Kisah Berdirinya 2 Kerajaan Islam di Kaimana, Papua Barat!

Apr 27, 2021 09:11
Masjid Kaimana (Foto: wasit.id)
Masjid Kaimana (Foto: wasit.id)

INDONESIATIMES - Tak banyak yang tahu, Papua Barat ternyata memiliki kisah tentang peradaban Islam. Salah satunya yakni ada di Kaimana. Di Kaimana diketahui pernah berdiri 2 kerajaan Islam yakni Namatota dan Kumisi.

Kaimana, Papua Barat tak cuma memiliki keindahan alam. Namun, di sana juga menyimpan sejarah dan budaya. Secara adat, Kaimana terbagi menjadi 2 kerajaan. 

Dalam bahasa setempat, kerajaan itu disebut sebagai pertuanan yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja. Ke-2 pertuanan itu bernama Namatota dan Kumisi atau Sran. 

Wilayah Pertuanan Namatota yakni meliputi Teluk Umar hingga Teluk Arguni dengan pusat pertuanan di Pulau Namatota. Sementara untuk Pertuanan Kumisi berpusat di Pulau Adi.

Di masa lalu, nenek moyang mereka sempat pergi dari Pulau Adi. Dari cerita turun-temurun, mereka yang tinggal di Pulau Adi diganggu oleh makhluk pemakan manusia.

Kondisi itu lantas meresahkan bagi penduduk hingga membuat Raja Kumisi memindahkan rakyatnya ke Pulau Kilimala di sebelah timur Pulau Adi. Kemudian, pada tahun 1976 masyarakat Pertuanan Kumisi kembali ke Pulau Adi hingga saat ini. 

Masyarakat Kaimana masih menghormati raja dan teguh memegang adat. Bagi mereka raja sebagai pemangku hak ulayat dan hukum adat menjadi panutan. 

Titah raja pun menjadi hukum yang masih dipatuhi sampai saat ini. Mayoritas penduduk Pertuanan Kaimana beragama Islam. 

Tokoh yang membawa ajaran Islam pertama kali ke Kaimana ialah Imam Dzikir. Kala itu, Imam tinggal dan berdakwah di Borombouw pada 1405. 

Imam Dzikir menetap di Pulau Adi dan mengajarkan agama Islam yang kemudian diterima oleh keluarga kerajaan. Penyebaran agama Islam di Kaimana kian meluas melalui interaksi masyarakat dengan pedagang muslim dari Aceh, Arab, Ternate, dan Tidore.

Penganut agama Islam di Pertuanan Kaimana lantas semakin banyak setelah Naro'E menggantikan ayahnya, Nduvin, menjadi Raja Kumisi dengan gelar Raja Sran Kaimana V.

Saat itu, Naro'E yang memerintah pada 1898 sampai 1923, menikah dengan anak kepala suku di Kaimana, Papua. Di masa pemerintahannya, pengaruh Islam di Kaimana semakin luas. 

Bahkan tradisi Islam tercermin dari penggunaaan alat musik seperti rebana, pemakaian sorban, dan tradisi Islam lainnya. 

Di sisi lain, sebagai bukti adanya kerajaan Islam di Kaimana, ada sebuah masjid yang begitu cantik dan ikonik. 

Masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Agung Baiturrahim Kaimana atau yang akrab disebut Masjid Kaimana. Masjid ini memiliki keindahan arsitektur yang sungguh "menggoda" para wisatawan untuk mengabadikan melalui lensa kamera. 

Masjid Kaimana

Masjid Kaimana ini berdiri kokoh tak jauh dari pelabuhan besar Kaimana dengan 8 pilar berpucuk warna emas yang mengelilingi 1 kubah utama dengan balutana warna senada. Kemudian badan masjid didominasi dengan warna putih yang memiliki latar pemandangan laut serta rumah-rumah penduduk di sekitarnya. 

Masjid sudah dipugar beberapa kali sehingga masih terlihat apik hingga saat ini. Melansir melalui laman resmi Kementerian Pariwisata RI, masjid tersebut merupakan salah satu dari sedikit sisa peninggalan Kerajaan Islam Sran Eman Muun yang pernah berjaya di Pulau Adi, Laut Arafuru.

Kini, masjid peninggalan kerajaan Islam Papua ini dapat dilihat di Kampung Sran, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Topik
kerajaan islampapua baratmasjid kaimanadesa lobukdunia islam

Berita Lainnya

Berita

Terbaru