Jimly Asshiddiqie (Foto: Bukamata)
Jimly Asshiddiqie (Foto: Bukamata)

MALANGTIMES - Sederet acara Imam Besar FPI Muhammad Rizieq Shihab yang selalu dikerumuni massa rupanya sukses menjadi sorotan beberapa pihak.  

Kali ini Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof Jimly Asshiddiqie rupanya turut memberikan komentar.  

Baca Juga : Ekskavasi Situs Pendem Kota Batu Rampung, BPCB Jatim Temukan Koin dan Peripih

Dilansir melalui wawancara eksklusif Detik.com, Jimly justru mengkritik sikap Majelis ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam lain yang cenderung diam terhadap sepak terjang Rizieq Shihab.  

Jlimy menilai seharusnya MUI dan ormas Ilsam tersebut bisa aktif mengingatkan Rizieq dan laskar FPI untuk tidak terus memperuncing masalah.

"Cara dakwah yang dilakukan Habib Rizieq ini kontraproduktif, sehingga harus diubah, apalagi di tengah kondisi pandemi. MUI dan ormas Islam lainnya seharusnya mengingatkan Habib Rizieq jangan memperuncing masalah," kata Jimly.

Diketahui, negara-negara di dunia berkembang saat ini tengah ketakutan terhadap Silam karena dicap radikal.  

Ditambah dengan gaya dakwah Habib Rizieq yang bisa ditafsirkan dan memperkuat hal itu. Sebagai salah satu pemimpin agama, Jimly melanjutkan jika ingin berdakwah lakukanlah dengan baik dan sejuk.  

Namun jika ingin berpolitik, sebaiknya Rizieq menyalurkannya melalui partai politik.  

"Atau bikin partai, kalau tidak, ya salurkan ke partai Islam yang ada," ujar Jimly. Sayangnya, lanjut Jimly hampir semua partai politik saat ini nyaris tak menjalankan fungsinya.  

"Semua parpol, khususnya yang berbasis massa Islam, itu seharusnya bicara. Jangan hanya menikmati jabatan atau justru menunggu jabatan yang lebih banyak dan lebih tinggi lagi," kata Jimly.

Lebih lanjut, Jimly berharap jika Presiden Joko Widodo bisa mengakhiri periode keduanya ini dengan khusnul khotimah, dengan baik.  

Baca Juga : Perbedaan Sikap 3 Ulama Terkait Kerumunan Massa, Rizieq Dikritik, 2 Lainnya Diapresiasi

Jimly juga mengatakan jika Jokowi harus merenungkan kembali pendekatan terkait Habib Rizieq dan kelompoknya.

Ia pun meminta agar pemerintah tidak menggunakan teknologi perang untuk melawan Rizieq. Hal itu terkait dengan langkah pimpinan TNI yang menggelar apel siaga di kesatuan-kesatuan pasukan khusus.

"Jangan bikin suasana tegang, kayak mau perang. Jangan anggap mereka yang tak suka pemerintah itu akan bisa menjatuhkan Presiden," kata Jimly.

Pemerintah, lanjut Jimly seharusnya menganggap polah Rizieq sebagai kenakalan. Oleh sebab itu, perlu dihadapi dengan lebih bijak dan diplomatis.  

Jimly menjelaskan jika teologi perang dihadapi dengan ideologi perang, kata Jimly, mungkin akan menghasilkan penyelesaian yang cepat dengan kemenangan negara. "Tapi selesainya itu tidak sejati, dan dalam jangka panjang bisa menimbulkan luka kebangsaan yang susah merawatnya," sambungnya.

Belum lagi dengan langkah hukum terhadap Rizieq, bila dipaksakan itu justru bisa memperuncing masalah.