DAMRI (Istimewa).
DAMRI (Istimewa).

MALANGTIMES - Operasional transportasi pariwisata murah Bus DAMRI di Malang berhenti sementara waktu sejak Jumat (30/10/2020) kemarin. Penghentian sementara dilakukan karena bus yang melayani jalur wisata di Malang Raya diprotes sopir lain saat melayani penumpang. Bahkan, penumpang dengan tujuan berwisata juga dipaksa turun dari bus. 

General Manager DAMRI Malang Zuryani menyampaikan, penghentian sementara memang sengaja dilakukan. Karena pihaknya menilai butuh ada mediasi dengan organisasi angkutan umum berkaitan dengan operasional Bus DAMRI tersebut. 

Baca Juga : Viral Mobil Nyelonong Masuk ke Masjidil Haram, Lihat Videonya

"Memang ada perbedaan persepsi, dan kami terus berusaha untuk menyampaikan pengertian kepada masyarakat," katanya saat dihubungi MalangTIMES, Sabtu (31/10/2020).

Perempuan berhijab itu menyampaikan, penghentian sementara itu sempat dipertanyakan oleh masyarakat yang hendak menumpang. Salah satunya disampaikan melalui saluran layanan Call Center DAMRI. Masyarakat banyak yang bertanya alasan tak dioperasikannya bus pariwisata tersebut.

"Kemarin saat beroperasi bus dihentikan dan penumpang dipaksa turun. Ini sebenarnya juga sangat kami sayangkan. Karena itu mengganggu mobilitas masyarakat," terangnya.

Lebih jauh Zuryani menjelaskan jika sebelum DAMRI beroperasi di Malang Raya, pihaknya telah melakukan sosialisasi bersama Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur dan berbagai pihak terkait. Sosialisasi salah satunya juga dilakukan secara Online, selain bertemu langsung.

Sejak awal, menurutnya Bus DAMRI dioperasikan untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Malang Raya. Rute yang dibuat pun dengan tujuan beberapa destinasi wisata mulai dari Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. "Dan segmentasi kami sebenarnya juga berbeda. Karena ini untuk mendukung wisata nasional, juga untuk memudahkan masyarakat yang hendak berwisata. Apalagi memang banyak masyarakat yang terdampak secara finansial," katanya.

Selama mengangkut penumpang, menurutnya penumpang juga disuguhkan dengan beberapa titik Check Point. Titik tersebut sebelumnya juga telah dilaporkan kepada pemerintah pusat dan dikomunikasikan bersama pemerintah daerah masing-masing.

Titik Check Point tersebut dimaksudkan untuk memberi edukasi kepada penumpang mengenai lokasi yang memang dinilai memiliki sejarah. Salah satu Check Point itu adalah Masjid Turen, untuk rute Bus DAMRI dari Arjosari menuju Balekambang. "Tapi Check Point itu dikira untuk mengangkut dan menurunkan penumpang," katanya.

Zuryani pun menegaskan jika Check Point sama sekali bukan untuk menaikkan atau pun menurunkan penumpang. Melainkan untuk mengedukasi penumpang berkaitan dengan kawasan wisata terkait di Malang Raya.

Baca Juga : Lalu Lintas Kota Malang Ramai Lancar, Hari Pertama Libur Panjang Belum Ada Tanda Kepadatan

Adanya perbedaan pendapat itu menurutnya disikapi dengan akan dilakukannya proses mediasi. Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan pertemuan dengan pihak-pihak terkait yang merasa kurang nyaman dengan keberadaan Bus DAMRI. "Kami akan lakukan mediasi dan kami utamakan kepentingan masyarakat," jelasnya.

Operasional DAMRI di Malang Raya sendiri terbilang masih baru. Beberapa rute yang disediakan di antaranya adalah rute Batu menuju Bromo, dengan total ada empat armada bus. Kemudian dari Arjosari menuju Balekambang dan Sendang Biru total ada dua armada yang dioperasikan.

"Itu semua untuk kepentingan masyarakat yang hendak berwisata, dan jika dirata-rata total penumpang per harinya ada 15 orang. Karena kami menerapkan protokol kesehatan," jelasnya.

Terpisah, Ketua Organda Malang Rudy Soesamto menilai jika keberadaan DAMRI telah berdampak pada pendapatan angkutan umum di Malang Raya. Selain itu, selama ini Organda juga tidak pernah dilibatkan selama proses dan rencana pengoperasian bus pariwisata tersebut. "Adanya bus Damri pasti berdampak turunnya pendapatan angkot. Kami pun dari Organda tidak diajak bicara," terangnya.