Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Ramadan (19)

Seruan 'Waa Islaamaah!" yang Menggetarkan, Pasukan Muslim Hancurkan Mongol yang Digdaya

May 01, 2021 09:20
Ilustrasi (Foto: Hidayatullah.com)
Ilustrasi (Foto: Hidayatullah.com)

INDONESIATIMES - Perang Ain Jalut dikenal sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia. Dalam perang itu, pasukan Mongol yang terkenal ganas dan digdaya kalah telak dari pasukan Muslim Mesir di Asia Tengah untuk kali pertama. Mongol pun tidak mampu membalasnya di kemudian hari seperti yang biasanya mereka lakukan. 

Awalnya, tentara Mongol yang dipimpin Jenderal Hulagu Khan melakukan invasi besar ke Asia Tengah. Pasukan ini bahkan melampiaskan kesadisannya di Bagdad, Iraq. Mereka membobol dinding, membunuh, dan menjarah sehingga membuat seluruh dunia Islam ketakutan terhadap bangsa Mongol.

Dari Iraq, pasukan Mongol terus bergerak ke barat. Aleppo di Siria mengalami hal yang sama seperti Bagdad. Pada tahun yang sama, Damaskus menyerah kepada orang Mongol. Dan tidak lama setelah itu, orang Mongol berhasil merebut kota-kota di Palestina, yaitu Nablus dan Gaza.

Setelah menaklukkan beberapa negara, Jenderal Hulagu menuntut agar Sultan al-Muzhafar Saifuddin Quthuz, yang merupakan penguasa Muslim di Mesir, untuk tunduk kepada Mongol. Orang Mongol pun mengancam Mesir bahwa nasib mereka akan sama dengan negara lain jika menolak. 

Namun, Quthuz tak gentar. Sebelum menjadi raja, Quthuz pernah bermimipi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mengatakan kepadanya bahwa dia akan menguasai Mesir dan memenangkan perang melawan Tartar (Mongol). Karena itu, Quthuz memiliki rencana lain dalam menghadapi ancaman bangsa Mongol.

Untuk menghadapi Mongol, Quthuz keluar dari negerinya bersama pasukan Mesir, Syam, dan lain-lain. Sebelumnya Quthuz memerintahkan panglimanya, Baybars, untuk berangkat terlebih dahulu. Mereka mencari-cari berita tentang persiapan pasukan Mongol. 

Saat Baybars tiba di Gaza, ia bertemu dengan sekelompok kecil pasukan Mongol. Baybars lantas segera menghadapi mereka dan berhasil mengalahkan tentara Mongol. Kekalahan ini sedikit memberikan pengaruh pada moral pasukan Mongol.

Kemudian Sultan Quthuz pun tiba di Gaza dan tinggal selama sehari di tanah Syam itu. Setelah itu, ia kembali berangkat melalui jalur Arce. 

Quthuz melewati jalur-jalur tentara Salib. Pasukan Salib lantas menawarkan bantuan untuk menghadapi Mongol. 

Quthuz menolaknya. Bahkan dia sempat berperang dengan pasukan Salib sebelum berjumpa pasukan Mongol. Hingga akhirnya Quthuz berjumpa dengan Baybars di Ain Jalut.

Saat itu Jenderal Hulagu Khan pergi meninggalkan Syam menuju Mongol untuk turut serta dalam pemilihan khan yang baru. Sebanyak 20.000 pasukan Mongol dipimpin oleh Katbugha. Katbugha mengumpulkan semua kekuatan Mongol yang ada di Syam. 

Pasukan Muslim Mesir dan pasukan Mongol akhirnya bertemu  Ain Jalut. Quthuz lantas mengatur strategi. Dia tak langsung mengeluarkan pasukan utamanya. Pasukan utama disiapkan untuk bersembunyi di bukit serta lembah-lembah Ain Jalut. Pasukan ini dipimpin oleh Baybars. 

Pada tanggal 15 Ramadan 658 Hijriah, pertempuran besar pun pecah di Ain Jalut. Pasukan Mongol datang bagaikan ombak besar di hadapan pasukan Mesir. Seolah-olah mereka akan dengan mudah merebut kemenangan.

Pasukan Mongol sudah berhasil mengalahkan barisan depan pasukan Mesir yang sengaja dimajukan Quthuz dalam jumlah kecil. 

Melihat tekanan Mongol, Quthuz tetap teguh dan tak merasa gentar. Dia pun berteriak dengan seruan perang yang terkenal: “Waa Islaamaah!!”. 

Lantas kekuatan pasukan Mesir pun keluar. Pasukan utama yang bersembunyi menyerang dari samping. 

Taktik pasukan Mesir itu mengejutkan pasukan Mongol. Orang-orang Mongol kala itu kaget dengan keteguhan dan ketangguhan umat Islam dalam peperangan. 

Mental mereka ciut dan semangat mereka kendur. Ditambah mereka melihat Panglima Katbugha yang terkapar tewas. Jasadnya terbaring di medan Ain Jalut. 

Perang besar ini pun dimenangkan oleh kaum Muslimin. Kedigdayaan pasukan Mongol pun terhenti. 

Umat Islam bahkan terus mengejar pasukan Mongol yang kocar-kacir melarikan diri. 
Hingga akhirnya, Mongol berhasil bersatu kembali di Bisan, sebuah desa dekat Ain Jalut. Bentrok pun kembali terjadi dan semakin sengit. 

Sultan Quthuz terus berteriak untuk memotivasi pasukannya: “Waa Islaamaah!!”. Ia berteriak tiga kali. 

Lalu ia berdoa, “Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini, Quthuz". Tidak lama, kemenangan pun digapai oleh kaum muslimin. 

Inilah kali pertama orang-orang Mongol merasakan kekalahan dalam perang sejak zaman Jenghis Khan. Kemenangan ini tentu sangat bersejarah bagi pasukan Islam Mesir.

Sultan Quthuz turun dari kudanya. Ia tempelkan wajahnya di tanah, lalu menciumnya sebagai ungkapan gembira. Kemudian ia menunaikan salat dua rakaat sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Topik
Perang Islam v MongolPasukanfaktor modalKerja sama Afghanistan
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru