Warung Kopi Klodjen Djaja 1956, Suguhkan Harga Kopi Terjangkau dan Tampilan Jadul

Mar 08, 2021 06:28
Suasana Warung Kopi Klodjen Djaja 1956 tampak depan ketika malam hari. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Suasana Warung Kopi Klodjen Djaja 1956 tampak depan ketika malam hari. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Warung Kopi Klodjen Djaja 1956 yang terletak di Jalan Cokroamintoto Nomor 2, Kecamatan Klojen, Kota Malang, salah satu warung kopi yang mengusung konsep menarik. 

Beberapa konsep menarik yang ditawarkan seperti harga kopi yang sangat terjangkau dan tampilan konsep warung kopi menyuguhkan kesan jadul  (zaman dulu) dengan memasang baliho tayangan bioskop zaman dahulu. 

Pemilik Klodjen Djaja 1956 Ahmad Iswahyudi mengatakan bahwa dirinya mematok harga untuk secangkir kopi terbilang sangat murah, yakni Rp 2 ribu. Meskipun dirinya mematok harga yang sangat murah, cita rasa yang disajikan sangat khas dan menjunjung kualitas dari setiap cangkir kopi. 

"Tempat warung kopi ini kan dekat pasar. Sekalian saja biar orang becak sini bisa menikmati kopi berkualitas dengan harga murah. Saya patok Rp 2.000. Dan banyak yang ke sini. Bahkan bapak-bapak yang mengantar istrinya kadang ngopi di sini. Lumayan ganti uang parkir," ujar pria yang akrab disapa Didik ini. 



Didik pun mengungkapkan alasan dirinya mematok harga kopi yang sangat murah. Salah satunya merupakan bentuk sosialisasi. Sosialisasi yang dimaksud adalah mulai proses manual dari biji kopi hingga melalui proses penggilingan hingga menjadi bubuk kopi. 

"Oang pasar sini itu ngopi pasti kopi instan yang harganya itu Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Sudah nggak sehat, mahal. Saya ingin mengenalkan mereka yang sehat sekaligus murah itu saja. Saya hargai Rp 2.000 per gelas. Soalnya biasanya bapak-bapak disakunya pasti ada yang nylempit uang segitu," terangnya. 

Meskipun mematok harga yang murah sekali, Didik mengaku bahwa dirinya tidak rugi. Hal itu disebabkan biji kopi robusta diperolehnya melalui pasokan dari petani kopi yang lama ia kenal. Jadi dirinya menekan harga biji kopi dan untuk proses roasting dan grinder, dirinya sudah memiliki alat untuk memproses.  "Jadi gak perlu ngeluarin biaya apapun lagi. Maka dari itu Rp 2 ribu secangkir masih untunglah bro," katanya. 

Sekadar informasi bagi penikmat kopi yang akan singgah, harga kopi Rp 2 ribu hanya berlaku mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB. Lalu pada pukul 16.00 WIB sampai pukul 00.00 WIB harga untuk secangkir Rp 3 ribu. Namun untuk es kopi susu, Didik membanderol dengan harga Rp 10 ribu. 

Didik juga memiliki cara kreatif untuk menarik pengunjung agar singgah menikmati secangkir kopi khas dari Klodjen Djaja 1956. Yakni dengan memasang baliho bergambar judul film layar lebar zaman dahulu. 

Baliho bergambarkan cover film layar lebar zaman dahulu dipasang di atas Warung Kopi Klodjen Djaja 1956. Di antaranya ada baliho film Warkop DKI "Gengsi Doong", film "Si Buta Lawan Jaka Sembung" dan juga "Saor Sepuh" lengkap dengan jam tayangnya. 

"Ini kan bangunan lama, sejak tahun 1950 sudah ada. Saya paskan agar bernuansa retro. Tapi saya kekurangan dana dan waktu untuk buka itu tinggal sebentar. Akhirnya saya putuskan untuk pasang baliho film jadul itu. Butuh cuma Rp 200 ribu saja," jelas Didik. 

Hasilnya, selain harga kopi yang murah sekali, banyak pengunjung Warung Kopi Klodjen Djaja 1956 yang tertarik dengan konsep baliho film layar lebar zaman dahulu. Akhirnya dirinya tidak jadi untuk launching Klodjen Djaja 1956 karena pengunjung warung kopi semakin hari semakin banyak. 

"Awalnya kan mau launching. Ya supaya promosi. Tapi dengan baliho film jadul itu pun sudah banyak yang datang dan saya tidak jadi menggelar acara launching," pungkasnya.

Topik
warung kopiWarung Kopi Klodjen Djaja 1956warung kopi malang
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru