Lima Kelompok Pengeluaran Mengalami Inflasi di Kota Malang, Tertinggi Transportasi

Nov 02, 2020 20:33
Ilustrasi inflasi dan deflasi (istimewa)
Ilustrasi inflasi dan deflasi (istimewa)

MALANGTIMES - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mengaku sebenarnya ada lima kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi pada Oktober 2020, namun secara agregat Kota Malang masih mengalami deflasi pada bulan Oktober.

Lima kelompok yang mengalami inflasi di antaranya adalah kelompok transportasi sebesar 0,33 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen. Kemudian kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,02 persen, dan kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Baca Juga : UMP 2021 Tidak Naik, Pengusaha Berdalih Demi Keberlangsungan Bisnis

"Sementara itu yang stabil adalah kelompok penyedia makanan, dan minuman atau restoran, kelompok pakaian, dan alas kaki, serta kelompok pengeluaran pendidikan," kata kepala BPS Kota Malang, Sunaryo.

Sementara itu, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,42 persen memberikan andil sebesar 0,09 persen terhadap deflasi pada Oktober 2020. "Dari 11 kelompok pengeluaran, lima mengalami inflasi, tiga kelompok stabil, dan tiga kelompok lainnya mengalami deflasi. Namun, agregat menunjukkan deflasi sebesar 0,06 persen," imbuh Sunaryo.

Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, Kota Malang mengalami deflasi, yakni pada Agustus tercatat Kota Malang mengalami deflasi 0,06 persen, kemudian pada September deflasi 0,05 persen, dan kembali mengalami deflasi pada Oktober 2020.

Sunaryo menambahkan, selain kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, kelompok lain yang mendorong deflasi Kota Malang adalah kelompok pengeluaran perawatan pribadi, dan jasa lainnya sebesar 0,16 persen, dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,01 persen.

"Kemudian, kelompok lain yang mengalami deflasi adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar lainnya sebesar 0,03 persen, dengan andil 0,01 persen," ucapnya.

Secara rinci, komoditas yang mendorong deflasi di Kota Malang pada Oktober 2020 antara lain penurunan harga daging ayam ras sebesar 1,89 persen, emas perhiasan turun sebesar 1,38 persen, gula pasir 4,16 persen, dan telur ayam ras sebesar 1,79 persen.

Baca Juga : OJK Malang Punya PR Utama Tingkatkan Sisi Demand Masyarakat

Komoditas yang mengalami inflasi, di antaranya adalah kenaikan harga tiket angkutan udara yang naik sebesar 2.49 persen, cabai merah 41,71 persen, bawang merah 9,68 persen, cabai rawit 11,53 persen, tarif kendaraan roda dua online 4,71 persen, dan minyak goreng naik sebesar 0,53 persen.

"Banyak komoditas yang menunjukkan inflasi, namun, agregat Kota malang masih mengalami deflasi sebesar 0,06 persen. Yang berarti, bobot dari komoditas yang memberikan andil deflasi lebih besar," ujarnya.

Di sisi lain, inflasi tahun kalender atau kumulatif mulai Januari hingga Oktober 2020 di Kota Malang sebesar 0,77 persen, dan inflasi Year on Year (YoY) sebesar 1,22 persen. Secara YoY, inflasi Kota Malang pada 2020 merupakan yang terendah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. "Inflasi YoY, pada 2020 merupakan angka terendah dibandingkan 10 tahun terakhir," pungkasnya.

Topik
BPS kota malang Inflasi Kota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru