Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Ramadan (7)

Semua Berhala Dihancurkan, Azan Bilal pun Menggema dari Atas Kakbah

Apr 19, 2021 10:20
Ilustrasi (Foto: NU Online)
Ilustrasi (Foto: NU Online)

INDONESIATIMES - Di bulan suci Ramadan tahun ke-8 Hijriah atau tepatnya 10 Ramadan, Nabi Muhammad SAW memimpin kaum Muslimin dari Madinah menuju Makkah. Nabi Muhammad hendak membebaskan kota kelahirannya itu dari cengkeraman kemusyrikan. 

Dalam momen Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Makkah itu, saat Rasulullah SAW memasuki Kakbah, dilihatnya dinding-dinding Kakbah yang penuh lukisan dan gambar.  Beliau lantas memerintahkan agar gambar dan lukisan itu

dihancurkan. 

Demikian pula berhala-berhala di sekeliling Kakbah yang kala itu  dipuja-puja oleh kaum musyrikin Quraisy. Dengan tongkat di tangannya, Nabi Muhammad menunjuk berhala-berhala itu seraya berkata: "Dan katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap'" (QS Al-Israa': 81).

Berhala-berhala itu pun kemudian dihancurkan. Dengan demikian, Rumah Suci Kakbah itu bisa dibersihkan.

Pihak Anshar dari Madinah kala itu menyaksikan peristiwa penghancuran berhala tersebut. Mereka melihat Rasulullah SAW berdoa di atas Gunung Shafa. 

Melihat Rasulullah memimpin penghancuran berhala,  kesedihan menyeruak di kalangan Anshar. Bukan sedih karena berhala dihancurkan. Tapi kaum Anshar sedih karena merasa Rasulullah akan meninggalkan Madinah dan kembali ke kota kelahirannya yang kini telah dibukakan oleh Allah SWT. 

Mereka lalu berkata satu sama lain. "Menurut kalian, Rasulullah akan  menetap di negerinya sendiri?" tanya mereka kepada sesama kaum Anshar.

Setelah berdoa, Rasulullah SAW lantas berseru kepada kaum Anshar: "Berlindunglah kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kalian."

Mendengar seruan itu, hilanglah kesedihan dari wajah kaum Anshar. Sebab, Rasulullah SAW tetap kembali ke tengah mereka di Madinah.

Bilal Kumandang Azan

Setelah berhala-berhala itu dibersihkan dari Kakbah, Nabi Muhammad SAW menyuruh Bilal bin Rabah untuk menyerukan azan dari atas Kakbah. Kumandang azan itulah yang menjadi tanda kemenangan dan tegaknya kalimat Laa Ilaaha Illa Allah. Kekalahan bagi kemusyrikan!

Kaum Muslimin lantas melaksanakan salat bersama. Rasulullah SAW menjadi imam.

Kala memasuki Makkah, Rasulullah mengeluarkan perintah jangan sampai ada pertumpahan darah dan jangan ada seorang pun yang dibunuh. "Wahai manusia sekalian," seru Nabi SAW, "Allah telah menjadikan Makkah ini tanah suci sejak Ia menciptakan langit dan bumi. Ia suci sejak pertama, kedua dan ketiga, sampai hari kiamat."

"Oleh karena itu," lanjut Rasulullah, "Orang yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian tidak dibenarkan mengadakan  pertumpahan darah atau menebang pohon di tempat ini. Tidak dibenarkan kepada siapa pun sebelum aku, dan tidak dibenarkan kepada siapa pun sesudah aku ini. Juga aku pun tidak dibenarkan marah kepada penghuni daerah ini hanya untuk saat ini saja, kemudian ia kembali dihormati seperti  sebelum itu. Hendaklah kamu yang hadir ini memberitahukan kepada yang tidak hadir. Kalau ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Rasulullah telah berperang di tempat ini, katakanlah bahwa Allah telah membolehkan hal itu kepada Rasul-Nya, tapi tidak kepada kamu sekalian."

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, hendaknya menghancurkan setiap berhala dalam rumahnya," seru orang-orang tersebut. 

Mulai Islamnya Penduduk Makkah

Sejak Fathu Makkah, banyak penduduk setempat yang tadinya musyrik menjadi Muslim. Apalagi, mereka menyaksikan betapa Nabi Muhammad SAW datang bukan sebagai tiran penakluk, melainkan sungguh-sungguh membebaskan mereka dari kehinaan. Maka, berbondong-bondonglah penduduk Makkah  memeluk Islam.

Rasulullah SAW tinggal di Makkah selama 15 hari. Selama itu beliau membangun Makkah dan mengajari penduduk setempat hukum-hukum agama.

Selain itu, terdapat  regu-regu dakwah dikirimkan untuk mengajarkan Islam, bukan untuk berperang. Mereka juga dikirim untuk menghancurkan berhala-berhala tanpa pertumpahan darah.

Dalam waktu dua pekan selama Rasulullah tinggal di Makkah, semua jejak paganisme berhasil dibersihkan. Jabatan dalam Rumah Suci yang sudah pindah kepada Islam pada waktu itu ialah kunci Kakbah, yang oleh Nabi diserahkan kepada Utsman bin Talhah. Sesudah itu kepada anak-anaknya, yang tak boleh berpindah tangan.

Sedangkan pengurusan air Zamzam pada musim haji berada di tangan pamannya, yakni Abbas bin Abdul Muthalib.

Dengan demikian, diperolehnya kebebasan Kota Makkah saat itu membuat seluruh Makkah sudah beriman. Panji dan menara tauhid sudah menjulang tinggi. Dan selama berabad-abad, dunia disinari cahayanya yang berkilauan.

Topik
koleksi ramadanfathu makkahsejarah islamkisah islami
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru