Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Ramadan (18)

Diserang saat Salat Jumat, Tentara Islam Taklukkan Romawi di Perang Zallaqah

Apr 30, 2021 18:49
Ilustrasi (Foto: Avas.mv)
Ilustrasi (Foto: Avas.mv)

INDONESIATIMES - Salah satu peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan ialah Peperangan Zallaqah. Peperangan Zallaqah juga dikenal sebagai pertempuran Sagrajas, yakni pertempuran yang terjadi antara koalisi Dinasti Murabitun (Almoravid ) yang dipimpin Yusuf bin Tasyfin melawan Kerajaan Castilia yang dipimpin Alfonso VI.

Perlu diketahui, kisah Perang Zallaqah ini bahkan banyak ditulis dalam kitab-kitab sejarah. Di antaranya oleh Abdul Wahid al-Marakeshi dalam al-Mu’jab fi Talkhiishi Akhbaari al-Maghribi, Hamid Muhammad al-Khalifah dalam Intisharat Yusuf bin Tasyfin, Raghib as-Sirjani dalam Qishshatul Andalus min al-Fath ila as-Suquth, dan Syauqi Abu Khalil dalam Azzallaqat fi Qiyaadati Yusuf bin Tasyfin.

Penyebab Perang Zallaqah

Perang Zallaqah terjadi pada Jumat tanggal 13 Ramadan tahun 480 Hijriah. Perang ini disebabkan  Alfonso VI merebut Tulaitela atau Toledo pada tahun 478 H dari tangan al-Qadir bin Dzi an-Nun. Maka kekuasaan Anfonso VI menjadi lebih kuat. 

Dia sangat berhasrat menguasai Sevilla, Cordoba, dan beberapa kota lainnya di Andalusia. Pada tahun 479 H, para pemimpin Andalus yang dipelopori oleh Muhammad bin Abbad (al-Mu’tamid alallah) kemudian sepakat untuk meminta bantuan Yusuf bin Tasyfin, penguasa Murabitun di Marrakesh, Maroko, Afrika Utara.

Setelah bertemu, Yusuf sangat memuliakan mereka dan bertanya apa keperluan mereka datang ke Marrakesh. Al-Mu’tamid kemudian menyampaikan bahwa mereka ingin melawan pasukan Romawi dan meminta bantuan kendaraan kuda dan bala tentara.

Hingga akhirnya Yusuf bin Tasyfin, sang amirul mukminin, mengabulkan permohonan tersebut. Dia mengatakan, “Aku adalah orang pertama yang didelegasikan untuk menolong agama ini. Masalah ini akan aku tangani sendiri”.

Yusuf bin Tasyfin lalu melakukan perjalanan ke Andalusia pada bulan Jumadil Awal tahun 479 H atau Agustus 1086 M. Dalam perjalanan itu, dia mengajak siapa saja yang memiliki kemampuan berperang, juga para pemimpin, komandan pasukan, dan para kepala suku barbar.

Yusuf yang berangkat dengan 7.000 orang pasukannya kemudian menyeberang lautan, mulai dari Sabtah atau Ceuta yang  terletak di ujung utara Maroko, di pesisir Pantai Mediterania dekat Selat Gibraltar. Mereka kemudian mendarat di Jazirah al-Khadra’  (Isbaniyah atau Algeciras).

Namun, saat akan menyeberangi lautan, angin sangat kencang sehingga ombak laut menjadi tinggi. Yusuf lantas mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah! apabila Engkau mengetahui perjalananku ini membawa kebaikan dan kemaslahatan untuk kaum muslimin, maka mudahkanlah aku melintasi laut ini. Apabila tidak membawa kebaikan dan kemaslahatan, maka persulitlah perjalananku sehingga aku tidak bisa melintasinya.” 

Allah SWT rupanya menjawab doa Yusuf dan kemudian memudahkan perjalanan Yusuf beserta pasukannya sehingga mereka bisa sampai tujuan dengan cepat. Setibanya di Andalusia, Yusuf mendapatkan sambutan yang luar biasa dari Mu’tamin dan seluruh penggawa kerajaannya. Sambutan tersebut melebihi dugaan Yusuf sebelumnya. 

Mereka memberikan banyak hadiah dan harta simpanan kerajaan kepada Yusuf. Yusuf kemudian keluar dari Algeciras bersama pasukannya menuju wilayah Timur Andalusia. 

Setelah sampai di Sevilla, Mu’tamid meminta Yusuf untuk singgah di kerajaannya agar bisa beristirahat sejenak menghilangkan letih perjalanan. Tetapi Yusuf menolak karena tujuan perjalanannya untuk berjihad melawan musuh.

Dilepasnya Benteng Kaum Muslimin dari Pengepungan Alfonso

Saat itu Alfonso sedang mengepung benteng kaum muslimin, yakni Benteng al-Lith (Leyte Fortress). Setelah mendengar berita perjalanan tentara Murabituhun, Alfonso melepas benteng itu dan kembali ke negerinya bersama tentaranya untuk persiapan menghadapi Murabithun.

Yusuf bin Tasyfin terus ke timur menuju benteng yang dikepung tersebut. Dia juga ingin mendamaikan Mu’tamid alallah dan Abdurrahman bin Rasyiq,  seorang yang menguasai Murcia di selatan Andalusia. 

Hingga akhirnya Yusuf berhasil mendamaikan mereka berdua dengan beberapa kesepakatan. Dalam perjalanan itu, Yusuf juga bertemu dengan raja-raja Andalusia, seperti Abdullah bin Balqin pengusa Granada, Mu’tashim bin Shamadih penguasa Almeria, dan Ibnu Abdul Aziz (Abu Bakar) penguasa Valencia.

Kemudian ia menginspeksi pasukannya di Benteng Raqqa, dan kemudian bersama Mu’tamid berangkat ke Toledo. Pasukan dari segala penjuru Andalusia telah berkumpul untuk bergabung dengan Mu’tamid.

Mu’tamid berhasil merekrut banyak orang untuk bersama-sama melakukan jihad dan mendapatkan banyak bantuan kuda, pasukan, dan senjata dari penguasa sekitar, sehingga total pasukan berjumlah 20.000 orang. Dalam riwayat lain disebutkan, pasukan Muslimin koalisi dari Murabithun dan Andalusia sebanyak 24.000 orang.

Di pihak lain, Alfonso juga mengerahkan pasukan dari segala macam usia. Semua orang yang mampu berperang diperintahkan berangkat ke medan perang. Yang menjadi pusat perhatian Alfonso ialah kekuatan Murabithun, bukan raja-raja Andalusia, karena Alfonso menganggap ringan kekuatan mereka.

Namun, para ahli sejarah berbeda pendapat tentang jumlah pasukan Alfonso. Ada yang menyebut 50.000, atau 60.000, atau ada yang mengatakan 80.000 pasukan berkuda yang memakai baju zirah (besi). Belum menghitung yang lain. Dan ada yang mengatakan, pasukan Alfonso berjumlah 80.000 kesatria berkuda beserta 200.000 prajurit infanteri.

Melihat pasukannya yang sangat besar, Alfonso VI merasa bangga dan menyombongkan diri. Bahkan dia berkata: “Dengan pasukan ini, aku akan bertembur melawan jin, manusia dan malaikat langit”.

Kemudian kedua pasukan telah berdekatan pada hari Kamis tangggal 12 Ramadan. Mereka berada di sebuah tempat yang disebut dengan Zallaqat. Mereka hanya dipisah oleh sungai yang disebut dengan Sungai Bitalsius.

Saat Yusuf melihat pasukan Alfonso VI berjumlah sangat besar, dengan kendaraan yang sangat baik, persenjataan lengkap dan sangat kuat, maka Yusuf berkata kepada Mu’tamid, “Aku tidak mengira pasukan mereka sebanyak ini”.

Ia lantas beserta para fuqaha dan para ahli ibadah mengumpulkan pasukan untuk diberi nasihat, motivasi,bdan memantapkan niat untuk berjihad. Pada malam harinya al-Faqih Abu al-Abbas Ahmad bin Rumailah al-Qurthubi bermimpi bertemu baginda Nabi Muhammad SAW. 
Beliau memberitakan bahwa kaum Muslimin akan mendapatkan kemenangan dan Ahmad bin Rumailah akan mendapatkan syahid. Pada saat itu antara kedua pemimpin saling mengirim dan berbalas surat. Ibnu Tasyfin mengirimkan surat kepada Alfonso. 

Peperangan yang Dimenangkan Pasukan Yusuf bin Tasyfin

Yusuf mengatakan: “Wahai Alfonso, telah sampai berita kepadaku, engkau telah berdoa ingin bertemu denganku, engkau berharap memiliki banyak kapal guna mengarungi lautan untuk bertemu denganku. Dan sekarang, aku telah mengarungi lautan itu untuk bertemu denganmu. Allah telah mempertemukan aku dan engkau di medan ini. Engkau akan melihat akibat dari doamu…”. 

Dalam surat itu, Yusuf memberikan tiga pilihan untuk Alfonso. Yaitu memeluk Islam, membayar jizyah, dan atau perang. Mendapatkan surat itu , Alfonso VI sangat marah. Dia lantas memberikan jawaban, “Aku memilih perang, apa jawabmu?”

Dengan segera, Ibnu Tasyfin mengambil surat Alfonso dan menulis dibbelakangnya, “Jawabannya adalah sesuatu yang akan kau lihat dengan mata kepalamu, bukan apa yang kau dengar dengan telingamu. Keselamatanlah bagi yang mengikuti petunjuk”.

Alfonso VI lalu berupaya melakukan tipu daya dengan mengatakan, “Jumat adalah hari besar kalian, Sabtu adalah hari besar Yahudi, mereka adalah para menteri dan juru tulis kami. Kebanyakan pelayan tentara juga dari kalangan Yahudi. Maka kami sangat membutuhkan mereka. Sedangkan hari Ahad adalah hari besar kami. Karena itu, aku ingin kita bertempur pada hari Senin”.

Yusuf dan pasukannya bersiap-siap menggunakan pakaian untuk salat Jumat. Sementara Mu’tamid dan pasukannya berhati-hati dengan tetap bersenjata lengkap. Mu’tamin berkata kepada Yusuf, “Salatlah bersama pasukanmu. Hari ini hatiku tidak merasa lega. Kami akan berada di belakang kalian. Aku memperkirakan tujuan Alfonso adalah utuk menyerang kaum muslimin ”.

Yusuf dan pasukannya salat. Pada saat rekaat pertama, dari arah depan tiba-tiba pasukan berkuda Nasrani tampak bergerak. Alfonso VI dan pasukannya mengira telah mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyerang.

Dengan cepat, Mu’tamid dan pasukannya muncul dari arah belakang. Pasukan Murabithun segera mengambil pedang dan berbaris di depan kuda-kuda mereka.

Perang antara kedua pasukan itu kemudian berkecamuk. Yusuf bin Tasyfin beserta pasukannya merupakan orang-orang yang tabah dalam peperangan dan teguh. 

Hingga akhirnya pasukan Yusuf bin Tasyfin dan sekutunya berhasil mendapatkan kemenangan dan musuh banyak yang melarikan diri. Sementara Alfonso VI berhasil melarikan diri bersama 9 orang pasukannya.

Dengan kemenangan itu, Allah SWT telah memuliakan agama Islam dan mengubur harapan Alfonso VI untuk menguasai seluruh wilayah Andalusia. Semua itu berkat ketulusan niat Amirul Mukminin Yusuf bin Tasyfin.

 

Topik
Perang di AndalusiaPertempuran tentara IslamPertempuran tentara Islam

Berita Lainnya

Berita

Terbaru