Darah Juang Musisi Ska Malang (1)

Skena Musik Ska Malang di Mata Zaman

Dec 27, 2020 09:43
Logo Ska Malang
Logo Ska Malang

MALANGTIMES - Kualitas musik dan musisi Kota Malang sangat diakui di belantika musik tanah air. Salah satu musik yang jarang dilirik oleh masyarakat Malang, tetapi sangat diakui oleh musisi luar kota yakni perkembangan skena musik Ska di Kota Malang. Skena musik yang pernah mengalami masa-masa kejayaan dan tentunya juga pernah mengalami masa keterpurukan.

Ska di diperkirakan telah masuk ke Indonesia pada tahun 1995-1996 bersamaan dengan masuknya dan mulai menjamurnya penikmat musik punk di Indonesia. Sejak tahun 1997 musik Ska mulai masuk ke Kota Malang dengan jalur khusus melalui gerakan-gerakan kreatif pemuda di zamannya.

Baca Juga : Kematian Glenn Fredly dan Didi Kempot Duduki Dua Teratas Pencarian Populer

 

Perkembangan musik Ska di Kota Malang sendiri terbagi menjadi empat gelombang sejak pertama masuknya di tahun 1997.

Gelombang pertama yakni pada saat awal mula Ska mulai masuk ke Kota Malang dan skena musik Ska mulai terbentuk di kalangan remaja. Ska seakan membuat ide-ide yang terimplementasikan dengan baik dalam sebuah gerakan pada skena musik Ska.

Haus akan pengetahuan terkait musik Ska, itulah ciri khas pemuda pada skena musik Ska pada saat itu. Salah satu tokoh dan pionir Ska di Kota Malang adalah Indra Binatang atau yang akrab disapa Indro yang terus menyebarkan virus Ska di kalangan pemuda kala itu dan terus mengkader orang untuk menjalankan skena musik Ska.

Siklus yang cepat terjadi dalam perkembangan musik Ska era awal. Banyak band Ska era awal bermunculan diantaranya MBDPH (Matahari Bersinar Di Pagi Hari), Skatoopid, Ska-Hectic, Spiky In Venus, Dorayaki, Roly Poly, Every Morning, Monkee-X, Mad Brothers, Javanese Bugs dan beberapa lainnya.

Menjamurnya virus musik Ska kala itu, disebabkan oleh beredarnya beberapa rilisan fisik dalam bentuk kaset pita bajakan yang didapatkan oleh Indro bergerilya ke Jakarta, Bandung dan Jogja.

Selain itu ledakan Ska di dunia dengan kemunculan Save Ferris seolah menjadi gelombang tsunami besar yang menghantam para pemuda Indonesia kala itu. Tak terkecuali pemuda Kota Malang yang juga terkena imbas dengan adanya ledakan Save Ferris serta Indro juga mengatakan pada era awal medio tahun 1997-1998 salah satu majalah mainstream yakni majalah HAI mengulas sekilas terkait musik Ska.

Akhirnya di Indonesia sendiri pada medio tahun 1999-2000 juga mengalami ledakan yang cukup besar pada era gelombang pertama. Hal itu terbukti banyak record major label kala itu dengan mengusung beberapa band Ska untuk menjadi ikon saat itu.

Diantaranya ada Tipe-X, Shaggydog, Artificial Life, Jun Fan Gung Foo, Skalie, Noin Bullet, Kindergarten, Washtafel, Gallery, Waiting Room serta beberapa kompilasi band Ska yang dikeluarkan oleh major label.

Ledakan itu pun ditangkap oleh para pemuda skena musik Ska Kota Malang dengan banyaknya gigs atau event pentas seni yang terus menjamur di kalangan remaja SMP (sekolah menengah pertama), SMA (sekolah menengah atas) dan anak kuliahan.

Memasuki tahun 2002-2003, perkembangan musik Ska di Kota Malang mulai menurun yang juga dibarengi dengan skena musik yang lain seperti punk, hardcore dan metal.

Hal itu terlihat dengan sepinya gigs dan tawaran manggung untuk band Ska kala itu. Namun, lagi-lagi karena haus akan pengetahuan dan tak pernah puas akan kondisi yang ada, para pemuda di skena musik Ska di Kota Malang terus bergerilya hingga memasuki medio tahun 2004-2009 memasuki gelombang kedua perkembangan musik Ska di Kota Malang.

Gelombang kedua ini merupakan fase transisi dan masa-masa perjuangan para pelaku skena musik Ska di Kota Malang. Salah satu penggerak skena musik Ska di Kota Malang yakni Agek Gebyar mengungkapkan, bahwa dirinya pernah membuat sebuah gigs yang tiketnya laku tidak sampai 20 tiket.

Tapi hal ini pun terus menggelorakan semangat perjuangan dalam pelaku skena musik Ska itu sendiri. Hal itu dibuktikan dengan bermunculannya band-band Ska pada era gelombang kedua, seperti Youngster City Rockers, Green Bacterie, Pitskankin dan beberapa lainnya.

Baca Juga : Musik Gamelan Eksis di Sela-Sela Kepungan Musik-Musik Modern

 

Puncaknya pada tahun 2009 Agek bersama Malang Ska membuat gigs bertajuk Ska Core, Devil And More.

Memasuki medio tahun 2010-2015, mulai banyak kembali band-band Ska bermunculan yang bisa disebut sebagai era gelombang ketiga. Sampai-sampai salah satu akun facebook bernama SKA Indonesia menuliskan terdapat 64 band Ska di Kota Malang. Sebuah era kembalinya masa kejayaan musik Ska di Kota Malang dan menjadikan musik Ska sebagai anthem remaja pada saat itu.

Band-band pun bermunculan, diantaranya Richcrackers, Veskaria, RGB Ska, Wacky, One Struggle, Jerry And The Hotdog, Skakster, Skarikatur, Rude D'Ska, Woody Woodpecker, Skallen Modric, Monkey Rude Ska, Monkey Brother dan masih banyak lagi.

Hal ini pula yang menyebabkan bermunculan komunitas-komunitas Ska di Malang yang terus menunjukkan eksistensinya dengan menggelar gigs.

Sebut saja Malang Ska dengan Malang Ska Festival, Contong Kampoeng Ska dengan DanceSka For Have Fun, Pasukan Rudeboyz dan Frieden Monkey dengan gigs Janjos. Selain itu juga beberapa band sempat turut serta dalam album kompilasi di level nasional yang semakin menunjukkna eksistensi skena musik Ska di level nasional. Gelombang ketiga merupakan masa kejayaan musik Ska Malang jilid kedua.

Memasuki medio tahun 2016-2020, band Ska Malang mulai kembali surut dan banyak band Ska secara drastis membubarkan band-nya. Meskipun di periode yang sama juga bermunculan band Ska tetapi tidak sebanyak pada periode sebelumnya.

Pada periode ini juga dapat disebut sebagai era gelombang keempat. Hanya ada beberapa band Ska yang mampu bertahan, salah satunya Youngster City Rockers yang bertandang ke Jakarta untuk tampil di acara Synchronize Festival, lalu meramaikan acara Radio Show TVOne di Malang hingga menggelar serangkaian tour ke Singapore dan Malaysia bersama The Full Pledge Munkees serta Plague Of Happiness.

Selain itu di gelombang keempat ini juga terdapat beberapa band Ska yang merubah konsep bermusiknya dan ada juga yang meleburkan diri membuat satu band Ska baru kembali. Diantaranya ada Alaska, SAS Skapunk, Bread Essence, Better Jump Kick, Old Friends Ska, Glorious Friends, hingga Slowright.

Terbaru, salah satu band Ska-Reggae Malang yakni Glorious Friends di tengah pandemi Covid-19 dengan tampil secara virtual di acara Asian Ska Festival 2020 dan Peru Ska Festival 2020.

Lantas, bagaimana skena musik Ska Kota Malang ke depannya? Adakah hal-hal lain dalam Ska yang juga menjadi gelombang di ruang-ruang publik lainnya?

Penasaran? Pantengin terus kanal berita MalangTIMES dan tunggu ulasan berseri mengenai perkembangan musik Ska di Malang dari setiap gelombang yang ada. Bakal ada juga cerita-cerita menarik, mulai dari tongkrongan, musik dan gaya berpakaian di pelaku skena musik Ska.

Topik
Darah Juang Musisi Ska Malangband Ska MalangSka Malangsejarah ska di malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru