Penentang Islam yang Akhirnya Jadi Pahlawan Islam (2)

Sosok di Balik Kekalahan Muslim di Perang Uhud, Satu-satunya Sahabat Berjuluk Pedang Allah

May 06, 2021 16:09
Ilustrasi (Foto: ganaislamika.com)
Ilustrasi (Foto: ganaislamika.com)

INDONESIATIMES - Nama Khalid bin Walid cukup dikenal dalam sejarah perjalanan Islam. Ia merupakan sosok pembenci Islam yang berbalik menjadi pejuang Islam.

Awalnya, Khalid adalah salah satu kesatria tangguh dari Suku Quraisy. Sebagaimana banyak  anggota kafir Quraisy lainnya, Khalid begitu membenci Islam.

Khalid merupakan tokoh di balik kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud. Bahkan ia menyusun strategi jitu untuk membalik serangan pasukan Islam yang sudah unggul sehingga berujung kekalahan.

Saat Perang Uhud, Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukan pemanah untuk tidak meninggalkan posisinya dengan alasan apa pun. Pasukan Quraisy pun berhasil dipukul mundur. Saat itulah pasukan pemanah Muslim mengira musuh sudah kalah. Mereka meninggalkan posisinya untuk ikut menikmati harta rampasan perang.

Mereka justru tak menyadari ternyata kafir Quraisy masih menyiapkan pasukan tersembunyi di bawah komando Khalid bin Walid. Melihat pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, Khalid lantas segera melakukan serangan balasan.

Khalid menempatkan pasukannya di atas bukit. Seketika itu, serangan dilancarkan hingga membuat pasukan Islam porak-poranda.

Khalid Masuk Islam

Setelah Perang Uhud, lambat laun, hati Khalid mulai tergerak. Ia berubah dan memutuskan untuk memeluk Islam. 

Pada tahun ke-8 Hijriah, Khalid pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah SAW. Mendengar Khalid memutuskan untuk masuk Islam, Rasulullah merasa sangat bahagia. Khalid dianggap mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad.

Sesaat setelah Khalid mengucapkan kalimat syahadat, Nabi Muhammad menitipkan pesan yang dalam kepada sahabat-sahabat yang lain. Ia berkata, "Jangan sakiti Khalid karena sesungguhnya ia adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada orang-orang kafir."

Saat masuk Islam, hal pertama yang Khalid minta kepada Nabi Muhammad SAW adalah mendoakan dia agar Allah SWT mengampuni segala dosanya di masa lampau terhadap umat Islam. Rasulullah SAW pun mengatakan kepada Khalid bahwa keputusannya memeluk Islam berarti segala dosanya telah diampuni oleh Allah SWT. Sejak itu, Khalid berbalik menjadi pejuang Islam.

Perang Mu'tah merupakan pertempuran pertama  yang dijalankan Khalid sebagai tentara Islam. Kala itu, umat Islam harus berperang melawan pasukan Romawi yang membantai umat Islam di wilayah Levant.

Kala itu, kekuatan kedua belah pihak sangat tidak seimbang. Kerajaan Romawi mengerahkan 200 ribu pasukan.  Sementara pasukan Muslim hanya diperkuat 3.000 pejuang.

Dalam perang itu, Rasulullah mendaulat tiga sahabat menjadi panglima perang secara bergantian dengan mengamanatkan panji La Ilaaha Illallah kepada mereka. Mereka adalah Jafar bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah.

Tiga panglima perang itu gugur di medan pertempuran Mu'tah. Akibatnya, terjadi kekosongan komando dalam pasukan Islam. 

Menghadapi hal itu, salah satu sahabat Nabi, yakni Tsabit bin Al Arqam, segera memungut panji dan meminta seorang dari pasukan Muslim untuk menjadi panglima perang. Seluruh pasukan bersepakat mengangkat Khalid bin Walid sebagai panglima perang.

Namun, saat mendapat amanah itu, Khalid ragu mengingat dia baru saja memeluk agama Islam. Khalid lantas mengatakan bahwa Tsabit-lah yang pantas memimpin pasukan. 

Tsabit dan para pejuang Islam bersikeras Khalid harus memimpin pasukan. Itu karena Khalid memiliki pengalaman tempur yang mumpuni. Akhirnya Khalid bersedia menjadi panglima.

Karena pasukan Islam hampir mengalami kekalahan, tak ada pilihan lain bagi Khalid selain mundur dan menarik pasukan. Namun, keputusan itu justru memberikan kesempatan kepada Khalid untuk mengubah strategi tempur.

Dia merombak sayap kanan dan kiri pasukan Islam. Saat bertempur, barisan utama pasukan maju lebih dulu. Kemudian barulah sayap kanan dan kiri bergabung. 

Strategi yang dilakukan Khalid kala itu cukup jitu. Musuh pun mengira pasukan Islam seperti mendapat tambahan pasukan. Perang pun berhasil dimenangkan pihak Islam, lalu Khalid memerintahkan seluruh pasukan kembali ke Madinah. 

Pemimpin Pasukan Islam saat Penaklukan Makkah

Walau baru masuk Islam, Khalid bin Walid menjadi salah satu sosok yang berperan dalam penaklukan Makkah. Diketahui, 10 ribu pasukan Muslim kala itu bergegas meninggalkan Madinah menuju Makkah. 

Nabi Muhammad SAW-lah yang memimpin pasukan besar tersebut. Karen Armstrong dalam bukunya, Muhammad Sang Nabi, menyatakan semula seorang pun tak tahu ke mana tujuan ribuan pasukan itu. 

Bisa saja, pasukan tersebut diarahkan ke Makkah atau menyerang suku-suku di selatan Madinah atau Thaif yang selama ini masih berlaku keras terhadap Muslim. Peristiwa ini terjadi pada 10 Ramadan 8 Hijriah atau Januari 630 M. 

Hingga akhirnya, kabar gerak pasukan besar ini pun terdengar. Tak hanya oleh kelompok-kelompok suku di selatan, tapi juga terdengar hingga oleh kaum Quraisy di Makkah. 

Lantas Suku Hawazin, yang berada di selatan, bersiap diri menyambut serangan Nabi Muhammad SAW dan pasukannya. Malam sebelum pasukan menuju Makkah, salah satu petinggi Quraisy, yakni Abu Sufyan, bersama Abbas bin Abdul Muthalib bertemu Muhammad.

Muhammad sempat bertanya kepada Abu Sufyan apakah ia siap menerima Islam. Abu Sufyan menjawab ia sepakat akan proklamasi bahwa tiada Tuhan selain Allah SAW. Namun, ia juga mengungkapkan masih meragukan kenabian Muhammad SAW. Abu Sufyan bahkan sempat mengamati pasukan besar Nabi Muhammad SAW.

Saat menunaikan salat Subuh, seluruh pasukan menghadap ke arah Makkah. Abu Sufyan pun kemudian bergumam bahwa Quraisy Makkah tampaknya harus menyerah karena ia melihat pasukan besar ini. 

Tak lama kemudian Abu Sufyan pun bergegas ke Makkah. Ia mengingatkan agar kaum Quraisy menyerah saja kepada Muhammad. Namun istri Abu Sufyan, Hindun binti Utbah, meradang marah mendengar pernyataan suaminya.  Ia menganggap suaminya sebagai pelindung yang busuk. 

Menurut Ensiklopedi Islam, sebelum mencapai Makkah, Rasulullah telah membagi pasukannya menjadi empat bagian. Satu pasukan dipimpin Zubair bin Awwam yang masuk Makkah dari utara. Khalid bin Walid memimpin pasukan yang datang dari selatan. 

Sedangkan Sa'd bin Ubadah memimpin pasukan yang masuk dari barat. Dan pasukan ke-4 dipimpin Abu Ubaidah bin Jarrah yang masuk dari arah Pegunungan Hindi. 

Saat pasukan Muslim memasuki Makkah, tak ada perlawanan berarti. Memang ada perlawanan kecil yang dilakukan oleh pasukan Ikrimah bin Abu Jahal, Shafwan dan Shuhail.

Pasukan pimpinan Khalid bin Walid lantas menghadapi perlawanan mereka dan akhirnya perlawanan pun bisa diredam.  

Nabi Muhammad dan para sahabat lalu melangkahkan kakinya ke Kakbah untuk melakukan thawaf sebanyak 7 kali. Usai Thawaf, Nabi Muhammad bersama para sahabat menghancurkan berhala dan gambar-gambar yang ada di dalam dan sekeliling Kakbah.

Seiring penghancuran berhala itu, Muhammad menyitir Surat Al-Isra Ayat 81 (17:8). "Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap."

Rasulullah juga mengutus Khalid untuk menghancurkan berhala terbesar Uzza. 

Dijuluki Pedang Allah

Dalam dunia kemiliteran, Khalid bin Walid menjadi sosok yang tak tertandingi. Ia adalah satu-satunya sahabat yang dianugerahi gelar “Saifullah” atau "Pedang Allah" oleh Nabi Muhammad. 

Dalam banyak kesempatan, Khalid diangkat sebagai panglima perang. Khalid memimpin 46.000 pasukan Islam untuk menghadapi tentara Byzantium (Romawi)  yang jumlahnya 240.000 dalam Perang Yarmuk. Perang ini tercatat sebagai salah satu perang terpenting dalam sejarah pengembangan Islam karena berhasil nenaklukkan Romawi.

Padahal, selain jumlah pasukan yang ada memang tidak seimbang, belum lagi pasukan Islam  tidak memiliki persenjataan yang lengkap dan belum terlatih. Itu berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjata lengkap dan baik, terlatih, dan jumlahnya lebih banyak.

Meski kalah jumlah, Khalid dan pasukan Muslim tidak gentar. Khalid membuktikan kecakapan dan kecerdasannya dalam perang dengan membagi pasukan menjadi 40 kontingen. Ia mengubah strategi dengan menjadikan pasukan sayap kanan berpindah ke sayap kiri dan sebaliknya, pasukan sayap kiri berpindah ke sebelah kanan.

Sebagian pasukan diposisikan agak mundur.  Ituberarti setelah beberapa saat peperangan berlangsung, mereka akan datang seakan pasukan bantuan yang baru datang. Taktik ini disiapkan Khalid guna melemahkan semangat berperang musuh dan membuat seolah-olah kesatuan tentara kaum muslimin terlihat lebih besar dari yang dibawa musuh. Strategi ini menyebabkan musuh mundur dan semangat mereka melemah.

Kegigihan Khalid dalam memimpin pasukannya membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Untuk diketahui, Perang Yarmuk merupakan salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia karena ini menandakan gelombang besar pertama pembebasan Muslim di luar Arab. Islam dengan cepat  ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Perang ini terjadi pada 636 M.

Siapa Khalid bin Walid?

Sejumlah catatan sejarah yang ada menyebut bahwa Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum maupun sesudah ia masuk Islam. Namun, Khalid pernah berkata tentang dirinya: "Sungguh dengan tanganku ini telah terpotong sembilan pedang pada saat peperangan Mu'tah, sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman."

Khalid  merupakan keponakan Maimunah binti al-Harits, istri Rasulullah. Lelaki ini diceritakan berperawakan kekar, berpundak lebar, memiliki tubuh yang kuat, dan menyerupai Umar bin Khattab. Sikap kepahlawannya sangat besar dan mencerminkan ia memiliki sikap dan sifat seorang pemberani dalam membela agamanya.

Khalid lahir di Makkah tahun 585. Sang ayah, Walid bin al-Mughirah adalah syekh dari Bani Makhzum, salah satu klan dari Suku Quraisy.

Saat masih belia, Khalid sudah mahir dalam berbagai hal yang berhubungan dengan beladiri, seperti berkuda dan menggunakan senjata semisal tombak, panah, dan pedang. Khalid juga dikenal sebagai kesatria dan pegulat di antara Suku Quraisy.

Khalid merupakan sepupu Umar bin Khattab. Mereka berdua memiliki karakter dan wajah yang mirip. 

Khalid sangat disegani oleh Suku Quraisy karena pernah mengalahkan Umar bin Khattab, yang juga  jago bela diri, dalam pertandingan gulat. Bahkan Khalid sampai mematahkan kaki Umar yang untungnya dapat diluruskan kembali dengan baik.

Meski ia mahir memegang senjata, pintar berkuda, bahkan menjadi panglima perang yang tak terkalahkan, Khalid bukanlah seseorang yang sombong maupun haus akan kekuasaan. Ia dengan ikhlas melepas jabatannya dan diganti dengan Abu Ubaidah bin Jarrah ketika  perang yang dihadapinya berhasil dimenangkan.

Khalid diturunkan dari jabatan panglima saat Umar bin Khattab menjadi khalifah. Awalnya terdengar desas-desus bahwa Khalid berbuat curang terhadap harta rampasan perang. 

Berita ini singgah ke telinga Khalifah Umar bin Khattab. Umar menilai telah tumbuh benih-benih fitnah pada kaum Muslimin terkait kemenangan yang selalu diperoleh Khalid. Jika dibiarkan, hal ini akan menuju pada kesyirikan dan menggeser kepercayaan umat kepada Allah.

Keputusan yang dibuat Umar diterima Khalid dengan lapang dada. Bahkan ia berkata, "Ketahuilah,  sesungguhnya aku, Khalid, berjihad karena mencari rida Allah semata. Bukan karena Umar atau manusia lainnya." 

Meskipun telah lengser dari jabatan panglima, ia masih ikut perang dengan semangat yang sama seperti dia menjadi panglima. Khalid menunjukkan keikhlasan dan ketulusannya dalam berjihad dan membela agama Allah SWT.

Ketika Khalid dipanggil  Allah SWT, Umar bin Khattab menangis. Ia menyesal belum sempat mengembalikan jabatan Khalid sebagaimana mestinya hingga akhir hayat.

Topik
Khalid Bin WalidKisah pejuang IslamPanglima Islampos pengamanan lebaran

Berita Lainnya

Berita

Terbaru