Oey Tjeng Hien, Tokoh Muhammadiyah Tionghoa yang Berteman Dekat dengan Para Pahlawan

Feb 26, 2021 08:46
Oey Tjeng Hien (Foto: Liputan 6)
Oey Tjeng Hien (Foto: Liputan 6)

INDONESIATIMES - Tak disangka, salah satu tokoh Muhammadiyah ada yang datang dari keturunan Tionghoa. Ia adalah Oey Tjeng Hien alias Abdul Karim Oey.  

Melansir melalui akun Instagram @lensamu, Oey Tjeng Hien merupakan aktivis Muhammadiyah dan tokoh Tionghoa yang berpengaruh. Ia lahir di Padang, Sumatera Barat pada 6 Juni 1905 dan wafat pada tahun 1988.  

Ia mengenal Islam melalui Haji Rasul yang merupakan ayah dari Buya Hamka sekaligus pengurus Muhammadiyah di Minangkabau, Sumatera Barat. Oey Tjeng Hien akhirnya bersahabat dekat dengan Buya Hamka dan Soekarno.  

Di Sumatera, Oey sempat menjadi Konsul Muhammadiyah Sumatera (1944-1946). Ia juga pernah menjabat sebagai Majelis Tanwir Muhammadiyah (1952-1973) dan juga Ketua Dewan Ekonomi Muhammadiyah (1964-1973).  

Ia juga merupakan pendiri dari Tionghoa Hiapsianghew dan Tanah Air Sendiri (TAS). Kala itu, Oey mendapat wasiat dari Kiai Ibrahim, Hoofdbesturr Muhammadiyah untuk mendirikan Persatuan Islam Tionghoa (PITI) pada 14 April 1961. 

Di masa pendudukan Jepang, Oey menjadi ketua Penolong Korban Perang (Pekope) dan mengorganisasi dukungan masyarakat untuk melawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda ke-2 yang membuatnya diburu Belanda dan Jepang kala itu. Kiprah Oey tersebut tentu sangat berjasa besar dalam memperkenalkan Islam pada komunitas Tionghoa di Nusantara. 

Oey Tjeng Hien Memeluk Islam

Inlander sendiri atau penduduk pribumi identik dengan 2 hal, yakni suku Melayu dan Islam. Oleh orang Tionghoa, seringkali orang Islam dianggap sebagai orang Melayu, meski berasal dari suku berbeda. 

Stigma semacam ini yang kelak membuat Oey Tjeng Hien dijauhi oleh keluarganya saat memeluk Islam di usia antara 22-23 tahun.

“Ananda adalah orang yang mampu, orang keturunan baik-baik mengapa mau masuk suku Melayu, pakaian jorok dan serba buruk itu,” demikian tanya Oey Tiang Seng, ayah Oey Tjeng Hien sebagaimana ditulis Leo Suryadinata dalam buku Tokoh Tionghoa dan Identitas Indonesia (2010).

Oey Tjeng Hien masuk Islam sekitar tahun 1928 saat berhasil menjadi pedagang sukses dan menetap selama 2 tahun di Bintuhan. Setelah masuk Islam, namanya dikenal sebagai Abdul Karim Oey.

Nama tersebut, menurut penelurusan pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) Andi Ryanshah adalah pemberian dari Syaikh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) atau ayah dari sahabatnya kelak, yaitu Buya Hamka. Tak lama setelah mualaf, ia bergabung dengan Muhammadiyah.

Gambar
Foto: Boombox zine

Bersahabat dengan Soekarno

Memiliki perusahaan yang maju, Oey sering melakukan perjalanan bisnis ke pulau Jawa. Perjalanannya itu ia manfaatkan untuk membeli buku-buku tentang Islam dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional, salah satunya yakni Soekarno.

Antara tahun 1930-1931, Oey bertemu Soekarno pertama kali di Bandung saat Soekarno menjalani pengasingan di Penjara Sukamiskin. Pertemuan dan persahabatan dimulai ketika Soekarno dipindahkan dari pengasingannya dari Ende ke Bengkulu pada 1938.

Atas paksaan Soekarno yang saat itu aktif di Majelis Pengajaran Muhammadiyah Bengkulu, Oey akhirnya rela meninggalkan Bintuhan untuk tinggal di Bengkulu membesarkan Persyarikatan Muhammadiyah.

“Kau tidak boleh lepas lagi dari saya, kau cocok dengan saya, kita berdua harus saling berdampingan dan saling membantu,” demikian pernyataan Soekarno yang dicatat oleh Oey dalam otobiografinya (1982).

Lebih jauh, Soekarno menganggap Oey sebagai saudaranya. Oey memiliki andil besar dalam pernikahan antara putri Muhammadiyah, Fatmawati dengan Soekarno.

Haji Karim Oei, Mobil Fiat dan Bung Karno - Islami[dot]co
Foto: Islami.co

Pertemuan dengan Buya Hamka

Tak lama di Bengkulu, Oey lalu menjabat sebagai Konsul Muhammadiyah dan menjadi tokoh sentral penyebaran dakwah Muhammadiyah selama 14 tahun. Oey lantas bertemu dengan anak dari ulama yang memberinya nama Abdul Karim, yaitu Hamka.

“Telah 50 tahun kami berkenalan, sama faham, sama pendirian dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno,” demikian catat Hamka dalam brosur “Dakwah dan Asimilasi” (1979).

Amal Jihad Oey Tjeng Hien utamanya tercatat saat menjadi ketua Penolong Korban Perang (Pekope) di masa pendudukan Jepang, dan mengorganisasi dukungan masyarakat untuk melawan Belanda dalam Agresi Militer Belanda ke-2 yang membuatnya diburu dan berulangkali namun ia berhasil lolos dari maut.

Atas nasionalismenya itu, Oey mengisahkan bahwa dirinya juga sempat mengecap 8 bulan kurungan rumah setelah meyakinkan masyarakat untuk menolak gagasan Negara Federal pemerintah Belanda.

Menjadi tokoh nasional, Oey berusaha menggunakan posisinya untuk merobohkan sekat di dalam bangsa Indonesia, yaitu antara kelompok keturunan dan kelompok pribumi (Islam).

Topik
Muhammadiyah.Oey Tjeng HienAbdul Karim Oey

Berita Lainnya

Berita

Terbaru