Wali Kota Malang Sutiaji (tengah), Kapolresta Malang Kota Kombes Leonardus Simarmata (kiri), dan Dandim 0833/Kota Malang Letkol Ferdian Primadona (kanan) usai melakukan operasi razia gabungan hari pertama PPKM, Senin (11/1/2021) malam. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes) 
Wali Kota Malang Sutiaji (tengah), Kapolresta Malang Kota Kombes Leonardus Simarmata (kiri), dan Dandim 0833/Kota Malang Letkol Ferdian Primadona (kanan) usai melakukan operasi razia gabungan hari pertama PPKM, Senin (11/1/2021) malam. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes) 

MALANGTIMES - Razia langsung dilakukan tim gabungan Kota Malang pada hari pertama pelaksanaan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat), Senin (11-1-2021) malam. Hasilnya, masyarakat maupun pedagang di beberapa kawasan Kota Malang dinilai sudah menaati pemberlakuan jam malam dengan tutup pukul 20.00 WIB. 

"Kesadaran masyarakat sudah cukup terbangun dan persentasenya memuaskan. Dengan batas waktu tutup pukul 20.00 WIB, sudah banyak yang tutup, terutama mal besar dan ritel modern," ungkap Wali Kota Malang Sutiaji saat di Mapolresta Malang Kota, Senin (11/1/2021) malam. 

Namun dari gelaran operasi razia gabungan untuk penegakan PPKM yang dimulai pukul 20.00 hingga berakhir pukul 23.00 WIB dengan rute  dari Pasar Bunul, Sawojajar, Sulfat, Ciliwung, Soekarno-Hatta hingga kawasan Ijen, ada tujuh kedai yang terpaksa harus diberikan BAP (berita acara pemeriksaan). 



"Tadi ada tujuh (kedai, red) yang terpaksa kami BAP. Selain argumentasinya tidak tahu, terus masih buka dengan tenang dan tidak ada penyesalan. Maka orang-orang ini perlu diberikan pembelajaran oleh Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) sehingga di-BAP," terang Sutiaji. 

Gelaran razia gabungan tersebut  diikuti jajaran pejabat tinggi di Kota Malang. Di antaranya Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata; Dandim 0833/Kota Malang Letkol (Arm) Ferdian Primadona; Kepala Satpol PP Kota Malang Priyadi; serta dari unsur Dinas Perhubungan Kota Malang, Dinas Kesehatan Kota Malang, dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Malang. 

Sutiaji menegaskan bahwa penegakan PPKM untuk pengendalian covid-19 di Kota Malang kuncinya terdapat pada aktivitas masyarakat. Meski diterapkan waktu tutup jam berapa pun, jika masyarakat masih beraktivitas dan melakukan perniagaan, PPKM tidak berjalan efektif. 

"Sesungguhnya, kalau masyarakat masih mobile, tidak menaati instruksi dari mendagri dan presiden, maka tidak akan berhasil beberapa kali PPKM dan PSBB (pembatasan sosial berskaala besar, red) kalau kesadaran dari masyarakat belum ada," tegasnya. 



Sementara itu, terkait banyaknya PKL (pedagang kaki lima) yang masih banyak menggelar perniagaan, Sutiaji mengatakan masih ditoleransi untuk hari pertama PPKM karena mayoritas PKL baru menggelar perniagaannya sekitar Magrib. 
 "PKL kami toleransi karena baru buka pukul 17.00 WIB atau habis Magrib. Tidak manusiawi kalau harus tutup pukul 20.00 WIB," ucapnya. 

Wali kota juga menyarankan warga sedia kopi dan mi karena pembatasan waktu berkegiatan pukul 20.00 WIB untuk toko modern, restoran, maupun warung kopi.  "Semuanya (resto, warung kopi, toko modern, red) sudah tutup. Beli mi saja. Monggo kalau (beli, red) di PKL, karena kan buka. Iya (harus dibungkus, red), karena saya lihat dibsana protokol kesehatannya kurang bagus," ujarnya. 

Terkait penyadaran protokol kesehatan, Sutiaji mengatakan muspika (musyawarah pimpinan kecamatan) juga sudah berkeliling untuk mengimbau kepada masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan.  "Saya minta nanti mobile lewat megaphone keliling ke masyarakat memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait covid-19 yang semakin hari semakin mengganas. Selain menghindari kerumunan, juga harus membatasi mobilisasi kita semua," tutupnya.