Kisah Menyedihkan Simeurante, Budak Jawa di Aceh yang Dirantai oleh Belanda

Feb 26, 2021 12:49
Ilustrasi (Foto: Alif.ID)
Ilustrasi (Foto: Alif.ID)

INDONESIATIMES - Di era penjajahan Belanda, banyak kisah sejarah yang menarik untuk dibahas. Salah satunya yakni kisah menyedihkan yang dialami simeurante.  

Untuk membantu serangan ke Aceh pada saat itu, ratusan pekerja paksa atau budak dikirim dari Jawa. Belanda menyebut mereka beer atau beeren. Sementara orang Aceh menyebutnya simeurante atau orang-orang yang dirantai.

Melansir melalui tayangan video dichannel YouTube Indo Info, dikisahkan jika para budak Jawa itu didatangkan untuk membantu aksi militer mereka. Menyedihkannya, para budak baik laki-laki maupun perempuan dibawa ke Aceh dalam keadaan dirantai satu sama lain.  

Kisah hidup mereka yang miris dan menyayat hati, mengiringi sejarah perjalanan bangsa Indonesia ini.  Kala itu, pemerintah Kerajaan Belanda mendeklarasikan perang dengan Kerajaan Aceh pada hari Rabu, 26 Maret 1873.

Maklumat itu dibacakan dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di antara Pulau Sabang dan daratan Aceh. Pernyataan perang itu lantas dilanjutkan dengan aksi nyata sebulan kemudian yakni Senin, 6 April 1873. 

Mayor Jenderal JHR Kohler bersama pasukannya mendarat di Pante Ceureumen, Ulee Lheue. Sejak itulah perang Aceh pun dimulai.  

Selain membawa ribuan tentara asli Belanda bersama tentara bayaran dari Eropa, dan daerah lain, Belanda juga menyertakan lebih 1.000 budak dari Pulau Jawa. Di mana 220 orang diantaranya merupakan perempuan. Mereka inilah yang disebut dengan beer atau beeren. Sementara orang Aceh menyebut simeurante.  

Para budak ini harus melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, tak sedikit dari mereka yang meninggal karena keletihan dan kelaparan. Dari semua budak tersebut yang paling menderita adalah pekerja paksa yang bertugas mengangkut logistik.

Mereka harus membawa berbagai perbekalan militer di garis depan peperangan dan karenanya mereka sering jadi korban dari setiap pertempuran. Tapi tak seperti para prajurit, mayat para budak ini seringnya dibiarkan begitu saja.  

Kalaupun ada yang mengurus, kuburan para simeurante ini dibuat seadanya. Malah dalam pertempuran di hutan-hutan Aceh mayat mereka dibiarkan menjadi santapan binatang buas.

Dapat dikatakan di tiap sudut rimba Aceh terdapat kuburan budak-budak Jawa ini. Sementara para budak yang mendapat bagian pembangunan infrastruktur seperti pembangunan rel kereta api atau jalan bisa sedikit bernafas lega. Hal itu dikarenakan mereka terbebas dari risiko peperangan. Kendati demikian bahaya tetap mengancam nyawa mereka, entah karena penyakit, kelaparan atau terkena ranjau yang dipasang para pejuang Aceh.

Belanda tak pernah mengingkari keberadaan para budak asal pulau Jawa ini, karena dilibatkan dalam perang Aceh.  

Pasukan Belanda menyebut mereka dengan batalion merah sesuai dengan warna pakaian yang mereka pakai. Kadang disebut juga batalion ke-19 karena mereka berada di luar 18 batalion pasukan yang telah ada.  

Yang membedakan adalah mereka sama sekali tidak terlatih dan dipersenjatai. Koran terbitan Rotterdam Belanda De Nieuwe Ritterdamsche Courant pada edisi Januari 1883 menulis laporan tentang budak-budak Jawa yang dirantai ini.  

Koran tersebut memuji para budak tersebut sebagai orang-orang pembuat sejarah karena kontribusinya dalam membangun infrastruktur. Melakukan pengangkutan barang, ikut serta dalam ekspedisi ke daerah-daerah pedalaman yang keras.

Membangun Diva dan penginapan, baik bagi para prajurit maupun perwira Belanda di medan perang.

Untuk menjaga semangat kerja para budak ini, Belanda mengiming-iminginya dengan sejumlah imbalan. Mulai dari hadiah sebatang rokok, pakaian bekas, hingga pengurangan hukuman bahkan dibebaskan dari status budak bagi mereka yang bersedia menjalankan tugas-tugas berat. Bahkan bagi mereka yang mau melakukan tugas-tugas  yang melibatkan pertaruhan nyawa.

Salah satu contoh heroisme para budak ini adalah saat sekitar 150 pasukan Belanda dikepung pejuang Aceh di bivak wilayah Meureudu. Seorang budak asal Madura diminta untuk mengantarkan surat permintaan tambahan pasukan dari bivak Panteraja. Budak itu lantas berlari menerobos kepungan pejuang Aceh melewati hutan dan mengarungi 3 sungai.

Esok harinya ia baru sampai di Pantaraja dengan tubuh letih dan penuh goresan duri. Setelah menyerahkan surat kepada komandan marsosi di Panteraja tersebut, ia pingsan kelelahan.

Berkat petunjuk surat tersebut, Belanda segera mengirim 8 brigade marsose menuju Meureudu dan memukul mundur pejuang Aceh yang mengepung tempat tersebut. Sebagai imbalan atas keberhasilan membawa surat itu, budak tersebut diberi semangkuk coklat roti dan seiris daging.  

Sungguh imbalan yang sangat tidak setara dengan risiko yang ia lewati. Namun budak tersebut terhitung masih beruntung, karena lebih banyak dari teman-temannya yang tidak diketahui lagi keberadaannya, tak tercatat nasibnya, atau tak diketahui kuburnya. Guna mencegah pemberontakan para budak serta memudahkan pengawasan mereka, Belanda juga menerapkan politik adu domba di antara mereka.  

Beberapa orang dari budak-budak itu diberi posisi sebagai mandor atau pengawas dengan sedikit kelebihan fasilitas dan kelonggaran. Mereka diberi wewenang menghukum teman mereka sendiri dan mengawasi kinerja rekan-rekan mereka.  

Termasuk menangkap para budak yang curang, seperti membuang beban saat dalam perjalanan atau mencuri cadangan makanan. 

 

Topik
budak jawasimeurantezaman penjajahan Belandaperang acehkisah budak jawa

Berita Lainnya

Berita

Terbaru