Terdampak Pandemi Covid-19, Perajin Topeng Polowijen Beralih Profesi Jadi Tukang Kayu

May 12, 2021 10:30
Perajin Topeng Polowijen Yulianto (35) bersama dengan topeng-topeng hasil karyanya, Minggu (9/5/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Perajin Topeng Polowijen Yulianto (35) bersama dengan topeng-topeng hasil karyanya, Minggu (9/5/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Akibat terdampak pandemi Covid-19, perajin Topeng Polowijen yakni Yulianto (35) warga Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang harus menerima untuk kembali beralih profesi menjadi tukang kayu dan tukang batu lagi. 

Hal itu harus ia lakukan karena penjualan Topeng Polowijen sepi peminat. Di mana kunjungan wisatawan ke Kampung Budaya Polowijen selama pandemi Covid-19 sedang merosot dan juga ia harus tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarga.  

"Kalau sekarang memang hampir nggak ada penjualan karena terdampak Covid-19 ini mas. Kalau saya kan punya latar belakang tukang kayu dan tukang batu, jadi kondisi sepi seperti ini saya balik ke pekerjaan lama," ungkapnya. 

Yulianto pun akhirnya sedikit menceritakan perjalanannya untuk membuat kerajinan topeng sejak tahun 2017. Untuk proses belajarnya sendiri, Yulianto belajar secara otodidak setelah kepincut seni ukiran Topeng Polowijen. 

Karena awalnya, untuk bertekad belajar secara otodidak membuat topeng, Yulianto terlebih dahulu membeli topeng yang kemudian ia belajar membuat karakter di topeng yang dibelinya itu secara teliti dan ukiran yang detail. 

"Sebetulnya tiap karakter hampir sama tapi beda bentuk saja. Beda ukirannya, irah-irahannya, kalau mukanya hampir sama. Di Polowijen ini yang paling banyak dibuat ya karakter Ragil Kuning, Raden Gunungsari, Panji Asmorobangun dan Sekartaji," bebernya. 

Selain telah berkarya selama kurang lebih 14 tahun dalam membuat karya seni topeng, Yulianto juga merupakan salah satu perajin topeng yang disegani utamanya oleh masyarakat di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Hal itu disebabkan oleh karya seni topeng buatan Yulianto memiliki ketelitian dan ukiran yang detail. 

Ternyata, dengan menjadi perajin Topeng Polowijen, Yulianto memiliki misi dalam memberikan pengenalan budaya kepada para generasi muda Kota Malang khususnya yang berada di sekitar kediamannya yakni Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. 

"Menjadi perajin topeng polowijen ni juga sekalian memperkenalkan budaya ke generasi muda. Untuk saat ini kan kalau nggak dikembangkan, kemungkinan satu tiga tahun kedepan kalau penerusnya tidak ada otomatis punah topeng ini," terangnya. 

Lanjut Yulianto bahwa sebelum terjadinya pandemi Covid-19, penjualan Topeng Polowijen bisa tembus sehari sebanyak 5 topeng polowijen laku terjual. Bahkan juga menembus pasar eropa. 

"Harga satu topeng ini saya patok mulai Rp 150 ribu sampai Rp 600 ribu," ujarnya. 

Selama tiga tahun berjalan Yulianto pun menjadikan perajin Topeng Polowijen sebagai profesi karena permintaan dari pembeli yang banyak. 

"Dulu topeng itu menjadi sumber pendapatan utama. Dulu 3 tahun itu gak pernah kerja selain topeng ini. Setiap hari saya buat topeng. Sekarang balik lagi ke pekerjaan lama," terangnya. 

Namun dengan adanya pandemi Covid-19 semua berubah. Yulianto berharap bahwa Topeng Polowijen tetap menjadi peninggalan budaya yang harus dilestarikan dan mengajak generasi muda agar terus mencintai budaya sendiri, utamanya budaya asli Malang. 

"Kalau saya boleh menyampaikan ya cintailah budaya kita sendiri. Jangan mencintai budaya asing. Kalau nggak mencintai budaya kita sendiri, lama lama ya punah. Ayo generasi muda harus ada yang mau meneruskan peninggalan berharga ini," pungkasnya.

Topik
perajin topeng polowijenYuliantoprogram pegadaianKampung Budaya PolowijenPandemi Covid 19

Berita Lainnya

Berita

Terbaru