Kisah Tragis Jean Pierre Adams, Pesepakbola yang Koma 38 Tahun

Feb 03, 2021 10:43
Jean Pierre Adams (kanan) saat masih mengenakan jersey Timnas Perancis (istimewa)
Jean Pierre Adams (kanan) saat masih mengenakan jersey Timnas Perancis (istimewa)

INDONESIATIMES - Menjalani koma selama beberapa hari sudah banyak terdengar di dunia medis. Namun bagaimana kalau menderita koma selama puluhan tahun? Hal itulah yang terjadi pada mantan pemain Timnas Perancis, Jean Pierre Adams.

Bagi yang belum mengenal Jean Pierre Adams, dia dulunya dikenal sebagai pesepakbola tangguh pada era tahun 1960 hingga 1980an. Dia adalah bek berperawakan tinggi besar dan cukup sulit dilewati oleh lawan. Bahkan penyerang kelas atas asal Brasil, Pele juga mengakui bahwa dia adalah pesepakbola yang paling berpengaruh sepanjang masa.

Adams lahir di Dakar, Senegal 10 Maret 1948, namun saat usianya memasuki 10 tahun ia dibawa oleh neneknya ke Perancis dan di adposi oleh pasutri di negara tersebut.

Keahlian Adams dalam dunia sepak bola jauh melampaui Kylian Mbappe, Paul Pogba dan lainnya yang menjadi bintang di Perancis. Adams telah melakukan sejak lama. Bahkan, manager Perancis kala itu Henry Michel, Adams dikatakan memiliki kekuatan alam dengan fisik kuat dan determinasi tinggi.

Bersama Les Blues-julukan Timnas Perancis, Adams telah melakoni 22 laga. Selain itu, Adams juga memperkuat tim sekelas Paris Saint-Germain dan Nice yang cukup terkenal di Perancis.

Sayangnya, generasi saat ini tidak bisa melihat sosok Adams berdiri dengan tegak, karena masih terbaring di tempat tidur dan belum juga terbangun dari komanya selama lebih dari 30 tahun lamanya.

Cerita tragisnya itu bermula kala ia menjalani perjalanan ke Lyon (salah satu kota di Perancis) untuk mendatangi sebuah pelatihan menjadi seorang manager. Nahas, di masa akhir Adams mengalami cedera parah. Di mana, tendon di kakinya rusak, hal itu memaksa ia mendatangi rumah sakit di Lyon.

Diceritakan, semula Adams akan melakukan pemeriksaan dengan metode X-ray, namun ketika menyusuri koridor rumah sakit dalam perjalanan pulang, dia bertemu dokter yang menangani klub Lyon. Keduanya lalu berbincang dan dokter tersebut menawarkan bantuan yakni melakukan operasi terkait cedera yang dideritanya.

Setelah setuju, Adams kemudian melakukan operasi pada Rabu (17/3/1982) silam. Bukan segera mendapatkan perawatan, Adams yang telah melakukan perjanjian di tanggal tersebut harus dihadapkan pada kenyataan bahwa rumah sakit yang akan digunakan sebagai tempat operasi melakukan aksi mogok.

Dalam hal ini, Adams sebenarnya bisa melakukan pembatalan operasi itu. Namun beberapa dokter menyarankan agar dia tetap melakukan tindakan itu.

Karena pemogokan terjadi maka ahli anestesi mengawasi 8 operasi sekaligus. Namun masalah timbul ketika peserta pelatihan yang membantu dokter menempatkan Adams ditempat tidur yang salah, dari situ petaka terjadi.

Adams yang akan operasi di tengah situasi runyam diberi obat bius dengan harapan bisa membuat mati rasa sebagai prosedur operasi selama beberapa jam. Tapi malang bagi Adams, kesalahan ahli anestesi membuat dia koma karena otaknya kekurangan oksigen. Dia tidak sadarkan diri meski masih bernafas. Dan satu-satunya orang yang setia menemani ketika itu adalah sang istri, Bernadette.

Bernadette sangat sedih lantaran melihat kondisi suaminya. Ia mengatakan, bahwa suaminya mengucap bahwa ia dalam kondisi baik-baik saja, tepat sebelum operasi dilakukan. Menurut Bernadette, Adams adalah sosok suami yang bertanggung jawab, periang, tegar dan lucu. Oleh karena itu, Bernadette sangat mencintai Adams sampai meminta keadilan atas apa yang terjadi pada suaminya.

Dari literasi yang dihimpun media ini, Bernadette harus menunggu selama kurang lebih 7 tahun saat sang hakim memutuskan dokter dan pembantunya bersalah.

Melihat suaminya yang seperti mayat hidup, Bernadette selalu menemani suaminya. Bahkan Bernadette juga merawat suaminya tersebut dengan kasih sayang. Setiap hari Bernadette memberi makan, mengganti pakaian hingga menggeser posisi Adams di tempat tidur agar tidak lecet.

Tak jarang, Bernadette juga harus kehilangan waktu istirahatnya, karena untuk memenuhi kebutuhan suaminya yang sejak 10 tahun ini dirawat di kediamannya.

Bernadette juga kerap mengajak bicara suaminya, karena ia yakin bahwa suaminya tersebut masih bisa mendengar. Ia menceritakan televisi yang sedang tayang, menceritakan buku yang ia baca dan memberitahukan anaknya yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Selain itu, ketika perayaan tahun baru atau hari raya Natal, keluarga juga tidak lupa memberikan hadiah kepada Adams.

“Kami membeli t-shirt atau jumper. Sebab setiap hari aku selalu mengganti pakaiannya di atas tempat tidur. Aku juga memberi berbagai hadiah agar kamarnya terlihat cantik dan nyaman,” kata Bernadette.

Saat ini Bernadette memang memenangkan gugatan agar dokter dan semua yang terlibat itu dihukum. Namun ia tidak mendapat permintaan maaf apapun dari rumah sakit. Hanya uang kompensasi saja yang ia dapatkan tanpa ada sisi kemanusiaan.

Beruntung, Adams yang dikenal baik ketika aktif bermain bola juga mendapat perhatian dari beberapa klub yang pernah dibelanya. Dukungan datang dari Nimes dan Paris Saint-Germain. Keduanya menawarkan 15 ribu Franc, sementara Federasi Sepak bola Perancis memberinya 6 ribu Franc per minggu.

Bernadette juga masih tidak sendirian, karena ia mendapat dukungan dari klub di Perancis dan Variety of France atau organisasi mantan pemain timnas Perancis. Mereka membiayai proses hukum yang dilalui oleh Bernadette untuk mendapatkan keadilan dari hakim. Ketika itu nama-nama seperti Platini, Zinedine Zidane dan Jean Pierre Papin ikut terlibat didalamnya.

Sampai saat ini meski melihat suaminya terbaring, Bernadette terus berharap agar suaminya bisa bangun dan tersenyum kembali seperti sedia kala.

 

Topik
kisah tragis pesepakbola duniajean pierre adamsmantan pemain timnas pranciskoma puluhan tahuncerita tragis pesepakbolaBerita Olahraga

Berita Lainnya

Berita

Terbaru