Kabar Duka, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Ponpes Kedunglo Tutup Usia

Nov 23, 2020 13:42
Penurunan jenazah KH.Abdul Latif Madjid dari ambulans ke rumah duka.(eko arif s/Jatimtimes)
Penurunan jenazah KH.Abdul Latif Madjid dari ambulans ke rumah duka.(eko arif s/Jatimtimes)

MALANGTIMES - Pengasuh pengamal Salawat Wahidiyah Pondok Pesantren Kedunglo Bandar Lor, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, Kanjeng Romo KH.Abdul Latif Madjid telah tutup usia, Senin (23/11/2020).

Kepergian KH.Abdul Latif Majdid mengejutkan terutama bagi para pengamal Salawat Wahidiyah.Sebab imam besar Pengamal Salawat Wahidiyah tersebut, sebelumnya masih terlihat di acara pernikahan.

Baca Juga : PMI Jember Kehabisan APD dan Butuh Donatur, Sehari Antar 5 -6 Jenazah Covid-19

Informasi yang dihimpun, sebelum meninggal dunia, Kiai Abdul Latif sempat dilarikan ke Rumah Sakit Gambiran Kota Kediri. Hal itu terlihat dari adanya rombongan kendaraan pondok dan mobil jenazah yang meluncur dari rumah sakit menuju rumah duka. 

Belum diketahui penyakit penyebab meninggalnya almarhum.

"Beberapa hari terakhir sebenarnya tidak ada gejala penyakit yang berat. Saya hampir setiap pagi selalu dipanggil beliau. Kata dokter, ada akumulasi kurang pemanasan sebelum olahraga. Dokter sudah menyarankan agar pemanasan dulu sebelum berolahraga," kata Aminudin, Ketua Departemen Urusan Wilayah PP Kedunglo.

Aminudin menambahkan, semasa hidup almarhum pernah berpesan kepada putranya Agus Abdul Madjid Ali Fikri atau yang akrab disapa Gus Fikri, agar meneruskan cita-cita pondok pesantren.

"Kemarin pagi saya dipanggil kanjeng romo kai (KH Abdul Latif Madjid) untuk menyaksikan penunjukkan Agus Abdul Majid Al Fikri sebagai penerus. Bahkan beliau dawuh akan mentransfer kelebihan yang dimiliki romo kiai sekalipun sudah mati," ujarnya sambil menangis ketika memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan.

Almarhum juga sering berpesan kepada semua pengurus pondok, bahwa lembaga perjuangan wahidiyah adalah lembaga yang taslim kepada pemerintah. Tidak ada satupun aturan yang bertentangan atau melanggar di dalamnya.

Kepergian almarhum ditangisi ratusan santri maupun pengurus yang sejak pagi sudah menunggu kedatangan jenazah di sekitar pondok pesantren. Para santri tampak berdiri berjajar di pinggir jalan sambil melantunkan salawat Wahidiyah.

Isak tangis mendadak pecah, ketika mobil ambulans RSUD Gambiran membawa jenazah almarhum tiba ke area lokasi pondok. Jenazah cucu dari KH Mohammad Ma'roef RA, pendiri Pondok Pesantren Kedunglo ini dimakamkan di lokasi area pondok.

Baca Juga : Ekskavasi Situs Pendem Kota Batu Rampung, BPCB Jatim Temukan Koin dan Peripih

KH Abdul Latief Majid meninggal di usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan seorang isteri dan 4 anak. Putra-putranya adalah Agus Abdul Majid Ali Fikri, Ning Firdausul Ma'rifah, Agus Muhammad Mundir Tajul Wahidiyin, dan Agus Ahmad Muhammad Wahiduzzaman Al- Mustofa.

Salawat Wahidiyah pertama kali didirikan oleh almarhum KH Abdul Madjid Ma'roef (wafat 1989), yakni ayah KH Abdul Latif Madjid.

Selain pejuang salawat yang gigih, almarhum Abdul Madjid juga dikenal sebagai pejuang kemandirian ekonomi yang mumpuni. Sebut saja digelarnya mujahadah kubro salawat Wahidiyah yang selalu dihadiri ribuan pengamal salawat Wahidiyah. Acara rutin tersebut selalu berdampak positif bagi ekonomi warga sekitar pondok pesantren.

Sebagai pengasuh Ponpes Kedunglo, sosok Kiai Abdul Latif dikenal dekat dengan masyarakat. Almarhum juga sangat dihormati.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Kiai Abdul Latif Madjidberita dukaberita kota kediri

Berita Lainnya

Berita

Terbaru