Kue Kering dan Jejak Lidah Barat di Kota Malang (4)

Masih Eksis, Pabrik Kue Semprit di Kota Malang ini Ada Sejak Masa Koloni Belanda

Apr 08, 2021 11:56
Kue Semprit, salah satu jajanan era kolonial di Kota Malang yang tetap eksis hingga saat ini. (Foto: Istimewa).
Kue Semprit, salah satu jajanan era kolonial di Kota Malang yang tetap eksis hingga saat ini. (Foto: Istimewa).

MALANGTIMES - Kue semprit nampaknya menjadi salah satu kue kering yang sudah dinikmati di Kota Malang sejak 91 tahun lalu, bahkan mungkin jauh lebih dari itu. Hal itu dibuktikan dengan hadirnya pabrik kue semprit yang ada sejak tahun 1930 di Kota Malang.

Salah satu pabrik yang masih bertahan hingga saat ini adalah Marga Rasa. Sebuah bisnis keluarga yang mengkhususkan diri memproduksi kue kering yaitu kue semprit. Usaha yang dijalankan secara turun temurun itu bahkan masih terus berproduksi sampai sekarang dengan mempertahankan resep dari sang pendiri.

Cucu pemilik usaha Marga Rasa, Narastra Chandra Ghani Anandita menceritakan, awal mula usaha kue kering ini dirintis lantaran sang kakek yang hobi membuat kue. Seiring berjalannya waktu, usaha kue kering buatan kakeknya ini terus berlanjut hingga saat ini.

"Kalau awal mulanya dari kakekku yang suka bikin, sekarang sudah meninggal dunia. Dulu menikah sama nenekku bikin usaha ini, dan sampai sekarang dilanjutin sama anak-anaknya," ujarnya.

Nara menceritakan, bentuk dari kue kering semprit ini merupakan huruf 'S', dan cukup digemari karena menghadirkan cita rasa yang sama dengan zaman dulunya. Bahkan, dalam pembuatannya sengaja tak menghadirkan varian atau jenis lain sebagai konsistensi usaha jajanan kolonialnya ini.

Varian, hanya dihadirkan untuk pengemasan kue jadul Semprit ini. Seperti kemasan 250 gram yang dibanderol Rp 15 ribu, dan kemasan 500 gram yang dibanderol harga Rp 30 ribu.

"Dari dulu cuma bikin kue satu macam doang original. Nggak pernah yang rasa-rasa atau warna-warna. Konsistensi sih ya, soalnya zaman sekarang kue jadul Semprit ini langka, dan keluargaku konsisten tetap bikin dan melanjutkan usaha kakek nenekku," ungkapnya.

Khas perpaduan rasanya yang gurih dan manis, menjadikan kue jadul ini tetap diburu konsumen. Terbukti, dalam satu minggu, Marga Rasa terus memproduksi kue kecuali di hari Minggu. Nara menjelaskan, konsistensi akan rasa menjadi satu hal yang membuat jajanan jadul kolonial ini masih terus eksis hingga saat ini.

"Alhamdulillah juga enggak pernah sepi, dan konsisten sama rasa itu paling penting. Jadi banyak langganan walaupun tersebar merk di luar sana yang mungkin lebih murah, tapi kualitas bahan jelas nomer satu. Walaupun harga bahan naik juga enggak mempengaruhi rasa dan takaran produk olahan kue jadul kami," jelasnya.

Nara mengakui, jika ke depan usaha yang dirintis oleh sang kakek ini bakal terus dilanjutkan. Sejauh ini, konsep pemasaran yang dilakukan yakni dengan cara tradisional menawarkan ke toko oleh-oleh ataupun swalayan.

Selain itu, bagi customer yang  ingin pesan melalui pabrik atau pribadi, dirinya juga melayani. Nantinya, konsep untuk pemasaran kue jadul ini juga akan dikembangkan ke platform marketplace.

Dengan begitu jajanan kue jadul Semprit buatannya yang turun temurun ini, bisa lebih dikenal luas. Tak hanya di Kota Malang saja, tetapi juga oleh pangsa pasar luar daerah.

"Aku sendiri memang ingin meneruskan dan mengembangkan usaha keluarga ini. Sayang banget dari aku lahir dan tumbuh besar dengan bau semprit yang khas ini kalo sampai punah. Makannya ke depan ini akan terus kami kembangkan, agar penikmat Semprit meluas dan menjangkau banyak daerah," tandasnya.

Topik
Kue Sempritpabrik kueolahan kue jadulKota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru