Penentang Islam yang Akhirnya Jadi Pahlawan Islam (6)

Membunuh Hamzah dan Nabi Palsu dengan Tombak yang Sama, Mendakwahkan Islam ke Luar Arab

May 10, 2021 19:09
Ilustrasi (Foto: scottlapierre.org)
Ilustrasi (Foto: scottlapierre.org)

INDONESIATIMES - Wahsyi bin Harb dikenal juga dengan  nama Abu Dasamah. Wahsyi merupakan hamba sahaya atau budak dari Jubair bin Muth’im, seorang bangsawan Quraisy.

Dikisahkan bahwa paman Wahsyi bin Harb, Thu’aimah bin Adi, tewas dalam Perang Badar di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mendengar kematian pamannya, Wahsyi sangat sedih dan geram. 

Ia lantas senantiasa menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam atas kematian pamannya itu. Tak lama kemudian, kaum Quraisy mengambil keputusan untuk pergi ke Uhud guna menghukum Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang telah membunuh kawan-kawan mereka saat Perang Badar. 

Lalu dibentuklah sebuah pasukan besar yang dipimpin  Abu Sufyan bin Harb. Abu Sufyan memutuskan untuk mengikutsertakan para wanita dalam perang tersebut. 

Para wanita itu adalah mereka yang keluarganya telah terbunuh dalam Perang Badar. Mereka lantas ditempatkan di samping laki-laki untuk mencegah agar mereka tidak melarikan diri. 

Di antara para wanita kafir  Quraisy itu, yang pertama mendaftarkan diri adalah Hindun binti Utbah. Hindun merupakan istri Abu Sufyan bin Harb.

Hindun juga memendam dendam mendalam terhadap kaum Muslimin, terutama Hamzah. Pasalnya, keluarga terdekatnya tewas di Perang Badar.

Ayah Hindun, Utbah bin Rabi'ah dibunuh oleh Ubaidah bin Harits. Pamannya, Syaibah bin Rabi’ah, tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib. Sedangkan saudaranya, Al-Walid bin Utbah, mati di tangan Ali bin Abi Thalib.

Hingga akhirnya, pasukan kafir Quraisy berangkat ke Uhud dan Jubair bin Muth’im berkata kepada Wahsyi: “Wahai Abu Dasamah, maukah engkau bebas dari perbudakan?" 

“Bagaimana caranya" tanya Wahsyi.

“Bila engkau berhasil membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Muhammad yang telah membunuh pamanmu, Thu’aim bin Adi, maka engkau kubebaskan dari perbudakan." kata Jubair.

“Siapa yang menjamin kebebasanku bila aku berhasil?” tanya Wahsyi.

“Siapa saja yang engkau kehendaki. Akan kupersaksikan janjiku ini kepada seluruh masyarakat,” tegas Jubair.

Wahsyi lantas setuju dengan perjanjian itu. Ia segera mengambil lembingnya dan berangkat bersama-sama dengan pasukan kafir Quraisy.

Wahsyi berada di belakang pasukan bersama para wanita karena ia tak terlalu mahir dalam berperang. Hanya, Wahsyi memiliki kemahiran melempar lembing. Lemparan tombaknya itu tidak pernah meleset sedikit pun dari sasaran.

Setiap kali bertemu dengan Wahsyi, Hindun selalu melihat ke arah lembingnya yang berkilat-kilat terkena sinar matahari. Hindun pun berkata, “Wahai Abu Dasamah, sembuhkanlah luka hati kami. Tuntutkan bela dari Muhammad atas kematian bapak, paman, dan saudara kami.”

Saat dua pasukan bertemu, Wahsyi keluar dari tenda dan mengincar Hamzah secara diam-diam. Tak sulit bagi siapa pun untuk mengetahui siapa sosok berjuluk Assadullah atau Singa Allah itu. Hamzah sendiri memiliki khas dengan selalu memakai bulu burung unta di kepalanya sebagai tanda kepahlawanan seperti lazimnya orang Arab waktu itu.

Tak lama kemudian, Wahsyi melihat Hamzah maju bagaikan unta kelabu, merobohkan lawan-lawannya dengan pedang tanpa hambatan. Tidak ada yang berani menghadang atau berdiri di hadapan Hamzah.

Sementara, Wahsyi berdiri di balik sebuah batu besar, Ia menunggu Hamzah mendekat ke arahnya. 

Tiba-tiba seorang penunggang kuda pasukan kafir Quraisy yang bernama Siba’ bin Abdul Uzza datang dan menantang Hamzah ke arah Wahsyi. “Lawanlah aku, wahai Hamzah! Kemarilah!” tantang Siba’.

Hamzah menoleh lalu melompat ke arah Siba’. Tangannya bergerak memukulkan pedang. 

Sekali tebas, Siba’ jatuh tersungkur bermandikan darah di hadapan Hamzah. Wahsyi pun lalu mengambil ancang-ancang dengan posisi yang tepat sambil membidikkan tombaknya.

Setelah dirasa mantap, Wahsyi lalu melemparkan senjata tersebut ke arah Hamzah. Lembing itu melesat ke depan dan tepat mengenai perut Hamzah bagian bawah, tembus ke selangkangannya.

Sang Singa Allah itu lantas melangkah berat kira-kira dua langkah, lalu jatuh dengan lembing bersarang di tubuhnya. Wahsyi yang melihat itu, tak bergerak dari tempat persembunyiannya. 

Setelah yakin Hamzah benar-benar tewas, barulah ia mendatangi tubuh Hamzah dan mencabut lembingnya. 

Wahsyi lalu kembali ke perkemahan karena tak ada kepentingan selain itu. Kala itu, pertempuran berkecamuk dengan sengitnya. Korban mulai berjatuhan, tatkala tentara kaum Muslimin mengalami desakan hebat. 

Hindun dan beberapa wanita lainnya lalu keluar dari perkemahan. Mereka melangkah di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.

Satu per satu mayat dibedah perutnya hingga mencongkel mata mereka. Sedangkan hidung dan telinga dipotong lalu dijadikan kalung.

Yang lebih mengerikan, Hindun mengunyah hati Hamzah. Namun, Hindun muntahkan kembali. 

Usai Perang Uhud, Wahsyi kembali ke Kota Makkah bersama rombongan tentara kafir Quraisy.  Sampai di Makkah, ia dibebaskan oleh Jubair sesuai dengan janjinya. Sejak saat itu, Wahsyi bebas dari perbudakan dan merdeka.

Semakin hari, kaum Muslimin yang ada di Madinah kian bertambah. Pasukan Islam pun semakin kuat dan besar. 

Semakin bertambah kekuatan kaum Muslimin, semakin besar kekhawatiran Wahsyi. Ia mengalami kegelisahan dan ketakutan yang semakin menghantuinya.

Tatkala kaum Muslimin pun berhasil menguasai Kota Makkah, Wahsyi melarikan diri ke Kota Thaif mencari tempat yang aman. Namun hanya beberapa saat saja, penduduk Thaif menyatakan diri masuk Islam. Wahsyi bingung hendak lari ke mana.

Penyesalan pun akhirnya datang menyelimuti hatinya. Bumi yang luas terasa sempit. 

Dalam keadaan itu, muncul seorang sahabat dan menasihati Wahsyi: “Percuma saja engkau melarikan diri, Wahsyi. Demi Allah, Muhammad tidak akan membunuh orang yang masuk agamanya dan mengakui kebenaran Allah dan rasul-Nya,” ujar sahabat tersebut.

Mendengar nasihat itu, Wahsyi lantas berangkat ke Madinah. Di hadapan Rasulullah SAW ia menyatakan diri masuk agama Islam.

Namun, begitu mengetahui Wahsyi merupakan pembunuh pamannya, Hamzah, Rasulullah justru memalingkan muka dan tidak mau melihat wajah Wahsyi.

"Kumaafkan kesalahanmu. Namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini," ujar Rasulullah.

“Mengapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?” tanya Wahsyi.

“Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu, aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak dihancurkan olehmu saat itu. Aku teringat wajah Hamzah. Makanya jangan muncul di hadapanku lagi," kata Rasulullah.

Wahsyi pun tahu bahwa Islam menghapus dosa-dosanya yang telah lalu. Tapi Wahsyi tetap menyesal. Ia tahu bahwa musibah yang ia lakukan kepada kaum Muslimin kala itu sangat besar dan keji. Yakni, Wahsyi telah membunuh seorang pahlawan Islam secara licik dan tidak jantan.

Karena itulah, Wahsyi selalu menunggu kesempatan untuk menebus dosanya. Setelah Rasulullah SAW wafat, pemerintahan beralih ke tangan Abu Bakar Shiddiq RA. 

Saat itulah, banyak yang murtad lagi. Salah satunya, di bawah pimpinan nabi palsu Musailamah Al Kazab, Bani Hanifah dari Nejed murtad dari agama Islam. 

Khalifah Abu Bakar lalu menyiapkan bala tentara untuk memerangi Musailamah dan mengembalikan Bani Hanifah ke pangkuan Islam.

Mendengar kabar itu, Wahsyi tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Bersama pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid, ia berangkat ke medan Yamamah. 

Tak lupa Wahsyi selalu membawa lembing yang dipakainya untuk membunuh Hamzah. Dalam hati Wahsyi bersumpah akan membunuh Musailamah atau ia tewas sebagai syahid.

Saat kaum Muslimin berhasil mendesak Musailamah dan pasukannya ke arah “Kebun Maut”, Wahsyi termasuk salah seorang yang selalu mengintai nabi palsu itu.

Hingga akhirnya, Al-Barra’ bin Malik berhasil membuka pintu gerbang pertahanan musuh. Wahsyi dan kaum Muslimin lalu tumpah ruah menyerbu markas Musailamah tersebut.

Seorang Anshar turut mengincar Musailamah seolah-olah tak boleh ada orang lain yang mendahuluinya. Namun, Wahsyi bin Harb juga melompat ke depan. 

Setelah berada di posisi yang tepat, Wahsyi langsung membidikkan lembingnya ke arah sasaran. Begitu dirasa tepat, Wahsyi melemparkan senjatanya dan lembing melesat ke depan mengenai sasaran.

Pada saat yang sama, prajurit Anshar yang sejak semula turut mengincar, melompat secepat kilat dan memukul leher Musailamah dengan pedangnya.

Lantas, siapakah yang sebenarnya membunuh Musailamah? Mengenai itu, hanya Allah SWT-lah yang tahu. 

Jika benar Wahsyi yang membunuhnya, maka ia telah menebus kesalahan membunuh Hamzah saat Perang Uhud.

“Sungguh dengan tombak itu aku telah membunuh sebaik-baiknya manusia. Dan aku berharap, semoga Allah mengampuniku, karena dengan tombak itu pula, aku telah membunuh seburuk-buruknya manusia," kata Wahsyi di hadapan pemuda Anshar tersebut.

Apa ganjaran orang yang telah membunuh musuh Islam? Kecuali surga.

Setelah membinasakan nabi palsu itu, Wahsyi bertekad mengembangkan agama Islam. Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk memeluk Islam. Hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab.

Topik
Kisah Sahabat Rasulullahkisah islamisejarah islamRamadan CareWahsyi bin Harb

Berita Lainnya

Berita

Terbaru