74 Tahun Lalu, Begini Kisah Pilu Pejuang Bangsa yang Gugur dalam Oven Manusia

Mar 06, 2021 11:38
Gerbong Maut di Museum Brawijaya, saksi bisu perjuangan pahlawan melawan penjajahan Belanda (Imoratul Izza/MalangTIMES)
Gerbong Maut di Museum Brawijaya, saksi bisu perjuangan pahlawan melawan penjajahan Belanda (Imoratul Izza/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kisah para pejuang negeri dalam melawan penjajahan di Indonesia tentu masih kental hingga sekarang. Sederet monumen dan benda-benda peninggalan para pejuang seolah menjadi lorong pintu bagi generasi sekarang untuk memaknai setiap perjuangan yang telah dilakukan.

Salah satunya terlihat dari Gerbong Maut, yang kini tersimpan rapi di Museum Brawijaya Malang. Gerbong Maut yang diletakkan di area tengah kompleks museum tersebut memang menyimpan banyak misteri. Gerbong itu pula menjadi saksi kematian para pejuang yang ogah menyerahkan kemerdekaan mereka.

Konon, ada puluhan pejuang yang rela mengorbankan nyawanya lantaran terhimpit panasnya suhu tubuh sesama pejuang. Pemandu Museum Brawijaya Hasan Bukhori menyebut, kisah pilu itu bermula dari penangkapan para pejuang oleh kolonial Belanda.

Hasan menyebut, Gerbong Maut di Museum Brawijaya tersebut merupakan salah satu dari tiga gerbong yang dibuat untuk membawa para pejuang bangsa. Para pejuang yang ditawan Belanda saat itu kurang lebih berjumlah 100 orang.

Para pejuang itu kemudian dipaksa masuk ke dalam gerbong angkutan barang. Para pejuang yang kala itu dipenjarakan di Bondowoso hendak dipindahkan ke Surabaya. 100 pejuang itu kemudian dibagi dalam tiga gerbong yang sesak.

"Pada tanggal 23 November tahun 1947 sejumlah 100 orang pejuang yang jadi tawanan Belanda ini akan dipindahkan ke Surabaya. Sehingga pada jam 02.00 WIB malam, sejumlah 100 orang disuruh masuk gerbong. Belanda bilangnya kereta api, tapi ternyata gerbong barang yang harusnya mengangkut barang," ceritanya.

Selama perjalanan ke Surabaya, kurang lebih 16 jam lamanya, para pejuang berdesakan. Tak ada ventilasi dan kondisi di dalam gerbong sangatlah panas, seperti dalam oven. Sehingga, para pejuang sebagian menghembuskan nafas terakhir mereka di dalam gerbong maut tersebut.

"Para pejuang kita banyak yang kehausan dan kepanasan. Dengan benda seadanya mereka melubangi gerbong agar udara masuk," jelas Hasan.

Ketika sampai di Jember, para pejuang harus merasakan panasnya gerbong lebih lama. Karena di sana, kereta dihentikan dan gerbong dibiarkan tanpa dibuka. Sehingga para pejuang selama beberapa jam menahan rasa dahaga dan panas di bawah teriknya matahari yang menusuk ke dalam besi gerbong.

"Gerbong berhenti di bawah terik matahari selama tiga jam," jelasnya lagi.

Bukan hanya itu, kekejian Belanda terhadap para pejuang masih berlanjut. Saat tiba di Surabaya, diketahui ada 46 pejuang meninggal dunia, 31 luka ringan, 11 luka berat, dan 12 hidup sehat.

Luka yang dialami para pejuang setelah melalui perjalanan panjang dalam gerbong itupun sangat luar biasa. Mereka mengalami lecet di sekujur tubuh lantaran suhu yang panas. Bahkan, ketika tangan ditarik bisa putus dan kulit ikut terkelupas.

Namun mirisnya, 12 orang yang selamat dalam insiden gerbong maut itu tak dilepaskan begitu saja. Para pejuang tersebut harus menguburkan 46 rekannya yang sesama pejuang yang gugur di dalam gerbong.

"Setelah itu masih di penjara Kalisosok Surabaya," terangnya lagi.

Topik
Museum BrawijayaGerbong mautpejuang negeri

Berita Lainnya

Berita

Terbaru