Bermodal Kain Perca, Lukisan Seniman Asal Malang Melenggang hingga Shanghai China

May 12, 2021 15:34
Salah satu karya lukis Gatot Pujiarto yang dipamerkan di Pearl Lam Galleries. (Foto: Instagram @pearllamgalleries).
Salah satu karya lukis Gatot Pujiarto yang dipamerkan di Pearl Lam Galleries. (Foto: Instagram @pearllamgalleries).

MALANGTIMES - Jika menemui seniman lukis, gambar-gambar dengan olesan cat kerap menjadi ciri khas. Tapi, hal berbeda dilakukan oleh seniman asal Malang.

Gatot Pujiarto, dikenal sebagai seniman kontemporer, seorang yang membuat karya lukis tidak dengan menggunakan cat, kuas, minyak ataupun kanvas. Melainkan, dengan bahan-bahan tekstil bekas berupa kain perca, benang dan celana, dan jenis lainnya.

Diceritakannya, hingga saat ini pun Gatot masih mendebatkan karya lukis buatannya ini masuk dalam kategori apa. Namun, terlepas dari itu, bagi dia yang paling terpenting adalah menghasilkan karya.

"Ada yang bilang ini Mix-Media, ada juga yang bilang Fiber Art, pernah juga disebut lukisan karena ada spirit itu di dalamnya. Kalau saya dibilang apa saja ndak apa-apa, saya yang penting berkarya," ungkapnya.

Dijelaskannya, awal mula ide pembuatan karya lukis berbahan kain ini datang dari salah satu kawan senimannya yang kala itu sedang mengeluh. Yang mana, kawan itu tengah mengeluh tidak bisa menghasilkan karya karena kehabisan bahan.

Padahal, sebagai seniman, menurut Gatot, kekurangan bahan bukanlah menjadi halangan untuk terus berkreativitas. "Saya bilang ke teman saya, kamu itu kan seniman, apa saja bisa kamu jadikan karya seni. Nah dari situ saya juga mikir, apa bahan yang selalu ada, yang unik dan bisa digunakan lagi. Ya saya pikir kenapa ndak baju sendiri? bahan-bahan tekstil. Akhirnya saya coba," jelasnya.

Meski begitu, Gatot mengakui mempelajari seni dari bahan tekstil tersebut perlu kerja keras. Setidaknya, butuh waktu 3 bulan terkait pembelajaran teknik Fiber Art ini di Selasar Sunaryo Artspace di Bandung.

Selain juga berinovasi, dirinya ingin juga memberikan pesan khusus dengan penggunaan bahan-bahan yang dipakainya. Utamanya untuk isu kelestarian lingkungan.

“Untuk membuat karya saya seperti ini kan banyak butuh kain bekas, kain perca dan sebagainya. Saya ingin apa yang tidak digunakan bisa jadi bermanfaat. Ini pesannya," terangnya.

Beberapa hasil karya lukisnya pun diberi judul dengan mengangkat tema sosial. Seperti, tema “Perdamaian Tercabik” atau “Dibalik Kegelapan Ada Titik Terang” dan sebagainya.

Lewat seni lukis dengan bahan daur ulang ini, karya lukis buatan Gatot kini sudah mendunia. Ia menceritakan, di tahun 2015 silam dirinya mulai menjadi langganan dan dikontrak khusus membuat karya lukis untuk mengisi Pearl Lam Galleries. Yakni, sebuah galeri seni yang berbasis di Shanghai China.

"Di sana (Pearl Lam Galleries) punya 3 studio. Ada Singapore, Hongkong, dan Sanghai. Saya memberikan karya untuk dipajang di 3 studio itu. Sudah dikontrak, jadi memang rutin," ungkapnya.

Di tangan pria kelahiran 1970 ini, puluhan karya sudah mejeng menjadi koleksi Pearl Lam Galleries kurang lebih dalam 6 tahun terakhir ini. Dalam setahun Gatot bisa mengirimkan 3 sampai 5 karya.

Bahkan, Gatot diberikan kesempatan khusus memamerkan karya tunggalnya di Shanghai. Hal ini merupakan kebanggaan terbesar bagi dirinya.

"Ya sekitar tahun 2015-an itu juga saya dibikinkan Pameran Tunggal di Pear Lam Galleries. Jadi saya diminta ke sana," kata Alumnus Jurusan Seni Rupa dan Desain IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang).

Seiring dengan perkembangan zaman, Gatot pun tak berhenti berinovasi. Ia kini juga mencoba membuat karya dengan bahan lain. Yakni dengan memakai batu bara. Bahkan, hasil karya lukis ini nantinya khusus untuk mewarnai isu-isu pandemi Covid-19.

"Di masa pandemi saya mencoba pakai media bahan lain. Ini lagi coba buat karya rupa pakai batu bata. Mau saya buat untuk mewakili isu pandemi covid-19," pungkasnya.

Topik
Seniman Lukisgatot pujiartokain percaidomaret

Berita Lainnya

Berita

Terbaru