Auto Nangis! Begini Nasib Tragis Pejuang di Hari Pahlawan

Nov 09, 2020 08:36
(Foto: YouTube JatimTIMES Network)
(Foto: YouTube JatimTIMES Network)

MALANGTIMES - Besok, Selasa (10/11/2020) Indonesia akan memperingati Hari Pahlawan. Di mana kita diharapkan mengenang jasa para pejuang-pejuang bangsa yang telah mengorbankan nyawa, harta, keluarga, dan semua yang dimilikinya.

Apa yang mereka dapat? Hanya penghormatan dan perayaan? Hanya karangan bunga bagi yang sudah tiada atau seremonial ke Taman Makam Pahlawan untuk diliput media atau gugur kewajiban bagi para pejabat?

Baca Juga : Bantu Report! Beredar Akun Instagram yang Isinya Menghina Rasulullah

 

Bagaimana cara menghormati para pejuang yang masih hidup? Banyak dari mereka yang kurang beruntung.

Bangsa yang mereka perjuangkan kini sudah merdeka. Bagi para pejuang, cita-cita sudah jadi kenyataan. Saat ini mereka, di masa tuanya berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi.

Lihatlah, bagaimana kisah perjuangan seorang pejuang berusia 91 tahun di Pasuruan yang hidupnya tragis di masa tuanya. Apakah negara membiarkan para pejuangnya?

Kali ini episode Ngedum Ojir bersama Direktur JatimTIMES Lazuardi Firdaus didampingi Manager IT sekaligus Manager PasuruanTIMES berada di Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.  

Keduanya mendapatkan informasi ada salah satu warga yang tidak mampu dan membutuhkan bantuan. Rupanya warga tersebut merupakan salah satu pejuang di Pasuruan bernama Misdi.  

Untuk menuju rumahnya, tim harus melewati perkebunan dan jalanan setapak di perkampungan. Saat tiba di lokasi, terlihat rumah Misdi yang kecil dan kurang layak. Rumah tersebut terbuat dari anyaman bambu dan sangat kecil.  

Firdaus lantas menanyakan usianya Misdi.  

"91," ujar Misdi.  

Meski usianya 91 tahun, Misdi masih terlihat sehat. Ia lantas mengatakan, jika memiliki 12 anak namun memilih untuk sendiri. Di rumah kecil itu, Misdi hidup sebatang kara.  

Misdi merupakan pria asal Blitar dan tinggal di Pasuruan sejak tahun 1973. Dulu, Misdi bekerja sebagai buruh tani, namun saat ini ia memilih tidak bekerja lantaran sudah tua tidak memiliki tenaga seperti dulu.  

"Terus kehidupan sehari-hari dapat dari mana?" tanya Firdaus.

“Ya dari anak-anak dari gaji saya,” jawab Misdi.  

Misdi lantas mengungkapkan, jika tanah yang ia banguni rumah itu bukanlah miliknya.  

"Ini tanahnya teman, numpang," cerita Misdi.

Misdi juga mengatakan, jika saat sakit, anak-anaknya masih bisa merawat lantaran mengontrak rumah bersama keluarganya di kawasan Gunung Sari. Namun, Misdi mengatakan, jika saat ini ia masih bekerja untuk membantu tetangga bersih-bersih dan membuat pagar. Penghasilan yang ia dapat pun tidak tentu.  

"Nggak tentu. Kadang Rp 50 ribu, dikasih teman kadang Rp 150 ribu," ujarnya.  

Misdi lantas menunjukkan uang yang ia miliki di dalam dompet senilai Rp 170 ribu.  

Memprihatinkannya, Misdi mengatakan, dengan segitu ia berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dalam waktu satu bulan.  

"Ini satu bulan ya cukup," katanya.

Firdaus lantas mengajak Misdi untuk melihat kondisi dapurnya. Tiba di dapur, Firdaus menemukan beberapa barang belanjaan Misdi, seperti lombok, minyak dan ikan asin. Hidup sebatang kara, Misdi harus memasak sendiri untuk makannya sehari-hari.  

Di balik kehidupannya yang memprihatinkan, ternyata ada cerita yang menarik dari Misdi.  

Baca Juga : Bukan Pemerintah Indonesia dan Saudi, Ternyata Ada Sosok Lain di Balik Kepulangan Rizieq Shihab

 

Misdi menceritakan jika ia sempat ikut berjuang di usianya yang ke-17.  

"Termasuk iku gabungan "Pemuda Berani Mati," ujarnya.  

Ia lantas menceritakan, jika zaman penjajahan Belanda, Letnan yang memimpinnya mati ditembak Belanda di proyek Karangkates. Kala itu, lanjutnya, ia bertahan di kawasan jalan kembar Karangkates. 

Lalu, Misdi mengatakan, jika salah satu anaknya ada yang bekerja sebagai TNI Angkatan Laut.  

Bapaknya pun merupakan mantan anggota Hermina yang meninggal di usia 135 tahun.  

"Ini sahabat beliau yang dulu berjuang untuk bangsa ini sekarang kondisinya seperti ini," ujar Firdaus sembari menahan air mata.  

Terharunya lagi, Misdi sudah berpesan kepada anak-anaknya jika kelak ia dipanggil oleh Allah SWT.  

"Saya pesan ke anak-anak semua kalau saya dipanggil sama Tuhan, saya suruh ngasih bendera Merah Putih," cerita Misdi.

Misdi juga mengatakan, jika teman-teman seperjuangan saat ini sudah meninggal dunia saat perang kala itu. Hingga akhirnya tiba waktunya Firdaus memberikan bantuan kepada Misdi.  

"Ini ada dua juta rupiah untuk Pak Misdi," kata Firdaus.  

Misdi pun menerimanya sambil menitikan air mata.  

"Terima kasih," ucap Misdi sambil memeluk Firdaus dan menangis.

Misdi lantas menceritakan, jika semalam ia bermimpi dipanggil sang ayah yang sudah meninggal dunia.  

"Jadi tadi malam itu saya mendengar nggak tidur di sini, saya dipanggil bapak saya yang duluan nggak ada. Saya sering dipanggil bapak," cerita Misdi.

Topik
pejuang terlupakanprogram ngedum ojirJatim Times NetworkJatim Times Grouppejuang asal pasuruan
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru