Imlek Tahun Ini, Barongsai Tak Lagi Menari

Feb 12, 2021 14:37
Liem Giok Sam atau Santoso saat menata kepala barongsai miliknya (Joko Pramono for Jarim TIMES)
Liem Giok Sam atau Santoso saat menata kepala barongsai miliknya (Joko Pramono for Jarim TIMES)

TULUNGAGUNGTIMES - Kepala barongsai itu tergantung. Menempel di tembok. Debu tipis menyelimuti 8 kepala barongsai, menandakan sudah lama tak disentuh atau digunakan.

Begitu juga dengan peralatan pengiring berupa tonggak, simbal, kenong dan kendang atau tambur. Tergeletak di sudut rumah milik Liem Giok Sam (60) warga Kelurahan Kuthoanyar, Kecamatan Tulungagung Kota. 

Liem Giok Sam atau yang akrab disapa Santoso merupakan seniman barongsai di Tulungagung.  

Tak mudah untuk menuju rumah bercat putih milik Santoso, yang berada di tengah pemukiman padat penduduk. Kita harus menyusuri gang-gang sempit dengan lebar 1 meter. Setelah berupaya, wartawan akhirnya sampai di rumah Santoso.

Pria paruh baya ini menuturkan, sejak pandemi Covid-19, barongsai miliknya tak lagi lincah menari di atas tonggak dengan diiringi musik dari simbal dan tambur.

“Pertunjukan selama pandemi Covid-19 dilarang. Jadi ya enggak ada yang menanggap (order) pertunjukan barongsai,” ucap Santoso.

Di hari raya Imlek atau tahun baru China biasanya, barongsai miliknya tak pernah sepi order. Bahkan seminggu sebelum Imlek, sudah banyak order pertunjukan barongsai yang masuk. Dirinya sampai kewalahan memenuhi pesanan pertunjukan barongsai dari warga keturunan.

Berbeda dengan Imlek tahun ini, tak ada satupun order yang masuk padanya. Praktis, puluhan penari barongsai binaanya dari warga sekitar harus kehilangan penghasilan tambahan. Rerata penarinya masih berusia remaja.

Padahal, jika keadaan normal saat Imlek, 30-an penari barongsai binaanya bisa mengantongi Rp 1,5 - 3 juta per orang. Belum lagi angpao (saweran) dari tuan rumah.

“Kalau ditotal saat Imlek bisa mencapai seratusan juta rupiah,” ujar Santoso.

Selain Imlek, barongsai miliknya sering tampil pada perayaan kemerdekaan juga pesta-pesta milik warga. Kebanyakan justru warga Jawa yang mengorder barongsai miliknya, untuk pesta ulang tahun, pitonan (tedhak Siten atau tuju bulanan bayi), serta pernikahan. Sedang warga keturunan, biasanya saat merayakan pernikahan dan pembukaan tempat usaha.

“Satu jam dengan satu barongsai tarifnya Rp 1 juta. Kalau 2 barongsai Rp 2 juta,” jelas Santoso.

Tarif itu bisa bertambah jika tuan rumah menginginkan tambahan durasi waktu.

Warga keturunan mempunyai kepercayaan mengundang barongsai untuk mengusir roh-roh jahat. Selain Barongsai, Santoso juga menekuni seni musik dari Mandarin. Dari keahliannya itu, banyak warga keturunan yang berguru secara privat padanya. Alat musik yang dipelajarinya adalah “Erhu”, alat musik gesek mirip biola. Jari-jari tuanya lincah memetik dan menggesek erhu.

“Kalau privat, satu jam Rp 100 ribu,” ucap Santoso menyebutkan nominalnya saat ditanya terkait jasa privat Erhu.

Sama dengan barongsai, sejak pandemi berlangsung les privat Erhu juga terhenti. Alasan takut tertular Covid-19, menjadi alasan penghentian les privat ini. Kini, untuk menyambung hidupnya, Santoso mengandalkan warnet di rumahnya yang berada di tengah pemukiman padat.

Topik
Barongsaibarongsai tulungagungorder barongsaiseniman barongsaikisah seniman barongsaiberita imlek tulungagung
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru