanfaat dan berharga jika sudah berada di tangan Halim. Pasalnya dengan bahan-bahan limbah elektronik tersebut, dapat menghasilkan berbagai macam miniatur. Seperti miniatur sepeda pancal, sepeda motor, becak, dokar dan lain sebagainya. 

Pria yang akrab disapa Halim ini mengatakan bahwa dari bahan limbah kulit kabel dia ubah menjadi layaknya ban sepeda dan untuk kawat tembaganya ia jadikan serangkaian kerangka sepeda. Lalu untuk limbah kapasitor dan transitor dirangkai menjadi sedemikian rupa untuk menjadi mesin motor. 

"Bahan yang dipakai dari limbah elektronik. Seperti onderdil dalam radio yang memiliki komponen kecil-kecil. Di situ ada kapasitor, transistor yang bisa kita tempel-tempel aja sesuai imajinasi," ungkapnya. 

Lanjur Halim, untuk teknik pembuatannya sendiri, pertama dirinya akan mengukur panjang limbah kabel yang akan dipakai. Pengukuran sendiri dilakukan bertujuan untuk memperkirakan kebutuhan dalam membuat satu produk miniatur, serta agar memiliki ukuran yang sama. 

"Kita ukur dulu agar ukurannya sama. Lalu jika ditata akan terlihat rapih dan detail. Dan juga akan enak dipandang," ujarnya. 

Setelah dilakukan pengukuran pada limbah kabel yang akan digunakan, Halim kemudian menyiapkan peralatan untuk merangkai berbagai macam limbah elektronik tersebut. 

"Peralatan yang dipakai cukup mudah diperoleh yaitu solder untuk menyambungkan tiap komponen kawat tembaga. Selain itu ada gunting, penggaris, serta lem untuk menyambung ban dari kulit kabel," terangnya. 

Setelah semuanya telah terangkai dengan bagus, barulah produk-produk miniatur olahan tangan kreativitas Halim sudah dapat dipajang untuk dijual. Proses pembuatan miniatur yang membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi, karena bahan-bahan elektronik harus tepat saat disolder. 

Untuk proses panjang pembuatannya sendiri, Halim mematok harga yang bervariasi. Mulai yang paling murah dengan harga Rp 75 ribu hingga paling mahal sebesar Rp 1,5 juta. 

"Harga bervariasi mulai harga Rp 75 ribu hingga Rp 1,5 juta. Sepeda ontel harganya Rp 75 ribu, becak Rp 150 ribu, kereta tanpa kuda Rp 350, motor harley ini yang paling mahal Rp 1,5 juta," bebernya. 

Meskipun di dalam prosesnya Halim sangat peduli dengan lingkungan dengan mengurangi sampah elektronik yang dapat dibuat karya seni miniatur yang bernilai ekonomis. Namun dengan adanya pandemi Covid-19, penghasilan Halim dari berjualan miniatur dari limbah elektronik turun dan sepi peminat. 

"Penjualan akhir-akhir ini turun drastis, hanya sekitar 20 hingga 30 persen bahkan tidak sama sekali. Kita telateni aja, kita kuatkan mental berjualannya," tandasnya. 

Terakhir Halim pun berharap supaya pandemi Covid-19 dapat segera berakhir, agar dirinya dapat menjual miniatur yang ia buat dari limbah elektronik tersebut dan pembeli kembali normal sediakala.

Topik
seniman miniaturkreasi limbah elektroniklimbah elektronikSoal musik

Berita Lainnya

Berita

Terbaru